Artikel   2026/01/03 18:6 WIB

Hidup Dilapangan Mudah Diintervensi Nafsu

Hidup Dilapangan Mudah Diintervensi Nafsu

KEBAHAGIAAN dan kelimpahan harta bisa menjadi pintu masuk nafsu. Hampir semua manusia mengharapkan kehidupan yang mudah dan berlimpah, atau kehidupan yang penuh kelapangan dalam harta dan lainnya.

Namun, menurut Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, kehidupan yang penuh kelapangan itu justru mudah dimasuki atau diintervensi nafsu. Karena itu, seseorang harus lebih berhati-hati.

“Nafsu akan mengambil peranan dalam sebuah kondisi yang lapang, yaitu dengan kebahagiaan. Tetapi nafsu tidak memiliki peranan dalam keadaan yang sempit.” (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam)

Biasanya, ketika seseorang mendapatkan kelapangan, baik harta maupun nikmat lainnya, ia merasa senang dan bahagia. Jika tidak berhati-hati, kondisi inilah yang menjadi jalan masuknya nafsu.

“Nafsu akan mengambil peranan dalam sebuah kondisi yang lapang, yaitu dengan kebahagiaan. Tetapi nafsu tidak memiliki peranan dalam keadaan yang sempit.” (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam)

Biasanya, ketika seseorang mendapatkan kelapangan, baik harta maupun nikmat lainnya, ia merasa senang dan bahagia. Jika tidak berhati-hati, kondisi inilah yang menjadi jalan masuknya nafsu.

Lebih parah lagi, jika tidak waspada, seseorang dapat terjerumus dalam sikap kurang ajar terhadap Allah SWT. Misalnya, ia merasa hebat dan sombong karena berhasil mendapatkan kelapangan.

Ia menganggap semua yang didapatkannya merupakan hasil kerja keras dan buah keringatnya sendiri. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Semua yang diperolehnya merupakan karunia-Nya.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan keadaan sempit. Dalam situasi ini, hampir tidak ada intervensi nafsu.

Jiwa yang berada dalam kesempitan akan dipenuhi keresahan, kegelisahan, serta rasa sangat membutuhkan kepada-Nya. Bagaimana mungkin ia menjauh dari-Nya, sementara ia justru sangat membutuhkan pertolongan-Nya. Dalam kondisi itu, seseorang akan semakin menjaga adab-adabnya kepada-Nya, sehingga berpeluang memperoleh curahan rahmat dan rezeki dari-Nya.

Hal ini dijelaskan Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam, dengan penjelasan tambahan oleh Penyusun dan Penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati, dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya yang diterbitkan Penerbit Noktah pada 2017. (*)

Tags : al-hikam, syekh ibnu athaillah, nafsu, kelapangan, hidup, hikmah, islam, tasawuf, akhlak muslim,