Headline Nusantara   2026/02/17 15:1 WIB

Ambruknya Benteng Putri Hijau Ditengah Rimbunnya Perkebunan Sawit dan Pemukiman di Tanah Deli Tua

 Ambruknya Benteng Putri Hijau Ditengah Rimbunnya Perkebunan Sawit dan Pemukiman di Tanah Deli Tua
Pengelolaan Proyek Situs Benteng Putri Hijau terancam bubar paska Putusan PTUN memenangkan gugatan Heriza atas Bupati Deliserdang. Terlihat foto udara kawasan benteng alam Putri Hijau menuju lokasi pemandian Pancur Gading dan Delta Sungai yang diduga dulunya menjadi Dermaga Kerajaan Aru dan kini dikenal sebagai Taman Edukasi Buah Cakra. (dok ist)

NUSANTARA - Di Tanah Deli Tua Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, tersembunyi sebuah mahakarya militer kuno yang selama ini hanya dianggap sebagai latar belakang dongeng Putri Hijau.

Situs Benteng Putri Hijau ini sebenarnya adalah sebuah citadel (benteng pusat) seluas puluhan hektare yang membuktikan bahwa Sumatera Utara pernah memiliki pertahanan militer paling rumit di seluruh Pulau Sumatera pada abad ke-16.

Penelitian arkeologi modern menunjukkan bahwa benteng tanah di Deli Tua bukan sekadar gundukan tanah biasa.

Benteng ini menggunakan sistem vallum (tanggul) dan fossa (parit dalam) yang berlapis-lapis.

"Sistem pertahanan di Deli Tua memanfaatkan kontur alami sungai dan parit buatan sedalam 3 hingga 5 meter."

"Struktur tanah yang fleksibel namun padat ini secara teknis lebih unggul dalam meredam dentuman meriam perunggu dibandingkan tembok batu yang cenderung retak atau hancur saat dihantam proyektil berat."

Kekayaan kerajaan yang berpusat di Deli Tua ini bukan datang dari legenda, melainkan dari posisi strategisnya sebagai gerbang perdagangan lada.

Di lokasi situs, para peneliti menemukan banyak pecahan keramik dari Dinasti Ming (Tiongkok) dan Sawankhalok (Thailand).

Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya "Southeast Asia in the Age of Commerce" menjelaskan bahwa kemandirian ekonomi pedalaman Sumatera didorong oleh permintaan global:

"Kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur, seperti yang ada di Delitua, bukan hanya entitas lokal. Mereka adalah pemain dalam jaringan perdagangan maritim global yang menukar komoditas hutan dan lada dengan persenjataan canggih serta barang mewah dari daratan Asia."

Kehancuran benteng ini dalam penyerbuan Kerajaan Aceh bukan hanya masalah asmara, melainkan persaingan hegemoni di Selat Malaka.

Jatuhnya benteng Deli Tua menandai berakhirnya era kerajaan pedalaman yang mandiri di wilayah Deli sebelum akhirnya Belanda masuk beberapa abad kemudian.

Kini, ancaman terbesar bukan lagi meriam Aceh, melainkan ekskavasi liar dan pembangunan tanpa pengawasan.

Tanpa perlindungan serius, saksi bisu kejeniusan militer leluhur Sumatera Utara ini akan rata dengan tanah sebelum sempat diceritakan sepenuhnya kepada generasi mendatang. (*)

Tags : benteng putri hijau, deli tua, mahakarya militer, sejarah sumatera utara, arkeologi, pertahanan kuno, perdagangan global, keramik dinasti ming, kekuatan maritim, cagar budaya, sumut ,