Kesehatan   2026/10/07 14:50 WIB

Hampir 10 Ribu Warga Pekanbaru dapat Tekanan Serius Kesehatan Akibat Dampak Kabut Asap

Hampir 10 Ribu Warga Pekanbaru dapat Tekanan Serius Kesehatan Akibat Dampak Kabut Asap

PEKANBARU - Dampak kebakaran lahan mulai menunjukkan tekanan serius terhadap kesehatan warga Kota Pekanbaru.

Hingga 5 Oktober 2026, sebanyak 9.932 warga tercatat terdampak bencana kabut asap, dengan gangguan pernapasan menjadi keluhan yang paling menonjol.

Dari data tersebut, 260 pasien tercatat mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam satu hari.

Sementara total pasien yang mengalami berbagai gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan kabut asap mencapai 281 orang.

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi mengatakan, dampak kesehatan akibat kebakaran lahan tidak hanya berupa ISPA.

Sejumlah penyakit dan gangguan lain juga ditemukan pada warga.

"Selain ISPA ada juga Pneumomia, mata merah, iritasi kulit hingga Asma," kata Dedy, Selasa (6/10/2026).

Data kumulatif tersebut dihimpun sejak 25 Agustus hingga 5 Oktober 2026. Artinya, dalam kurun waktu sekitar enam pekan, hampir 10 ribu warga Pekanbaru masuk dalam catatan terdampak kabut asap.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kelompok yang paling rentan justru berada pada kategori usia yang membutuhkan perlindungan lebih besar.

"Mereka yang terdampak kebanyakan kelompok berisiko yakni balita, anak-anak hingga lansia," ujarnya.

Lonjakan kasus gangguan pernapasan memperlihatkan bahwa persoalan kebakaran lahan tidak berhenti pada persoalan lingkungan.

Ketika kualitas udara memburuk, konsekuensinya langsung bersentuhan dengan layanan kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Dedy mengatakan, Diskes Kota Pekanbaru terus melakukan pemantauan melalui Tim Penanggung Jawab Program ISPA bersama fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit.

Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan kasus penyakit yang berkaitan dengan dampak kebakaran lahan sekaligus mengantisipasi peningkatan pasien apabila kualitas udara kembali memburuk.

Namun, tingginya angka kumulatif warga terdampak menunjukkan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan layanan kesehatan setelah warga mengalami gangguan kesehatan.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara belum membaik.

Penggunaan masker saat berada di luar rumah menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan asap.

"Upaya ini harus dilakukan, karena dalam sehari saja kasus ISPA bisa mencapai 260 kasus lebih. Maka harus ada upaya mencegah gangguan kesehatan akibat dampak kabut asap," tandasnya.

ISPA tembus 11.370 kasus

Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau mulai menyiapkan langkah darurat menghadapi risiko memburuknya kualitas udara di Pekanbaru.

Sebuah tenda yang dipersiapkan sebagai Posko Kesehatan Penanggulangan Kabut Asap telah berdiri di halaman Kantor Diskes Riau, Jalan Cut Nyak Dhien, Pekanbaru, Kamis (17/9).

Posko tersebut disiapkan di tengah tingginya kasus gangguan kesehatan yang terjadi selama periode 1-14 September 2026.

Berdasarkan data Diskes Riau, tercatat 12.358 kasus gangguan kesehatan dalam kurun waktu dua pekan tersebut.

Dari jumlah itu, 11.370 kasus merupakan ISPA. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan gangguan kesehatan lain yang tercatat, yakni iritasi kulit sebanyak 353 kasus, asma 332 kasus, konjungtivitis 252 kasus dan pneumonia 51 kasus.

Kadiskes Riau, Zulkifli mengatakan, posko disiapkan sebagai lapisan pelayanan tambahan apabila masyarakat mengalami gangguan pernapasan secara tiba-tiba ketika berada di luar rumah.

“Di posko ini nanti kita siapkan masker, tempat konsultasi, edukasi, pemberian obat. Ambulans juga kita standby-kan. Ada rumah oksigen dengan kapasitas tiga tempat tidur yang kita siapkan di posko,” kata Zulkifli, Kamis (17/9).

Zulkifli menjelaskan, posko tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan fungsi puskesmas, pustu maupun klinik.

Pelayanan kesehatan reguler tetap dilakukan melalui fasilitas kesehatan yang selama ini tersedia.

Posko lebih diarahkan untuk menangani warga yang membutuhkan pertolongan awal dalam situasi darurat, khususnya mereka yang tiba-tiba mengalami sesak napas atau keluhan lain yang berkaitan dengan buruknya kualitas udara.

“Posko ini sebagai tanggap darurat awal. Kalau memang parah, kita langsung rujuk. Jadi sifatnya untuk masyarakat yang mendadak sesak napas atau mengalami gejala gangguan pernapasan lainnya,” ujarnya.

Lokasi posko juga dipertimbangkan untuk melayani masyarakat yang sedang beraktivitas di sekitar pusat pemerintahan Kota Pekanbaru.

“Jadi sifatnya yang emergency saja. Misalnya ada masyarakat yang sedang bermain, berolahraga, atau sedang ada urusan di perkantoran pemerintah di sekitar sini, kemudian tiba-tiba sesak napas, bisa langsung datang ke posko,” ucapnya.

Meski tenda telah berdiri dan sejumlah kebutuhan mulai disiapkan, posko kesehatan tersebut belum beroperasi.

Diskes masih menyiapkan petugas dan fasilitas pendukung sebelum pelayanan dibuka.

Pengoperasian posko juga akan melihat perkembangan kualitas udara melalui indikator Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sekaligus memantau perkembangan kasus gangguan kesehatan masyarakat.

“Tapi ini belum kita operasionalkan, ya. Masih persiapan, termasuk petugasnya. Sambil kita melihat perkembangan ISPU,” jelas Zulkifli.

Menurut dia, kondisi peningkatan kasus ISPA saat ini masih dapat ditangani melalui jaringan pelayanan kesehatan yang ada.

“Lonjakan kasus ISPA saat ini masih bisa tertangani oleh pustu dan puskesmas. Tapi tetap kita lakukan antisipasi dengan mendirikan posko ini,” tuturnya.

Diskes Riau selanjutnya akan mengevaluasi kondisi udara dan perkembangan kasus sebelum menentukan waktu operasional posko.

“Kita masih melakukan persiapan. Nanti kita rapat lagi sambil melihat perkembangan terbaru kondisi udara dan kasus ISPA di Riau, khususnya di Pekanbaru,” ujar Zulkifli.

Data Diskes Riau menunjukkan tingginya kasus gangguan kesehatan tidak hanya terjadi pada satu hari.

Pada 10 September 2026, misalnya, tercatat 1.340 kasus, sedangkan pada 8 September jumlahnya mencapai 1.270 kasus.

Pada 1 September terdapat 1.237 kasus. Sementara hingga 14 September masih tercatat 1.075 kasus gangguan kesehatan dalam sehari.

Dominasi ISPA menjadi perhatian utama karena jumlahnya mencapai 11.370 kasus dari total 12.358 kasus selama periode 1-14 September.

Sementara itu, kasus pneumonia tercatat 51 kasus. Meski jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan ISPA, keberadaannya menjadi salah satu indikator gangguan kesehatan yang ikut dipantau Diskes dalam menghadapi kondisi udara yang memburuk. (*)

Tags : kabut asap, karhutla, dampak kabut asap, pekanbaru, tekanan serius kesehatan, ispa,