Linkungan   2024/10/14 11:58 WIB

Bunga Bangkai Raksasa Mekar, ‘Baunya Seperti Tong Sampah yang Meluap’

Bunga Bangkai Raksasa Mekar, ‘Baunya Seperti Tong Sampah yang Meluap’

LINGKUNGAN - Butuh waktu satu dekade bagi bunga bangkai raksasa untuk mekar, mengeluarkan bau tak sedap, dan akhirnya menarik perhatian orang. Namun, hingga kini para ilmuwan masih berupaya menguak fase hidup tanaman tersebut.

Saya sedang berada di tengah barisan orang yang memadati jalan setapak di dalam rumah kaca yang hangat.

Kami berjalan melintasi sederet koleksi tumbuhan karnivora di bawah naungan tanaman rengganis yang menggantung, tapi kami semua di sini untuk melihat satu hal yang sama: titan arum alias bunga bangkai raksasa.

Tanaman besar dan bau ini sudah memenuhi imajinasi dan menginspirasi orang-orang selama beberapa abad. Namun, baru pada medio 1990-an para ilmuwan mulai meneliti anatomi aneh tanaman ini secara detail.

Saya tidak pernah melihat bunga bangkai raksasa sebelumnya.

Kini, saya tinggal membalikkan badan dan saya bisa melihat di rumah kaca selanjutnya: tanaman dengan bagian tengah berwarna kuning yang menjulang sekitar beberapa meter ke atas.

Bagian kuning itu muncul dari tengah bunga dengan kelopak hijau besar, tebal, dan keriput dengan ujung berwarna merah muda-ungu.

Saya mempersiapkan diri untuk mencium aromanya, yang seperti namanya: “bunga bangkai”.

Saya sedang berada di Kebun Raya Royal Edinburgh (RBGE). Setidaknya untuk beberapa hari ke depan, bunga titan arum ini akan menjadi bintang.

Tanaman berusia 22 tahun ini diberi julukan “New Reekie”, merujuk pada nama ibu kota lama Skotlandia, Auld Reekie.

Bunga bangkai itu sudah mekar selama dua hari. Masa mekarnya tidak akan lama lagi, dan saya bersama sekitar 2.000 pengunjung lainnya berusaha setidaknya melihat sekilas kejadian langka ini.

New Reekie tiba di Edinburgh setelah dikirim dari Hortus Botanicus Leiden di Belanda pada 2003 dalam bentuk umbi. Saat itu, New Reekie dalam masa dorman atau istirahat, sehingga tidak aktif tumbuh.

Saat tim peneliti terakhir kali menimbang umbi itu pada 2010, mereka harus meminjam satu set alat timbang yang biasa dipakai untuk menimbang bayi gajah di Kebun Binatang Edinburgh.

Beratnya saat itu mencapai 153,9 kilogram sehingga meraih predikat sebagai bunga titan arum terbesar sepanjang sejarah.

Paulina Maciejewska-Daruk, seorang ahli hortikultura di RBGE, sudah merawat New Reekie selama 13 tahun. Ia mengatakan bahwa New Reekie sebenarnya mudah tumbuh.

“Yang dibutuhkan hanya suhu tinggi, banyak air, penyubur tanaman yang banyak, dan bunga itu akan tumbuh,” ujar Maciejewska-Daruk, seperti dikutip BBC.

Namun, katanya, persiapan untuk memamerkan New Reekie kepada dunia lah yang rumit.

“Setelah bertahun-tahun, saya biasanya seperti, ‘Oh, berbunga lagi, saya harus mempersiapkan banyak hal.’ Jadi bukannya menjadi seperti orang tua yang bangga, saya malah seperti, ‘Apakah anak saya siap untuk dunia yang besar ini?’ Begitu lah perasaan saya,” tuturnya.

Di tempat asalnya, di Sumatra, Indonesia, beberapa pihak melihat bunga bangkai ini dengan penuh kekaguman, kata Yuzammi, seorang ahli tanaman di Pusat Riset untuk Biosistematika dan Evolusi (PRBE) di Indonesia.

Namun, beberapa pihak lain melihat bunga bangkai raksasa dengan penuh rasa khawatir karena kepercayaan pada mitos lama bahwa tanaman itu dapat menyebabkan kerusakan.

“Ada kepercayaan yang keliru bahwa tanaman ini dapat menelan manusia karena melihat pola tangkai daunnya yang berulir, yang tampak seperti ular,” kata Yuzammi.

