SEJARAH - Almarhum Abdul Moenir merupakan pahlawan yang terlupakan selama 73 tahun silam (1941), yang kala itu saat berusia 23 tahun.
Abdul Moenir Ayahnda dari Hatta Munir, Ketua Umum Masyarakat Peduli Rakyat Berwawasan Nasional (MPRBerNas) sempat direkrut Heiho (tentara Jepang), pendidikan yang dijalani Abdul Moenir dan kawan-kawan di Bukit Tinggi dan kemudian dibawa ke Medan (Sumatera Utara). Selanjut hijrah lagi ke Singapura di bawa tentara Jepang menjadi pasukan Heiho.
Bersama dengan putera Sumatara Utara dan Sumatera Tengah hingga dibawa ke Singapura menggunakan angkutan laut, kemudian ke Irian Barat melalui jalur laut. Abdul Moenir sesampai di Irian Barat hanya dilengkapi persenjataan dan amunisi oleh Tentara Jepang (Heiho), dalam misi melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda.
Tahun 1942 Jepang dinyatakan kalah pada perang dunia ke II (Nagasaki dan Hirosima yang dibom atom oleh seketu), maka Jepang pun hengkang dan kembali kenegaranya.
Tentara Jepang (Heiho) yang tersisa sebagian besar sudah almarhum di hutan Irian Barat, tetapi Abdul Moenir dengan M Yunus (satu rombongan dari Sumatera Tengah) M Rojak asal Air Bangis (Sumatera Tengah) terdampar didalam hutan Irian Barat.
Ketiganya hanya melekat baju compang camping, dan kekurangan perbekalan senjata dan makanan, sebagian peluru (misiu) senjata sudah habis, yang tersisa bionet (sangkur). Sementara M Rojak terluka terkena pecahan bom, karena ada penyerangan kembali dari udara. Tinggal M Yunus dan Abdul Moenir yang mampu bertahan hidup di hutan Irian Barat.
“M Rojak sendiri waktu itu terselamatkan dan dibawa ke Polandia. Tinggalah M Yunus dan Abdul Moenir yang tidak tahu jalan keluar dari hutan Irian Barat itu,” sebut Hatta Munir anak putra Abdul Moenir yang mengenang sejarah ayah tercintanya.
“Selama tiga tahun setengah M Yunus dan Abdul Moenir untuk menyambung hidup memakan seadanya (menghalalkan segala hewani apa pun yang di temui) di dalam hutan belantara yang dipenuhi dengan binatang buas, bahkan binatang seperti babi, ular dan dedaunan turut dikomsumsi (dimakanan) mereka,” cerita Hatta Munir.
Didalam hutan yang lebat keduanya telah pasrah hidup mati, karena tidak tau jalan keluar hutan Irian Barat yang lebat dan dikelilingi masyarakat Irian Barat yang masih primitif dan binatang buas siap memangsa mereka berdua.
Abdul Moenir sempat berfalsafah bersama rekan seperjuangannya M Yunus, ‘saat mereka berdua berhadapan akan dimangsa binatang buas, mereka berucap, kalau mau memangsa mereka berucap, silahakan kami dimangsa keduanya, jangan ditinngalkan salah satu dari kami, kalupun diberikan hidup, beriaknlah kami hidup kedua-duanya’. sehingga bianatng buas yang siap memangsa tadi, meninggalkan mereka berdua.
Dalam perjalanan mencari jalan keluar dari hutan, Abdul Moenir dan M Yunus menemukan adanya aliran air berupa sungai, mereka lantas memiliki pemikiran kalau ada air yang mengalir ke hilir berarti ada muaranya, sehingga mereka berdua bersepakat mempersiapkan untuk membuat rakit dari kayu, merangkai kayu dan akar untuk dijadikan rakit sebagai alat untuk ditumpangi menuju hilir melalui aliran sungai dalam hutan belantara.
Lanjut cerita Hatta Munir, orang tuanya mengikuti aliran sungai, dalam perjalanan memakai rakit, kedua rekan satu perjuangan yang selama dalam mengendarai rakit berjalan berhari-hari, dalam perjalanan Abdul Moenir dan M Yunus mengkosumsi hewan yang hidup di air (ikan) untuk bertahan hidup.
Untuk menangkap ikan di air, kedua rekan seperjuangan menggunakan jari-jari tangan, yang di goyang-goyangkan di dalam air, dengan kuasa yang diatas, ikan yang memakan jari mereka, dapat di tangkap dan di jadikan makanan (dikonsumsi), untuk memenuhi kebutuhan hidup menuju muara sungai yang ditemukan.
Didalam perjalanan malam hari, sinar bulan purnama menyorot menerangi aliran sungai yang di lalui Abdul Moenir dan M Yunus, terlihat kelipan seperti lampu yang berkelip-kelip keduanya merasa gembira, meraka merasa sudah mendekati mendekati perkampungan.
Ternyata setelah didekati pancaran sinar yang dikira perkampunga, ternyata sekolompok buaya yang berda di sungai, yang mendekati rakit Abdul Moenir dan M Yunus.
