MASJID bersejarah perpaduan Islam dan budaya daerah melahirkan masjid yang sarat makna. Indonesia tidak hanya kaya akan jumlah masjid, tetapi juga ragam arsitekturnya yang merefleksikan identitas budaya setempat.
Dari atap gonjong khas Minangkabau hingga tajug bertumpang ala Jawa, dari menara bercorak candi hingga sentuhan China yang kental, masjid-masjid di berbagai daerah memperlihatkan akulturasi antara Islam dan tradisi lokal.
Keunikan tersebut tampak pada Masjid Raya Sumatra Barat, Masjid Menara Kudus, Masjid Agung Demak, Masjid Agung Banten, Masjid Cheng Ho Surabaya, Masjid Djami Pekojan, hingga Masjid Gedhe Kauman.
Ketujuhnya menjadi bukti bahwa dakwah Islam di Nusantara tumbuh berdampingan dengan budaya lokal, melahirkan warisan arsitektur yang tidak hanya sakral, tetapi juga sarat makna sejarah dan kearifan tradisi.
Berikut tujuh masjid berarsitektur lokal khas Nusantara yang dihimpun dari berbagai sumber.
Masjid dengan Arsitektur Khas Nusantara
1. Masjid Raya Sumatra Barat
Masjid Raya Sumatra Barat menjadi salah satu destinasi wisata religi terkemuka bagi para pengunjung yang datang ke Kota Padang, Sumatra Barat.
Masjid ini memiliki atap berbentuk gonjong pada keempat sisinya yang mencerminkan rumah adat Minangkabau, yakni Rumah Gadang.
Dibangun di atas lahan seluas 12 hektare, pembangunan Masjid Raya Sumatra Barat menghabiskan anggaran sekitar Rp 300 miliar. Bangunan masjid berbentuk persegi dengan luas sekitar 4.430 meter persegi dan terdiri atas tiga lantai. Lantai dua difungsikan sebagai ruang sholat utama dengan kapasitas sekitar 4.000 jamaah.
Apabila lantai tiga turut digunakan, kapasitasnya dapat bertambah sekitar 2.000 orang. Sementara jika selasar dimanfaatkan, total daya tampung masjid ini bisa mencapai 15 ribu jamaah.
Masjid Raya Sumatra Barat memiliki 33 saf dan 17 pintu masuk. Bangunan utama masjid ini pertama kali digunakan pada 2014. Selain itu, masjid ini juga dilengkapi menara setinggi 85 meter yang menambah kemegahan sekaligus menjadi penanda visual kawasan tersebut.
2. Masjid Menara Kudus
Masjid Menara Kudus dikenal memiliki arsitektur khas karena memadukan unsur bangunan tradisional Jawa dengan pengaruh Hindu dan Islam. Ciri paling menonjol adalah menaranya yang tersusun dari bata merah dengan tinggi sekitar 17 meter, menyerupai struktur bangunan masa klasik Nusantara.
Masjid kuno ini didirikan oleh Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Shadiq. Berdasarkan keterangan pada batu prasasti berbahasa Arab di area masjid, pembangunan Masjid Kudus yang juga dikenal sebagai Masjid Al Aqsa tercatat pada 956 Hijriyah.
Secara geografis, masjid ini berada di Kecamatan Kauman, Kabupaten Kudus, sekitar 1,5 kilometer dari pusat Kota Kudus. Keberadaannya menjadi warisan sejarah penting sekaligus bukti perkembangan dakwah Islam di wilayah tersebut.
Berbagai kajian menyebutkan bentuk menara Masjid Kudus memiliki kemiripan dengan arsitektur candi Hindu-Buddha. Ragam hias dan detail ornamen yang digunakan pun dinilai sebagai kelanjutan tradisi seni bangunan masa sebelumnya. Karena itu, Masjid Menara Kudus kerap dipandang sebagai simbol akulturasi budaya serta wujud toleransi antara tradisi Hindu, Budha, dan Islam di Nusantara.
3. Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Bangunan bersejarah ini berada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Secara arsitektural, Masjid Agung Demak memiliki bentuk khas dan berbeda dari masjid-masjid di wilayah lain. Ciri utamanya tampak pada atap bertumpang tiga yang menjadi bagian kepala bangunan. Susunan atap ini menghadirkan tampilan fasad yang unik dan menegaskan identitasnya sebagai bangunan ibadah bergaya tradisional Jawa.
Model atap tersebut dikenal sebagai atap tajug yang berakar pada konsep kosmologi Jawa. Dalam pemahaman ini terdapat gagasan pajupat, yakni empat penjuru mata angin sebagai simbol kekuatan, dengan manusia sebagai pusat (pancer) yang bertugas menjaga keseimbangan dan harmoni.
Empat kekuatan itu dilambangkan melalui empat tiang utama atau saka guru yang menopang bangunan. Sementara pancer dimaknai sebagai upaya menyatukan dan menyeimbangkan unsur rasio, rasa, dan qalbu dalam diri manusia.
Secara visual, atap utama berbentuk piramida geometris bertingkat tiga yang semakin mengecil ke bagian puncak. Pada bangunan induk (dalem) digunakan model tajug, sedangkan bagian serambi (pendopo) memakai atap limasan. Meskipun demikian, keseluruhan kompleks tetap dikenal sebagai masjid bertipe tajug.