Walau ditemukan di Indonesia, bunga titan arum banyak tumbuh di luar kepulauan Indonesia.

Bunga bangkai raksasa pertama kali diperkenalkan ke dunia ilmiah pada 1878 oleh Odoardo Beccari, seorang ahli tanaman dari Italia yang sedang berkunjung ke Sumatra.

Saat itu, ia membuat sketsa dan laporan mengenai bunga tersebut, lalu mengirimkannya ke Eropa. Beccari kemudian juga mengirimkan sampel bunga itu.

Titan arum langsung menjadi pusat perhatian orang-orang Victoria, terutama setelah 1889, ketika bunga itu pertama kali mekar di Taman Kew di Inggris.

Ketika mekar untuk kedua kalinya pada 1926, bunga itu menarik perhatian lebih banyak orang, sampai-sampai polisi harus diterjunkan untuk mengamankan situasi.

Sejak saat itu, bunga bangkai raksasa tersebar di berbagai kebun raya di seluruh penjuru dunia. Bunga itu selalu menjadi tajuk pemberitaan setiap mekar, yang baru terjadi 21 kali hingga 1989.

Apa yang sebenarnya membuat bunga ini menarik perhatian dunia?

Pertama, momen bunga bangkai raksasa mekar terbilang jarang. Butuh waktu sekitar 11-15 tahun bagi bunga itu untuk mekar karena terlalu banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi strukturnya yang besar, kata Yuzammi.

Ukuran titan arum yang besar sendiri merupakan hal unik di dunia tumbuhan. Riset menunjukkan bahwa tanaman raksasa pada umumnya mengalami penyerbukan oleh kumbang atau lalat bangkai.

Bunga titan arum diduga bisa menarik perhatian kumbang karena tanaman tersebut dapat meniru panas dan ukuran bangkai hewan besar.

Namun, karena ukurannya yang besar, tanaman itu harus melewati sejumlah fase hidup sebelum punya energi yang cukup untuk mekar.

Pada tanaman yang muda, fase hidupnya berputar pada penumbuhan daun, kemudian masuk periode dorman. Dalam kedua fase ini, bunganya belum mekar.

Di tahap penumbuhan daun, tanaman ini mengumpulkan energi, sementara “umbi”-nya masih di bawah tanah. Struktur titan arum yang ada di atas tanah terlihat seperti pohon, padahal ternyata itu hanya daun raksasanya.

Masuk ke fase dorman, umbinya masih berada di bawah tanah. Selama "keadaan istirahat" itu, tanamannya hidup dari cadangan energi, ucap Yuzammi.

Ketika energi yang terhimpun akhirnya cukup untuk membuat tanaman itu berbunga, wujudnya juga berubah.

“Bunga yang menarik perhatian luas publik itu faktanya bukan bunga yang sesungguhnya,” ucap Yuzammi.

“Komponen yang penuh warna itu bukan kelopak bunga, tapi bagian untuk menarik perhatian serangga agar terjadi penyerbukan. Bagian itu berfungsi sebagai struktur pelindung selama proses fertilisasi.”

Struktur yang terlihat seperti bunga besar itu disebut “seludang”.

Sementara itu, bunga yang asli sebenarnya ukurannya kecil, dan bisa dilihat di balik bagian batang kuning atau seludangnya.

Jika seludangnya dibelah, akan tampak bunga perempuannya terletak di atas, sementara yang pria berada di bawahnya.

Artinya, titan arum sebenarnya bukan bunga terbesar di dunia, meski struktur tanamannya memang yang terbesar.

New Reekie sendiri akhirnya mekar untuk pertama kalinya pada 2015, ketika usianya sudah 13 tahun. Setelah itu, New Reekie mekar setiap 2-3 tahun (saya berkunjung pada masa mekar kelima).

Seiring waktu, kepedulian para ahli hortikultura membuat dunia lebih tahu tentang tanaman ini.

“Kali ini, saya dan rekan saya dapat memprediksi secara spesifik hari apa bunganya akan mekar,” kata Maciejewska-Daruk.

“Tentu, kami tidak pernah 100% yakin, tapi kali ini prediksi kami tepat.”

Selain keunikan strukturnya, bunga titan arum juga terkenal akan baunya. Ketika mekar, tangkai kuning bunga bangkai itu mengeluarkan bau yang sangat kuat dan menusuk.