Disinipula Ayahanda Munir dan rekan seperjuangannya M Yunus berfilsafah kembali, jika buaya inigin memangsa kami, mangsalah kami keduanya, jangan ditinggalkan salah satu. Dan akhirnya sekumpulan buaya meninggalkan mereka dan tidak jadi memangsa Abdul Moenir dan M Yunus.
Selama dalam perjalanan melalui sungai yang menggunakan rakit berhari-hari, Abdul Moenir dan M Yunus “Diperkirakan sejak tersesat di dalam hutan belantara, sampai muara sungai Digul, tanpa terasa sudah libih kurang tiga tahun setengan dan selamt5 dari ancama maut. Orang tua saya sampai pantai muara sungai Digul, dengan rambutnya yang panjang,” ulasnya.
Ayahandan kepada Hatta Munir yang telah menemukan beberapa gadis sedang mandi di pantai Digul bersama warga lainnya.
Abdul Moenir dan M Yunus lantas diselamatkan oleh warga, yang selamat dari hutan belantara pada tahun 1942 bulan November.
Abdul Moenir lalu direkrut menjadi pengamanan (yang dikenal sebagai Scurity) PT Stamvec (perusahaan perminyakan milik Belanda) di Irian Barat.
“M Yunus dan Abdul Moenir mendapat pekerjaan di perusahaan minyak. pada bulan November 1945 kedua teman seperjuangan, baru sadar bahwan Indonesia telah merdeka, pada hal kemerdekaan sudah dirasakan oleh rakyat Indonesia pada bulan Agustus,” sebut Munir.
Setelah keduanya bekerja sebagai sebagai Securty Stanvac di Sorong Dom ditahun 1948 M Yunus menikah, 6 bulan kemudian menyusul Abdul Moenir menikah dengan seorang gadis bernama Tutti putri Ambon, yang kemudian.
Awal perkawinan Abdul Moenir dan Titti membuahkan anak pertama yang bernama Rasunah, sedangkan teman seperjuangannya M Yunus menikah dengan Aminah membuahkan hasil dari pernikahan mereka seorang putri yang di beri nama Rosma.
Kemudian pada tahun 1949, Abdul Moenir mendapat perintah untuk pindah ke Makasar oleh pemerintah Republik Indonesia.
Sedangkan M Yunus menolak untuk pindah ke Makasar, M Yunus pindah ke Palembang Sumatra Selatan untuk meneruskan propesi sebagai wartawan.
Sesampainya di Makasar, Abdul Moenir ditugaskan menjadi Polisi Indonesia dengan jabatan Kepala Bagian Persenjataan, Pelengkapan dan Transportasi.
Tahun 1949 Abdul Moenir tinggal di Tangsi (asrama), kemudian meletus Agresi ke II, yang mana berpihak kepada pemerintahan Republik Indonesia, terkena swiping oleh Tentara Belanda dan Kenil (yang dikenal Tentara bayaran), yang pada saat itu, Abdul Monir berpihak ke pemerintahan Republik Indonesia.
Untuk menghindarkan dari pembantaian Tentara Belanda, maka semua yang ada di Tangsi (asrama) menyelamatkan diri kedalam hutan.
Sementara istri Abdul Moenir, Tuti tidak dapat di bawa lari kehutan, dikarenakan pada saat itu dalam keadaan mau melahirkan anak ke 2, kedatangan serdadu Belanda dan Kenil (tentara bayaran), melakukan sweping di setiap kamar Tangsi (asrama).
Dimana Tuti ditemukan tentara Belanda dan Kenil yang sedang mengalami sakit mau melahirkan anak ke 2, sangat kebetulan tentara Kenil dari suku Ambon yang menyinggahi Tuti, sehingga menjalin komunikasi bahasa daerah, sementara tentara Belanda berkomunikasi dengan Tutti menggunakan bahasa Belanda, kebetulan Tutti pasif berbahasa Belanda.
Setelah menjalin komunikasi dengan bahasa Belanda dan bahasa daerah dengan Kenil (tentara bayaran), maka Tutti diselamatkan dan dibawa ke Rumah Sakit diangkut menggunakan tank baja
Belanda, yang pada saat dalam perjalanan dalam keadaan perang, tidak menjelang tiba di rumah sakit, Tutti melahirkan di dalam tank baja milik tentara Belanda. Sesampai di Rumah Sakit Tuti mendapat tertolongkan dan mendaptkan perawatan.
Sementara Tuti tidak mengetahui suaminya dan anak pertamanya yang baru berumur 1 tahun keberadaannya.
Selama Tutti berada di rumah sakit, tidak tau kemana harus pulang, karena situasi perang, setelah situasi membaik, rumah sakit Makasar mendapatkan kunjungan Wakil Peresiden Moehammad Hatta dalam rangka meninjau korban akibat perang Agresi II, yang pada saat itu Wapres RI.
Pada saat kunjungan Wapres, Suster Rumah Sakit berinisiatif memberi nama anak kedua Tuti karena kebetulan belum diberikan nama Muhammad Hatta (yang sekarang dikenal Hatta Munir), prakarsa nama ini sesuai dengan adanya kunjungan Wapres RI Moehammad Hatta.