Sebagai bangunan bergaya arsitektur Jawa, Masjid Agung Demak memiliki tipologi yang jelas. Struktur bangunannya dapat dipahami dalam tiga bagian utama, yaitu kepala (atap), badan (ruang utama), dan kaki (pondasi bangunan), yang masing-masing memiliki elemen khas dan memperkuat karakter arsitekturnya, dikutip dari laman resmi Masjid Agung Demak.
4. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten dibangun pada 1566 Masehi pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, sultan pertama Banten yang berkuasa pada 1552–1570. Hingga kini, masjid tersebut tetap berdiri sebagai peninggalan penting Kesultanan Banten.
Seperti kebanyakan masjid tua di Nusantara, Masjid Agung Banten memiliki denah berbentuk persegi. Namun rancangan arsitekturnya tergolong istimewa karena memadukan unsur budaya Jawa, China, dan Eropa.
Tokoh utama perancangnya adalah Raden Sepat dari Majapahit. Selain itu, ada arsitek keturunan China bernama Tjek Ban Tjut serta arsitek asal Belanda, Hendrik Lucaz Cardeel. Atas kontribusinya, Tjek Ban Tjut memperoleh gelar Pangeran Adiguna, sementara Hendrik Lucaz Cardeel yang kemudian memeluk Islam dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.
Sentuhan arsitektur lokal karya Raden Sepat tampak pada empat saka guru yang menopang ruang inti masjid. Di dalamnya terdapat mimbar kuno dengan ukiran indah yang memperlihatkan pengaruh tradisi setempat.
Adapun rancangan Hendrik Lucaz Cardeel terwujud dalam menara setinggi sekitar 24 meter di sisi timur masjid. Menara ini berbentuk segi delapan dengan tangga berputar dan dua tingkat pada bagian puncaknya. Pada awalnya, bangunan tersebut difungsikan sebagai menara pengawas dan penanda bagi aktivitas di Pelabuhan Banten.
5. Masjid Cheng Ho Surabaya
Masjid Cheng Ho Surabaya berada di Jalan Gading, Surabaya. Masjid ini menampilkan gaya arsitektur oriental dengan detail artistik di berbagai sudut bangunan. Desainnya mencerminkan perpaduan budaya China, Jawa, dan Islam dengan kombinasi warna hijau, kuning, dan merah sebagai elemen dominan.
Bangunan masjid mengadopsi gaya arsitektur tradisional China yang dipadukan dengan unsur joglo khas Jawa. Nama masjid ini diambil dari tokoh pelaut Muslim asal China, Zheng He atau Laksamana Cheng Ho.
Rancangannya terinspirasi dari Masjid Niujie di Beijing, salah satu masjid tertua di China. Masjid Cheng Ho Surabaya diresmikan pada 13 Oktober 2002.
Pada bagian interior, nuansa China terasa melalui ornamen dekoratif, pagoda di gerbang masuk, serta kaligrafi ayat-ayat Alquran dalam huruf Arab pada bagian puncak. Di sisi kiri bangunan terdapat bedug yang lazim dijumpai pada masjid-masjid besar di Indonesia.
6. Masjid Djami Pekojan
Masjid Djami Pekojan merupakan bangunan bersejarah di Kota Semarang yang berada di Kampung Pekojan, Jalan Petolongan I, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah.
Waktu pasti pendiriannya tidak diketahui, namun diperkirakan sudah ada sejak masa Ki Ageng Pandan Arang I. Pada awalnya bangunan ini berupa mushola kecil berukuran sekitar 16 meter persegi, berbentuk persegi dan beratap tumpang dari kayu.
Seiring perkembangan Semarang sebagai kota perdagangan, bangunan tersebut diperluas dengan dukungan seorang saudagar asal Koja yang mewakafkan tanahnya. Perluasan kemungkinan terjadi pada akhir abad ke-19, sekitar 1887.
Masjid ini beberapa kali mengalami renovasi, antara lain pada 1892, 1975, dan 1986. Meski terdapat perubahan, ciri utama arsitektur tradisional Jawanya tetap dipertahankan.
Kini masjid berdiri di atas lahan sekitar 3.515 meter persegi dan berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Semarang.
7. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta
Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta dibangun tidak lama setelah Sri Sultan Hamengku Buwana I menyelesaikan pembangunan Keraton Yogyakarta. Masjid ini berfungsi sebagai pusat ibadah rakyat Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus unsur penting tata kota kerajaan.
Secara arsitektural, masjid ini mengusung gaya tradisional Jawa dengan atap tajug bertumpang tiga. Puncaknya berbentuk limas piramidal yang dilengkapi mustaka.
Ruang sholat utama (liwan) berukuran hampir 28 x 28 meter dan ditopang puluhan tiang kayu jati, termasuk empat saka guru sebagai tiang utama. Seluruh tiang berdiri di atas umpak batu tanpa hiasan. Pada salah satu umpak terdapat penanda tahun Jawa 1860 dan tahun Masehi 1939 yang berkaitan dengan peresmian penggantian lantai masjid, dikutip dari laman jogjacagar. (*)
Tags : ramadhan 2026, arsitektur masjid, masjid nusantara, akulturasi budaya, warisan sejarah, masjid raya sumatra barat, masjid menara kudus, masjid agung demak, masjid agung banten, masjid cheng ho surabaya, masjid gedhe kauman yogyakarta,