Kesehatan   2026/03/03 22:1 WIB

BBPOM dan Dinkes Pastikan Kemasan Rusak Tidak Dipajang-Dijual, Produk yang Beredar Tetap Aman

BBPOM dan Dinkes Pastikan Kemasan Rusak Tidak Dipajang-Dijual, Produk yang Beredar Tetap Aman

Produk dengan kemasan rusak juga tidak boleh dipajang atau dijual. 

KESEHATAN - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, pengawasan peredaran pangan di Kota Yogyakarta diintensifkan.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DIY (BBPOM DIY) bersama Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta turun langsung melakukan sidak ke sejumlah titik peredaran pangan, Kamis (26/2/2026).

Kepala Bidang SDM Dinkes Kota Yogyakarta, Eko Rahmadi, mengatakan intensifikasi dilakukan mengingat Kota Yogyakarta merupakan destinasi wisata yang ramai dikunjungi saat Ramadhan hingga Lebaran.

Langkah ini difokuskan untuk memastikan produk makanan, termasuk parsel Lebaran dan takjil Ramadhan memenuhi standar keamanan sebelum dikonsumsi masyarakat maupun wisatawan.

"Saat ini kita berada di bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Jogja menjadi tujuan wisata. Banyak saudara kita datang ke sini. Tentunya pelaku usaha harus mempersiapkan diri, termasuk dalam hal penyediaan makanan yang aman," katanya dijumpai di sela-sela sidak di salah satu swalayan Yogyakarta, Kamis (26/2).

Selain melakukan pengawasan, Dinkes juga memberikan edukasi kepada pengelola toko dan masyarakat terkait karakteristik produk pangan.

Pengelola swalayan diminta lebih teliti dalam memeriksa kemasan dan label produk. Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sumber informasi penting terkait keamanan dan kelayakan konsumsi.

Produk dengan kemasan rusak juga tidak boleh dipajang atau dijual. Pihak swalayan dan pusat perbelanjaan juga telah diingatkan untuk rutin melakukan pengecekan.

"Hindari kontaminasi agar pangan tetap aman. Dan masyarakat juga harus bisa mengenali tanda-tanda kerusakan pangan, misalnya dari aroma yang berubah, tekstur yang tidak normal, atau munculnya bintik jamur secara visual," ujarnya.

Dalam sidak tersebut, tim mengambil 14 hingga 15 sampel produk untuk diuji lebih lanjut di laboratorium.

Parameter awal dapat diketahui lebih cepat, sementara pengujian lengkap membutuhkan waktu hingga sekitar satu bulan tergantung jenis parameter yang diuji.

"Semua ini untuk menjamin keamanan pangan bagi masyarakat," ucap dia.

Ketua Tim Kerja Sampling BBPOM DIY, Nurleila menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari intensifikasi pengawasan menjelang Ramadan dan Idul Fitri, ketika kebutuhan pangan meningkat signifikan dan potensi peredaran produk tidak bermutu ikut bertambah.

"Pengawasan kami lakukan secara fisik maupun mutu. Kami melihat kemasan utuh atau tidak, ada penyok atau kerusakan, serta memastikan produk memiliki izin edar," kata Nurleila.

Pengawasan rutin sejatinya dilakukan setiap bulan melalui mekanisme post market, yakni setelah produk memiliki izin edar untuk memastikan tetap memenuhi aspek keamanan, mutu, dan kemanfaatan. Namun, jelang hari besar keagamaan, pengawasan diperluas tidak hanya di Kota Yogyakarta, tetapi juga di seluruh kabupaten/kota di DIY.

Selain pangan olahan dalam kemasan, BBPOM juga menyasar takjil siap saji yang marak dijual selama Ramadhan.

"Pengujian difokuskan pada kemungkinan kandungan bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna yang dilarang. Sejauh pengawasan hari ini dilakukan, belum ditemukan pelanggaran," ujarnya.

Sementara itu, Manajer Accounting Toko Progo, Inggrid Rahardi Kartini, memastikan produk termasuk parsel Lebaran yang dijual telah melalui seleksi ketat, terutama terkait masa kedaluwarsa produk.

"Kami cek untuk produk yang mendekati expired, masa kedaluwarsanya masih di bulan Juni dan bukan produk kalengan atau kemasan pabrik," ungkapnya. (*)

Tags : ramadhan 2026, lebaran 2026, sidak makanan lebaran,