Sayangnya, kunjungan saya untuk melihat New Reekie terlalu terlambat untuk dapat mencium bau itu. Namun, masih tetap ada jejak aroma yang tertinggal.

“Sangat bau. Beda orang, bisa beda persepsi tentang baunya, seperti ikan busuk, atau kaus kaki yang sangat bau. Bagi saya, baunya seperti tong sampah yang meluap,” kata Maciejewska-Daruk.

Ada pula yang menyebut baunya seperti urine, keju tengik, atau kotoran. Jane Hill, seorang profesor kimia dan biologi di University of British Columbia di Kanada, menganggap baunya tidak seperti bangkai hewan biasa.

“Bagi saya, baunya menyengat, tapi lebih seperti tikus yang mati dan kering,” ucapnya.

Dalam sebuah studi pada 2023, Hill dan para kerabatnya menganalisis molekul di balik aroma titan arum itu. Mereka melakukan analisis dengan meneliti bunga perempuan dan bunga prianya.

Mereka menggunakan peralatan yang sangat sensitif. Biasanya, mereka memakai alat itu untuk mencari respons biologis penyakit dalam napas manusia.

Selama masa pengumpulan sampel, Hill menyadari bahwa tanaman itu mengeluarkan molekul yang menimbulkan bau. Molekul tersebut keluar saat tanaman itu berdenyut selama beberapa detik.

“Studi kami menemukan 32 molekul baru dan menunjukkan bahwa bunga perempuan dan laki-lakinya memancarkan tipe senyawa [yang menimbulkan bau] yang berbeda, tapi terkadang juga sama,” tutur Hill.

Bau-bau tidak sedap ini, kata Hill, sebenarnya merupakan trik agar serangga mendarat di atas permukaan bunga yang mereka kira daging busuk.

Menurut Hill, bau berbeda yang diproduksi bunga ini dapat menarik perhatian serangga yang berbeda pula.

“Bagaimana caranya satu tanaman tahu cara untuk memproduksi bau yang sangat tidak sedap untuk bereproduksi?” katanya.

Yuzammi mengatakan bahwa bau tak sedap itu sangat kencang pada malam hari, ketika bunga tersebut masuk ke masa pendewasaan. Di masa itu pula serangga memang paling aktif.

Berdasarkan riset Yuzammi, bau tak sedap ini juga menarik perhatian serangga lain, seperti kumbang, kecoak, hingga lalat. Lebah tanpa sengat juga pernah terlihat hinggap di bunga bangkai raksasa di alam liar.

Sejumlah serangga juga dilaporkan kerap menggunakan bunga bangkai raksasa sebagai tempat untuk mencari jodoh.

Meski demikian, spesies mana yang benar-benar menyebabkan penyerbukan bunga titan arum masih menjadi misteri.

Tak hanya lewat bau, tanaman ini juga ternyata punya trik unik lain untuk menarik perhatian serangga, yaitu memancarkan panas.

“Panas itu membantu aromanya keluar. Panasnya membantu menarik perhatian serangga,” ujar Peter Wilkie, seorang ahli tanaman dan taksonomi di RBGE.

“Suhunya memang harus cukup panas, mengingat ini adalah tanaman tropis dengan temperatur cukup tinggi, dan sangat lembap.”

Riset menunjukkan panas yang dikeluarkan tanaman ini bisa mencapai 36 derajat Celsius, mirip suhu tubuh manusia.

Bunga titan arum juga kadang berdenyut, seirama dengan pengeluaran baunya. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa bagian warna ungu dalam titan arum juga membuat tanaman itu terlihat seperti daging busuk.

Walau demikian, Maciejewska-Daruk menegaskan bahwa titan arum bukan tanaman karnivora atau pemakan hewan. Menurutnya, bunga bangkai hanya menarik perhatian serangga agar dapat terjadi penyerbukan.

“Setiap kali bunga ini mekar, saya terkejut melihat banyak orang sangat yakin bahwa tanaman ini memakan, membunuh serangga,” katanya.

Bagaimana pun, keunikan bunga bangkai membuat tanaman itu memiliki reputasi yang tak dimiliki kebanyakan tumbuhan lain.

Namun, ketika tanaman ini populer di taman-taman di berbagai penjuru dunia, keadaan titan arum di negara asalnya, Indonesia, justru tidak baik.

