Internasional   2026/03/14 14:1 WIB

Gejolak Harga Minyak Guncang BBM di Eropa, AS Makin Tertekan dan Mulai Akhiri Perang

Gejolak Harga Minyak Guncang BBM di Eropa, AS Makin Tertekan dan Mulai Akhiri Perang

INTERNASIONAL - Group of Seven (G7) yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang telah memberi sinyal kemungkinan melepaskan cadangan minyak darurat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Selasa (10/3/2026).

Meski telah turun ke level di bawah 90 dolar AS per barel, lonjakan harga minyak dengan cepat tercermin di pasar bahan bakar grosir dan ritel negara-negara Eropa.

Di Lithuania, harga rata-rata di pompa ritel meningkat menjadi 1,58 euro (sekitar 1,83 dolar AS) per liter untuk bensin dan 1,93 euro (sekitar 2,24 dolar) per liter untuk diesel, masing-masing mewakili kenaikan sekitar 7,3 persen dan 17,6 persen dibandingkan sepekan lalu.

Di Bosnia dan Herzegovina (BiH), harga diesel di entitas Republika Srpska melonjak sekitar 25 persen sejak awal Maret, sementara harga rata-rata diesel mencapai hampir 1,62 dolar per liter di entitas Federasi BiH, meningkat 16,7 persen dibandingkan 28 Februari.

Pasar gas Eropa juga bereaksi tajam terhadap ketegangan tersebut. Kontrak berjangka gas alam Dutch TTF untuk pengiriman April naik 11,59 persen menjadi 59,57 euro (69,19 dolar) per megawatt-jam pada Senin.

Kontrak tersebut berada pada 31,96 euro (37,12 dolar) pada 27 Februari, yang mewakili kenaikan sekitar 86,4 persen dalam enam hari perdagangan.

Pasar saham Eropa ditutup lebih rendah, meskipun kerugian menyempit dibandingkan sebelumnya dalam sesi perdagangan ketika harga minyak turun dari puncaknya. Indeks acuan Inggris FTSE 100 turun 35,23 poin, atau 0,34 persen, ditutup pada 10.249,52 poin. Indeks DAX Jerman turun 0,77 persen menjadi sekitar 23.409 poin, sementara indeks CAC 40 Prancis turun 0,98 persen menjadi sekitar 7.915 poin.

Menanggapi volatilitas pasar yang tajam, para menteri keuangan G7 dan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengadakan pertemuan konferensi video pada Senin.

Birol mengatakan kondisi pasar telah memburuk dalam beberapa hari terakhir dan bahwa para peserta membahas semua opsi yang tersedia, termasuk menyediakan cadangan minyak darurat IEA ke pasar jika diperlukan.

Negara-negara anggota IEA diwajibkan mempertahankan cadangan minyak yang setara dengan setidaknya 90 hari impor bersih untuk memastikan respons terkoordinasi terhadap gangguan pasokan serius yang memengaruhi pasar minyak global.

"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk menggunakan cadangan strategis, untuk menstabilkan pasar," kata Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure setelah pertemuan tersebut, sembari menegaskan bahwa tindakan seperti itu belum diperlukan saat ini.

Per November 2025, Prancis memiliki cadangan setara sekitar 122 hari impor bersih, menurut data IEA. Beberapa pemerintah Eropa telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk melindungi pasar domestik dari volatilitas.

Serbia untuk sementara menangguhkan ekspor minyak mentah dan produk bahan bakar olahan hingga 19 Maret guna mencegah kekurangan dan lonjakan harga, sementara Kroasia memberlakukan batas harga bahan bakar sementara hingga 23 Maret.

Tanpa batas harga tersebut, harga diesel bisa naik hingga 1,72 euro per liter, namun pemerintah membatasi harga pada 1,55 euro per liter.

Para ekonom memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan terhadap arus energi global dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membebani pertumbuhan ekonomi di seluruh Eropa.

Kepala Ekonom di Commerzbank, Joerg Kraemer mengatakan bahwa jika harga minyak tetap tinggi selama beberapa bulan, inflasi zona euro dapat naik lebih dari satu poin persentase sementara pertumbuhan ekonomi dapat melambat beberapa persepuluh poin persentase.

Menurut perhitungan Institut Ekonomi Jerman (IW), harga minyak yang stabil di sekitar 100 dolar per barel dapat mengurangi produk domestik bruto (PDB) Jerman sebesar 0,3 persen tahun ini dan 0,6 persen pada 2027. Ini mengakibatkan total kerugian ekonomi setidaknya sekitar 40 miliar euro (46,46 miliar dolar) selama 2026 dan 2027.

Jika harga naik hingga 150 dolar per barel dan bertahan di level tersebut, PDB Jerman akan 0,5 persen lebih rendah pada 2026 dan 1,3 persen lebih rendah pada 2027. Hal ini akan setara dengan kerugian lebih dari 80 miliar euro (92,92 miliar dolar) selama dua tahun tersebut.

Lonjakan harga energi juga mulai memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Asia Tenggara.

Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin naik menjadi 3,48 dolar AS per galon, meningkat hampir 50 sen dalam seminggu.

Sementara harga diesel mencapai sekitar 4,66 dolar AS per galon, naik lebih dari 80 sen dibandingkan pekan sebelumnya.

Amerika Serikat kini merupakan pengekspor bersih minyak.

"AS akan mengalami dampak yang lebih kecil dari lonjakan harga minyak Brent dan WTI di atas 100 dolar AS dibandingkan Eropa atau Asia," kata kepala analis pasar FxPro Alex Kuptsikevich pada Senin.

Meski demikian, ia menekankan bahwa lonjakan harga minyak yang terjadi dengan cepat akan tetap berkontribusi terhadap terjadinya resesi di Amerika Serikat.

Pada Sabtu, Donald Trump mengecilkan kemungkinan pemerintah akan menggunakan Strategic Petroleum Reserve milik Amerika Serikat.

Ia menegaskan bahwa pasokan energi AS masih mencukupi dan harga minyak diperkirakan akan segera turun.

Namun lonjakan biaya minyak dan gas alam tetap mendorong kenaikan harga bahan bakar, yang kemudian merembet ke berbagai sektor industri. Mulai dari bahan bakar jet untuk pesawat dan harga bensin kendaraan, hingga tagihan energi rumah tangga. (*)

Tags : g7, harga minyak, cadangan minyak darurat, ketegangan timur tengah, inflasi eropa, pasar energi, harga bahan bakar, pertumbuhan ekonomi, iea (badan energi internasional), ekspor minyak mentah,