HABIB HUSEIN BIN JA'FAR AL HADAR menilai puasa pada bulan Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan haus. Ia menyebut ibadah tersebut menjadi sarana melatih empati sosial, terutama agar orang yang berkecukupan dapat merasakan kehidupan mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Menurut dia, puasa menghadirkan pengalaman merasakan lapar dan haus yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan banyak orang miskin. Pengalaman itu diharapkan menumbuhkan kesadaran sosial agar masyarakat tidak abai terhadap kemiskinan dan kesulitan orang lain.
“Puasa itu sesekali cosplay deh jadi orang miskin biar kamu nggak akan membiarkan kemiskinan, sesekali lapar dan haus agar kamu tidak membiarkan orang kelaparan dan kehausan,” kata sosok yang akrab disapa Habib Ja'far saat memberikan ceramah dalam acara buka puasa MIND ID bersama awak media, di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Ia menggambarkan puasa sebagai cara agar orang yang hidup berkecukupan bisa merasakan kondisi mereka yang kekurangan. Dengan merasakan pengalaman tersebut, empati sosial diharapkan tumbuh lebih kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Habib Ja'far menilai puasa juga mengajarkan manusia hidup berdampingan dengan siapa pun, termasuk kelompok yang kerap luput dari perhatian dalam sistem ekonomi. Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memahami kehidupan orang lain yang tidak selalu terlihat dalam ukuran kesejahteraan formal.
“Puasa itu mengajarkan kebersamaan kita dengan siapapun termasuk orang-orang yang tidak dianggap mungkin dalam sistem ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kegagalan manusia dalam mengendalikan diri sebagai salah satu sumber berbagai persoalan kehidupan. Dalam pandangannya, banyak orang hidup di bawah kendali perut, bukan mengendalikan keinginannya sendiri.
Puasa, kata Habib Ja'far, melatih manusia mengendalikan dorongan tersebut. Dengan menahan lapar dan haus, seseorang belajar mengatur keinginan serta tidak membiarkan nafsu menguasai kehidupannya.
“Puasa mengajarkan kepada kita kegagalan utama manusia di antaranya karena kegagalan dia mengendalikan perutnya,” ucapnya.
Habib Ja'far juga mengingatkan seluruh aturan agama pada dasarnya bertujuan menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Ia menilai ajaran agama mendorong manusia hidup bersama serta menciptakan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.
Ia menambahkan manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasi alam. Peran tersebut menuntut manusia mengelola berbagai karunia Tuhan secara bijaksana untuk kepentingan bersama.
“Semua yang aku ciptakan ini untuk kalian, untuk semesta, untuk manusia sebagai khalifahnya, sebagai pemimpinnya bukan penguasanya,” kata Habib Ja'far.
Ia juga menyoroti pentingnya mensyukuri berbagai karunia Tuhan. Syukur dalam pandangannya menjadi fondasi penting dalam kehidupan manusia, bukan sekadar bentuk ibadah tambahan.
Habib Ja'far menjelaskan syukur diwujudkan melalui niat baik, cara yang sesuai dengan syariat, serta tujuan untuk menciptakan kemaslahatan bagi banyak orang. Prinsip tersebut menurutnya menjadi dasar hubungan manusia dengan alam dan sesama.
“Syukur itu pondasional, sangat mendasar dalam perspektif Islam,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, Habib Ja'far juga menyinggung pentingnya hubungan manusia dengan alam yang bersifat saling menghormati. Ia menilai manusia tidak boleh memandang alam sekadar objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.
Habib menutup pesannya dengan harapan agar Ramadan membawa keberkahan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Ia juga mendoakan agar dunia terhindar dari konflik besar dan diliputi kedamaian.
Tags : habib jafar, puasa, hikmah puasa, nabi muhammad, rasulullah, ramadhan 2026,