Tak berselang lama Abdul Moenir yang mencari keberadaan istrinya Tuti, akhirnya ditemui di rumah sakit Makasar.
Karena agresi II telah usai dan diakui kemerdekaan Republik Indonesia, tentara Belanda kembali kenegaranya, setelah situasi aman, Abdul Moenir bersama anak pertama Rasunah mencari keberadaan Tutti.
Akhirnya Abdul Moenir menemukan Tutti yang anak keduanya dalam keadaan selamat di rumah sakit, dan telah dinamai Mohammad Hatta.
Lalu Abdul Moenir boyong Tutti dan kedua anaknya kembali ketempat tinggal semula Tangsi (asrama Polisi) di-Makasar, kerena situasi sudah dirasa aman. Dan pada tahun Tahun 1952, Abdoel Moenir kembali ke Sumatera Tengah (Bukit Tinggi yang sekarang Sumatra Barat) tempat asalnya.
Sesampai di kampung halaman dan juga madih menjabat sebagai Polisi yang bertugas di Bukit Tinggi sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Tengah.
Kemudian pasangan Abdul Moenir dan Tutti pada tahun 1952 dikaruniani seorang anak perempuan dinamakan Murni, pada 1954 lahir kembali seorang anak perempuan yang diberi nama Dahlia, pada tahun 1956 kemudian dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Warni.
Kemudian Abdul Moenir ditugaskan kembali ke Rengat Kabupaten Indragiri Provinsi Sumatera Tengah dan kembali memiliki anak ke-5 Nurbaiti yang lahir pada tahun 1958, kemudian lahir kembali Nurlela pada tahun 1960, dan pada tahun 1964 lahir anak perempuan (anak bungsu) Heni Herawati.
Anak kedua dari pasangan Abdul Moenir dan Tutti, Muhammad Hatta anak nomor dua lelaki tunggal dibesarkan dikabupaten Indragiri yang mengikuti orang tuanya bertugas keliling sebagai Polisi. Dan berakhir tugas sebagai Polisi (MPP) wakil Kepala Distrik Kepolisian (Kapedes) di kecamatan Taluk Kuantan berpangkat Inspektur Tinggkat II dan berakhir masa tugas kemudian bermukim di Air Molek.
Pada tanggal 4 Maret 1969 Abdul Moenir berpulang ke Rahmahtullah dan dalam pelaksanaan pemakaman, Abdul Moenir dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tepatnya dibelakang Mesjid Mujahidin Air Molek.
Acara pemakaman dilaksanakan secara Kemeliter, untuk mengenang jasa sebagai pahlawan pejuang kemerdekaan, peti jenazah diselimuti dengan Bendera Merah Putih dan pada saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat, mendapatkan kehormatan salpo (tembakan keudara) layaknya seorang Militer, yang dilakukan oleh satu regu Polisi Pasukan Perintis. Sebagai tanda jasa Abdul Moenir sebagai pejuang..
Hatta Munir menyampaikan, ini membuktikan bagi anak-anaknya sebagai pejuang membela negara, anak-anak Almarhum menghormati adanya pemindahan makam orang tua mereka Abdul Moenir seperti pejuang yang lain-lainnya, untuk pemidahan makam ke makam pahlawan yang berada di Pekanbaru.
Keluarga menolak untuk pemindahan makan orang tuanya, alasannya, keberadaan Makam Pahlawan itu cukup jauh dari tempat tinggal anak-anaknya dan keluarga yang sekarang bermukim di Air Molek kacamatan Pasir Penyu Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau.
Muhammad Hatta anak kedua dari Almarhum Abdul Monir setelah dewasa mengganti namanya, menjadi Hatta Munir disebabkan dirinya khawatir tidak sesuai nama yang disandangnya yang berlatar belakang Muhammad, dengan prilaku masa bunjangan, yang dikenal bandel. Dari delapan bersaudara diakuinya (menyadari) terbilang bandel.
Semenjak di tinggalkan Almarhum Abdul Moenir, delapan anaknya merasa kesulitan menghadapi hidup sehari-hari dengan bersama Tutti, keluarga mengandalkan kehidupan yang serba susah, yang mengharapkan pensiunan orang tuanya, yang mana proses mendapatkan pensiun dengan pangkat Inspektur Dua kepengrusannya dirasa sulit, karena masa itu, prosesnya memakan waktu satu tahun delapan bulan mendapatkan pensiun, karena pengurusannya di daerah Bandung, “akhiri cerita putra Abdul Moenir yang sekarang berganti nama dari Muhammad Hatta menjadi Hatta Munir berusia 63 tahun. Kini tinggal bersama keluarga di Jl. Kapt Piere Tendean Kelurahan Tanjung Gading, Kecamatan Pasir penyu- Kabupaten Indragiri Hulu – Riau. (rilis)
Tags : Abdul Moenir, Pahlawan yang Terlupakan, MPR BerNas, Masyarakat Peduli Rakyat Berwawasan Nasional, Hatta Munir, Abdul Moenir Pernah Direkrut Pasukan Tentara Jepang,