Sosial   2026/10/15 22:11 WIB

9 Ayat Pendek Alquran dalam Makanan yang Kita Konsumsi

9 Ayat Pendek Alquran dalam Makanan yang Kita Konsumsi

JAKARTA—Terdapat sejumlah ayat pendek yang panjangnya tidak lebih dari dua baris. Ayat-ayat tersebut memuat urutan yang mengagumkan tentang berbagai tumbuhan utama yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan ternaknya.

Dengan susunan yang sederhana, tepat, menyeluruh, dan mencakup berbagai aspek, ayat-ayat ini menunjukkan kemahakuasaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta, keindahan ciptaan-Nya, serta kesempurnaan penciptaan-Nya. Ayat-ayat tersebut juga menegaskan ketuhanan, pemeliharaan, dan keesaan-Nya yang mutlak atas seluruh makhluk.

Allah SWT berfirman:

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ ۝ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ۝ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا ۝ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا ۝ وَعِنَبًا وَقَضْبًا ۝ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا ۝ وَحَدَائِقَ غُلْبًا ۝ وَفَاكِهَةً وَأَبًّا ۝ مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” (QS. ‘Abasa [80]: 24–32).

Syekh Muhammad ash-Shalabi, dikutip dari laman resminya, Kamis (15/10/2026), ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan pentingnya makanan dalam kehidupan manusia.

Makanan merupakan sumber energi yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai aktivitas tubuh, membangun sel dan jaringan pada setiap tahap pertumbuhan, serta menggantikan sel dan jaringan yang rusak setelah tubuh mencapai pertumbuhan sempurna. Makanan juga diperlukan untuk menjaga suhu tubuh.

Dalam makanannya, manusia membutuhkan karbohidrat, protein, minyak, dan lemak. Allah SWT telah menyediakan tumbuh-tumbuhan bagi kita sebagai sumber berbagai karbohidrat yang dibutuhkan manusia dan hewan pemakan tumbuhan untuk menjalani kehidupannya.

Tumbuhan juga menghasilkan sejumlah protein, minyak, dan lemak melalui proses-proses menakjubkan yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam penciptaan-Nya.

//Surah ‘Abasa, melalui sembilan ayat pendek yang panjangnya tidak lebih dari dua baris, menyebutkan tumbuh-tumbuhan utama yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan ternaknya.

Penyebutan yang cermat mengenai kebutuhan pangan manusia dan hewan ternaknya dalam rangkaian kata yang singkat ini mengandung pelajaran yang mendalam.

Allah SWT juga memberikan kemampuan kepada hewan untuk mengubah tumbuhan yang dimakannya menjadi rangkaian protein yang panjang, yang dibutuhkan manusia dan sebagian hewan sebagai makanan. Proses tersebut berlangsung melalui berbagai mekanisme kompleks yang menjadi bukti keberadaan dan kekuasaan Sang Pencipta.

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan proses penyediaan makanan bagi manusia secara terperinci, tahap demi tahap. Karena itu, hendaklah manusia memperhatikan proses tersebut.

Adakah campur tangan manusia di dalamnya? Apakah manusia memiliki kuasa untuk mengaturnya?

Tangan yang menghadirkan manusia ke dunia dan menciptakan seluruh proses kehidupannya adalah tangan yang sama yang menyediakan makanannya dan mengatur seluruh proses penyediaannya.

Makanan adalah sesuatu yang paling dekat dengan manusia, paling melekat dalam kehidupannya, dan paling dibutuhkannya.

Karena itu, manusia diperintahkan untuk memperhatikan sesuatu yang tampak sederhana, diperlukan setiap hari, selalu tersedia, dan terus berulang dalam kehidupannya.

Padahal, makanan merupakan mukjizat, sebagaimana mukjizat penciptaan manusia dan setiap tahap pertumbuhannya. Semua itu berlangsung melalui kekuasaan Allah yang telah menciptakan manusia dengan sempurna. 

dan ath-thu‘m (الطُّعْم) berarti segala sesuatu yang dimakan. Kata ath-tha‘m (الطَّعْم) juga berarti kegiatan mengonsumsi makanan, sedangkan ath-thu‘mah (الطُّعْمَة) berarti makanan atau santapan.

Ungkapan tha‘ima (طَعِمَ) atau tha‘aman (طَعْمًا) digunakan untuk menyatakan seseorang telah makan atau mencicipi sesuatu.

Orang yang makan disebut thā‘im (طَاعِم). Sementara itu, kata istath‘amahu (اسْتَطْعَمَهُ) berarti meminta seseorang memberinya makanan, lalu orang tersebut memberikannya.

Kata kerja tha‘ima juga dapat digunakan untuk minuman. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT melalui perkataan Talut kepada pasukannya:

إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي

“Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka siapa yang meminum airnya, dia bukanlah pengikutku. Dan siapa yang tidak meminumnya, dia adalah pengikutku.” (QS Al-Baqarah [2]: 249).