Hingga 2015, titan arum belum melalui proses asesmen Red List dari Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

“Red list dari IUCN merupakan standar emas untuk menentukan seberapa terancam suatu spesies. Jadi, spesies ikonis ini belum mendapatkan asesmen,” ucap Wilkie.

Ia akhirnya bekerja sama dengan Yuzammi dan ahli hortikultura dari RBGE, Sadie Barber, untuk melakukan asesmen itu.

Diterbitkan pada 2018, asesmen mereka menunjukkan bunga bangkai sebagai spesies yang terancam punah. Menurut asesmen itu, populasi bunga bangkai di Sumatra berkurang 50% dalam kurun 90-150 tahun.

Kini, menurut asesmen itu, hanya ada kurang dari 1.000 bunga bangkai dewasa di alam liar.

Menurut Yuzamma, penurunan jumlah ini terjadi akibat penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, juga bencana alam.

Selain itu, kata Yuzamma, ada pula mitos lokal bahwa tanaman itu bisa menelan manusia.

Kegiatan mengoleksi bunga bangkai secara ilegal untuk keperluan pengobatan alternatif juga membuat tanaman itu terancam punah, katanya.

Namun, berkat upaya penyelamatan yang dilakukan timnya, kata Wilkie, semakin banyak persebaran bunga bangkai di Sumatra.

Kini, tanaman ini juga punya kecenderungan tumbuh di area-area terbuka, seperti jalur penebangan, tidak hanya di hutan yang tak terjamah.

Titan arum ini juga sekarang dilindungi hukum Indonesia, kata Yuzammi.

Wilkie mengatakan bahwa saat ini, para ilmuwan Indonesia juga sedang mencari keanekaragaman genetik bunga bangkai raksasa.

Namun, sejumlah ilmuwan merilis urutan genom lengkap bunga titan arum untuk pertama kaliunya pada 2022, yang isinya memicu kekhawatiran tidak ada keanekaragaman genetik titan arum.

Dari hasil riset itu, muncul dugaan bahwa banyak, atau bahkan semua tanaman bunga bangkai di kebun raya yang ada di dunia sebenarnya saling berkaitan.

“Ada kemungkinan besar bahwa semua tanaman itu merupakan keturunan dari tanaman yang sama,” kata Maciejewska-Daruk.

Para ilmuwan kini menggunakan metode pengembangbiakan hewan untuk melestarikan titan arum. Ambil contoh bunga bangkai yang ada di Edinburgh.

Saat masa mekar pada 2019, bunga itu langsung dibuahi dengan serbuk sari yang diambil langsung dari bunga bangkai lain yang sedang berbunga di Cornwall, Inggris.

Buah titan arum langsung muncul sekitar sembilan bulan setelah pembuahan tersebut. Masing-masing buah memiliki dua biji.

Ketika tersebar di alam bebas, biji itu bisa dimakan oleh burung atau binatang lainnya sehingga dapat tersebar.

Namun, proses memproduksi buah sangat melelahkan bagi umbi tanaman titan arum, menurut Maciejewska-Daruk.

“Jadi, selalu ada risiko umbinya mati setelah memproduksi buah,” katanya.

Saat ini, rumah kaca di RBGE sendiri dipenuhi keturunan New Reekie dengan berbagai ukuran. Namun, kali ini keturunan itu tidak langsung dibuahi. Ketika saya datang, keturunan itu tidak terlihat begitu kuat.

Di kunjungan pertama saya, satu tanaman keturunan itu terkulai ke satu sisi. Ketika saya berkunjung lagi tiga pekan kemudian, semua sudah berubah menjadi tumpukan tanaman kuning kecokelatan yang membusuk.

Saat Maciejewska-Daruk menggali tanah di bawahnya, tanamannya memang sudah terpisah dari umbinya. Bunga itu pun kembali ke masa dorman.

Mungkin butuh waktu beberapa tahun lagi bagi saya untuk melihat bunga bangkai raksasa yang mekar.

“Setiap kali kami melihatnya, kami menelitinya, kami mengoleksinya, kami belajar sedikit demi sedikit bagaimana tanaman ini bekerja,” ucap Wilkie.

“Semua itu akan membantu kami untuk melestarikan tanaman ini". (*)

Tags : Biologi, Indonesia, Lingkungan, Alam, Sains, Pelestarian,