Sosial   2026/01/07 10:47 WIB

Anak Rentan Kecanduan Gadget yang Perlu di Beri Pendidikan Berbasis Keagamaan

Anak Rentan Kecanduan Gadget yang Perlu di Beri Pendidikan Berbasis Keagamaan

PEKANBARU - Penggunaan handphone atau gadget secara berlebihan dapat memberi dampak buruk dan berpotensi mengganggu perkembangan mental, emosional, hingga perilaku sosial pada anak-anak.

"Anak perlu di beri pendidikan berbasis keagamaan."

"Banyak orang tua mengeluhkan perubahan perilaku anak akibat penggunaan gadget yang tidak terkontrol. Ini tidak bisa dianggap sepele, karena dampaknya sudah nyata di tengah masyarakat," kata Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Yasser Hamidi, Selasa (6/1).

Bahkan jika tidak diawasi dengan baik akan menimbulkan kekhawatiran. Banyak para orang tua sudah mengeluhkan kepada Anggota DPRD Kota Pekanbaru.

Yasser Hamidi menilai persoalan ini perlu menjadi perhatian bersama antara orang tua, pemerintah, dan lingkungan sosial.

Menurutnya, anak-anak saat ini sangat rentan terpengaruh konten digital yang tidak sesuai dengan usia dan nilai-nilai moral.

Berbagai penelitian menunjukkan penggunaan gadget secara berlebihan pada anak dapat berdampak serius.

Sejumlah studi menyebutkan, anak yang terlalu sering menggunakan gadget berisiko mengalami gangguan konsentrasi, kecanduan digital, penurunan kemampuan bersosialisasi, hingga perilaku agresif.

Selain itu, penelitian di bidang psikologi perkembangan juga mengungkapkan paparan konten kekerasan dan pornografi melalui gawai dapat memicu penyimpangan perilaku.

Dalam beberapa kasus ekstrem, fenomena ini dikaitkan dengan meningkatnya tindakan kriminal dan asusila yang melibatkan anak di bawah umur.

"Kasus-kasus seperti anak berani melawan bahkan membunuh orang tua, atau anak terjerumus dalam perilaku asusila, menjadi alarm keras bagi kita semua," tegas Yasser.

Sebagai solusi, politisi PKS ini mendorong Pemerintah Kota Pekanbaru untuk mengaktifkan kembali fungsi masjid dan rumah ibadah sebagai pusat pembinaan karakter dan perilaku anak.

Ia menilai kegiatan keagamaan seperti didikan subuh, pengajian anak, kegiatan remaja masjid, dan pembinaan moral dapat menjadi alternatif positif agar anak-anak tidak terlalu larut dengan gadget.

"Masjid dan rumah ibadah harus kembali menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar nilai agama, disiplin, dan akhlak. Kegiatan seperti didikan subuh atau pembinaan rutin sangat efektif untuk membentuk karakter anak sejak dini," jelasnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis keagamaan dan sosial ini juga mampu menanamkan empati, tanggung jawab, serta kontrol diri pada anak.

Meski demikian, Yasser menegaskan peran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam mendidik dan mengawasi anak. Orang tua harus menjadikan rumah sebagai tempat terbaik dan paling aman dalam membentuk karakter anak.

"Orang tua harus hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Pengawasan penggunaan gadget, pembatasan waktu layar, serta komunikasi yang hangat di dalam keluarga adalah bagian penting dari solusi," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan gadget sebagai "pengasuh instan" bagi anak, karena hal tersebut justru berpotensi merusak perkembangan mental dan moral anak dalam jangka panjang.

Yasser berharap upaya membentengi anak dari dampak negatif gadget dapat menjadi gerakan bersama, melibatkan pemerintah, tokoh agama, pendidik, dan keluarga.

"Jika semua pihak bersinergi, kita bisa melindungi generasi muda dari perilaku menyimpang dan menyiapkan anak-anak Pekanbaru menjadi generasi yang sehat, berakhlak, dan berdaya saing," tutupnya. (rp.elf/*)

Tags : gedget, anak rentan kecanduan gadget, pekanbaru, anak perlu diberi pendidikan agama, pendididkan berbasis keagamaan,