Hal serupa juga terdapat dalam sabda Rasulullah SAW ketika menjelaskan keutamaan air Zamzam:

خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ، وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ

“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zamzam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit.” 

أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا

Turunnya air dalam bentuk hujan merupakan kenyataan yang diketahui setiap manusia di berbagai lingkungan, terlepas dari tingkat pengetahuan dan pengalaman mereka. Ini adalah kenyataan yang dapat dipahami oleh siapa saja.

Itulah tahap pertama dalam proses penyediaan makanan: “Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air.”

Tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa dirinya menciptakan air dalam bentuk apa pun, pada waktu kapan pun air itu terbentuk, ataupun mencurahkannya ke bumi agar proses penyediaan makanan dapat berlangsung.

ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا

Inilah tahap kedua setelah air dicurahkan.

Tahap ini dapat dipahami bahkan oleh manusia pada masa-masa awal peradaban. Ia menyaksikan air turun dari langit melalui kekuasaan yang bukan berasal dari dirinya dan berlangsung dengan pengaturan yang bukan berasal dari dirinya pula. Kemudian, ia melihat air meresap ke dalam tanah dan menembus lapisan-lapisannya.

Ia juga melihat tumbuhan membelah tanah dengan kekuasaan Sang Pencipta, tumbuh di permukaan bumi, lalu menjulang ke udara.

Semua itu merupakan mukjizat yang dapat disaksikan oleh siapa pun yang memperhatikan bagaimana tunas tumbuhan muncul dari dalam tanah.

Di balik peristiwa tersebut, manusia dapat merasakan bekerjanya kekuatan tersembunyi yang tersimpan dalam tunas yang begitu lembut.

فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا

Kata habb (حَبًّا) mencakup berbagai jenis biji-bijian, baik yang dikonsumsi manusia maupun yang menjadi makanan hewan.

وَعِنَبًا وَقَضْبًا

Anggur merupakan buah yang sudah dikenal. Adapun qadb (قَضْبًا) adalah segala jenis tumbuhan hijau yang dimakan dalam keadaan segar dan dipanen berulang kali, seperti berbagai jenis sayuran

Zaitun dan kurma merupakan tumbuhan yang sudah dikenal. Kata hadā’iq (حَدَائِقَ) merupakan bentuk jamak dari hadīqah (حَدِيقَة), yang berarti kebun atau taman yang ditanami pohon-pohon berbuah dan dikelilingi pagar atau tembok pelindung.

Kata ghulban (غُلْبًا) merupakan bentuk jamak dari ghalbā’, yang menggambarkan sesuatu yang besar, lebat, dan rimbun oleh pepohonan.

Adapun buah-buahan mencakup berbagai hasil kebun, seperti buah-buahan dari famili Moraceae, yang meliputi buah tin, buah ara, murbei, dan sejenisnya; famili Rosaceae, yang meliputi aprikot, persik, prem, ceri, dan almon dalam subfamili Prunoideae, serta apel, pir, loquat, dan quince dalam kelompok apel; famili Rutaceae, yang mencakup berbagai jenis buah sitrus; dan famili tumbuhan lainnya.

Sementara itu, kata abb (أَبًّا) berarti rumput dan padang penggembalaan, termasuk tumbuh-tumbuhan yang dimakan hewan ternak, baik dalam keadaan segar maupun kering.

Demikianlah proses penyediaan makanan. Dalam setiap tahapnya, manusia tidak memiliki peran yang dapat diklaim sebagai pencipta proses tersebut.

Allah SWT berfirman:

مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ

“(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.” 

Nikmat tersebut berlangsung hingga batas waktu yang telah Allah tetapkan bagi kehidupan. Setelah masa itu berakhir, akan datang peristiwa lain yang menyusul kenikmatan duniawi. Peristiwa itu patut direnungkan manusia sebelum benar-benar tiba.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ ۝ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ۝ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ ۝ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۝ وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ ۝ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan bergembira ria. Dan pada hari itu ada pula wajah-wajah yang tertutup debu (suram), tertutup oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.” (QS ‘Abasa [80]: 33–42).

Surah ‘Abasa telah menyebutkan, melalui sembilan ayat pendek yang panjangnya tidak lebih dari dua baris, berbagai tumbuhan utama yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan ternaknya.

Penyebutan secara cermat mengenai kebutuhan pangan manusia dan hewan ternaknya dalam rangkaian kata yang singkat ini menjadi bukti bahwa Alquran tidak mungkin merupakan hasil karya manusia.

Alqran adalah firman Allah, Sang Pencipta. Hal ini sekaligus menjadi bukti bagi hamba-Nya yang saleh, yang menerima kenabian dan risalah, yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Tags :  makanan, makanan dalam alquran, sayuran dalam alquran, makanan alquran,