Bisnis   2026/04/09 20:36 WIB

Fuso Sediakan Berbagai Kendaraan Niaga untuk Kebutuhan Distribusi Berpendingin

Fuso Sediakan Berbagai Kendaraan Niaga untuk Kebutuhan Distribusi Berpendingin

JAKARTA - Industri rantai pendingin atau cold chain di Indonesia dinilai memiliki prospek yang sangat besar seiring perubahan pola konsumsi masyarakat dan berkembangnya sektor logistik modern.

Hal ini mengemuka dalam sebuah talkshow yang menghadirkan Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan RI M Risal Wasal, Chief Innovation Officer PT Trimitra Trans Persada Tbk (Gerry Ardian), dan Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Aji Jaya) sebagai pembicara di booth Fuso GIICOMVEC 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4).

Risal menegaskan, kebutuhan cold chain kini semakin luas dan menjadi bagian penting dari sistem logistik nasional.

“Dulu kita ragu mengirim produk makanan jarak jauh. Sekarang, dengan perkembangan teknologi dan pola konsumsi seperti frozen food dan cloud kitchen, kebutuhan rantai pendingin menjadi semakin krusial,” ujarnya.

Menurutnya, potensi cold chain tidak hanya berada di sektor makanan olahan, tetapi juga mencakup hasil perikanan, pertanian, hingga kawasan industri dan pariwisata.

Indonesia yang memiliki banyak kawasan ekonomi khusus, daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), hingga sentra kelautan membutuhkan sistem distribusi berpendingin agar kualitas produk tetap terjaga.

Pemerintah pun telah menyiapkan berbagai dukungan, mulai dari regulasi, standardisasi kendaraan, hingga konsep angkutan multimoda berbasis satu dokumen untuk meningkatkan efisiensi logistik.

“Dengan sistem multimoda ini, efisiensi biaya logistik bisa mencapai 35 persen,” kata Risal.

Namun demikian, tantangan masih besar. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur pendukung seperti ketersediaan listrik untuk kontainer berpendingin di kapal, sinkronisasi jadwal antar moda transportasi, serta keterbatasan kapasitas angkut.

Selain itu, standar keselamatan dan daya dukung jalan juga menjadi perhatian penting dalam pengoperasian kendaraan cold chain.

Dari sisi pelaku usaha, Gerry Ardian menilai peluang bisnis cold chain sangat menjanjikan, tetapi membutuhkan kesiapan menyeluruh.

“Ada dua hal utama yang kami butuhkan, yakni dukungan kebijakan dan infrastruktur. Regulasi sudah sangat mendukung, tetapi infrastruktur di lapangan masih menjadi tantangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan lain adalah menjaga kualitas produk sepanjang distribusi, terutama di fase transportasi.

“Di gudang kita bisa kontrol dengan sistem dan teknologi. Tapi saat di perjalanan, risiko seperti gangguan mesin atau suhu menjadi tantangan besar,” katanya.

Sebagai perusahaan logistik berbasis third party logistics (3PL), B-Log terus melakukan ekspansi melalui tiga pilar utama, yakni perluasan jaringan gudang, penguatan armada transportasi, dan pengembangan sistem digital untuk menjaga kualitas distribusi.

Sementara itu, dari sisi produsen kendaraan, Aji Jaya menegaskan kesiapan Mitsubishi Fuso dalam mendukung pertumbuhan industri cold chain di Indonesia.

Ia mengatakan, pihaknya menyediakan berbagai varian kendaraan niaga, mulai dari truk ringan hingga berat, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan distribusi berpendingin di berbagai medan.

“Kami memahami bahwa bisnis logistik, khususnya cold chain, membutuhkan kendaraan yang andal dan fleksibel. Karena itu kami hadir dengan pilihan kendaraan yang lengkap serta dukungan layanan purna jual di lebih dari 225 titik di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Fuso juga mengedepankan konsep zero downtime melalui jaringan layanan yang luas dan mekanik terlatih, guna memastikan operasional pelanggan tetap berjalan tanpa hambatan.

Selain itu, perusahaan tengah mengembangkan layanan one stop service khusus kendaraan cold chain, termasuk penanganan sistem pendingin di bengkel resmi.

Tak hanya itu, Fuso juga menghadirkan fitur digital untuk memantau kondisi kendaraan dan suhu muatan secara real time.

“Monitoring suhu sangat penting karena perbedaan suhu sedikit saja bisa berdampak besar pada kualitas produk,” kata Aji.

Para narasumber sepakat bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan produsen kendaraan menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi cold chain nasional.

Dengan dukungan regulasi, infrastruktur, serta teknologi yang terus berkembang, industri ini diyakini akan menjadi tulang punggung distribusi pangan dan logistik modern di Indonesia. (*)

Tags : rantai pendingin, cold chain logistik modern, distribusi berpendingin, infrastruktur logistik, teknologi distribusi, frozen food, kebijakan pemerintah, kendaraan niaga, kualitas produk mitsubishi, fuso,