LINGKUNGAN - Pekanbaru mengawali Senin dengan udara yang belum ramah bagi paru-paru. IQAir mencatat AQI US mencapai 177 sekitar pukul 09.00 WIB. Angka itu menempatkan kualitas udara Pekanbaru dalam kategori tidak sehat.
Kondisi udara juga tidak seragam di seluruh Pekanbaru. Stasiun Panam mencatat AQI US mencapai 237 pada pemantauan terbaru.
Stasiun Pekanbaru berada pada angka 198 dalam waktu pengukuran yang sama. PM2.5 menjadi biang utama buruknya kualitas udara pagi tersebut. Konsentrasinya mencapai 92,1 mikrogram per meter kubik.
Angka itu sekitar 18,4 kali pedoman tahunan WHO menurut pemantauan IQAir.
Stasiun AirVisual Outdoor Olycos mencatat AQI 189. Sementara itu, Enau Chevron berada pada angka 178.
Perbedaan tersebut menunjukkan kondisi udara dapat berubah berdasarkan lokasi pemantauan.
Pihak BMKG mencatat angka PM2.5 Pekanbaru lebih tinggi dalam pembaruan sebelumnya.
Konsentrasinya mencapai 119,9 mikrogram per meter kubik pada pukul 02.00 WIB. BMKG memasukkan kondisi tersebut dalam kategori tidak sehat.
Angka BMKG dan IQAir memang tidak sama persis. Perbedaan waktu pembaruan turut memengaruhi hasil pemantauan.
Kualitas udara juga dapat berubah hanya dalam beberapa jam.
Pekanbaru bahkan sempat mengalami lonjakan polusi pada Minggu malam. PM2.5 dilaporkan mencapai 253 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dalam pemantauan yang dilakukan saat itu.
Udara Riau kini bergerak seperti suasana hati cuaca. Pagi bisa berkabut, kemudian hujan datang membawa perubahan. Namun, partikulat dapat kembali meningkat ketika sumber asap masih muncul.
BMKG memprakirakan hujan turun di sejumlah wilayah Riau. Kondisi tersebut berpotensi membantu menekan konsentrasi partikulat udara. Efeknya tetap bergantung pada durasi hujan dan wilayah yang terkena.
Arah angin juga ikut menentukan perjalanan asap menuju Pekanbaru. Asap dari daerah sekitar dapat terbawa masuk kawasan perkotaan. Akibatnya, udara memburuk meski sumber asap berada di luar kota.
Riau sendiri masih menghadapi persoalan hotspot pada Senin. BMKG mencatat 22 titik panas tersebar di sejumlah wilayah. Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Hotspot tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Data tersebut berasal dari indikasi panas hasil pemantauan satelit.
IQAir memperkirakan kualitas udara Pekanbaru berangsur membaik sepanjang Senin. AQI harian diproyeksikan berada sekitar angka 117. Namun, pagi hari masih menjadi periode yang perlu diperhatikan.
Prakiraan per jam menunjukkan penurunan secara bertahap. AQI diperkirakan mencapai 152 sekitar pukul 14.00 WIB. Angkanya kemudian diproyeksikan turun menuju 124 sekitar pukul 18.00 WIB.
Penurunan tersebut tentu menjadi kabar yang lebih melegakan. Namun, angka pagi masih berada pada kategori tidak sehat.
IQAir menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas olahraga di luar ruangan. Jendela rumah dapat ditutup ketika kualitas udara memburuk. Masker juga dianjurkan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar.
Kondisi Pekanbaru menunjukkan kualitas udara bisa berubah sangat cepat.
BMKG juga mengingatkan cuaca Riau masih dinamis pada Senin. Sejumlah daerah berpotensi menerima hujan dengan intensitas berbeda.
Beberapa wilayah bahkan berpeluang mengalami hujan disertai petir dan angin kencang.
Pekanbaru kini berada di antara dua kemungkinan cuaca. Hujan bisa membantu menurunkan partikulat yang menggantung di udara. Namun, asap baru dapat kembali mengangkat angka polusi.
Data terbaru akhirnya memberi gambaran cukup jelas pagi hari ini, Pekanbaru masih menghadapi kualitas udara tidak sehat.
Sementara di Wilayah Pulau Sumatera kembali menyala dalam peta pemantauan hotspot pada Senin, 21 September 2026.
Sebanyak 2.056 titik panas terdeteksi di berbagai wilayah. Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 1.378 titik panas.
Angka tersebut jauh meninggalkan provinsi lain di Sumatera. Jambi berada di urutan berikutnya dengan 259 hotspot. Bangka Belitung menyusul dengan 246 titik panas.
Lampung tercatat memiliki 120 hotspot dalam pemantauan terbaru. Kepulauan Riau menyumbang 21 titik panas. Bengkulu, Sumatera Utara dan Sumatera Barat mencatat angka lebih kecil.
Riau sendiri mencatat 22 hotspot pada pemantauan tersebut. Jumlah itu tersebar di enam kabupaten dan kota. Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak.
Forecaster BMKG Pekanbaru Gita Dewi S menyampaikan data tersebut.
Ia menjelaskan hotspot Riau tersebar pada beberapa wilayah. Polanya tidak terkumpul hanya pada satu kawasan.
Indragiri Hulu mencatat delapan hotspot pada pemantauan terbaru. Indragiri Hilir menyusul dengan lima titik panas. Bengkalis dan Pelalawan masing-masing mencatat tiga hotspot.
Dumai kemudian memiliki dua titik panas terpantau. Rokan Hulu mencatat satu hotspot dalam pemantauan tersebut. Wilayah lain belum menunjukkan titik panas berdasarkan data terbaru.
Angka Riau memang kecil dibandingkan Sumatera Selatan. Namun, hotspot tetap menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Apalagi beberapa wilayah Riau masih berpotensi mengalami udara kabur.
BMKG memprakirakan udara kabur hingga berawan melanda Riau. Kondisi udara kabur berpotensi mengurangi jarak pandang.
Asap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.
Hujan ringan hingga sedang berpeluang turun siang hingga sore. Pelalawan, Siak dan Indragiri Hulu masuk wilayah berpeluang hujan. Rokan Hulu dan Pekanbaru juga berpotensi menerima hujan.
Malam hari membawa peluang hujan ringan di sejumlah daerah. Kuantan Singingi dan Pekanbaru masuk wilayah yang diprakirakan basah.
Hujan juga berpotensi muncul kembali menjelang dini hari.
Rokan Hilir, Bengkalis dan Kampar berpeluang mengalami hujan dini hari. Kuantan Singingi serta Dumai juga masuk daftar wilayah berpotensi hujan. Intensitas hujan diprakirakan ringan hingga sedang.
BMKG turut mengingatkan potensi cuaca lebih ekstrem di sejumlah wilayah. Hujan sedang hingga lebat dapat muncul bersama petir. Angin kencang juga berpotensi menyertai kondisi tersebut.
Wilayah yang perlu memperhatikan kondisi itu cukup banyak. Rokan Hilir, Kampar dan Bengkalis masuk dalam daftar. Indragiri Hulu, Siak, Dumai dan Kuantan Singingi juga termasuk.
Suhu udara Riau diprakirakan mencapai 23 hingga 33 derajat Celsius. Kelembapan udara berada pada kisaran 50 sampai 100 persen. Angin bertiup dari tenggara hingga barat daya.
Kecepatannya diprakirakan mencapai 10 sampai 40 kilometer per jam. Sementara itu, gelombang perairan Riau relatif rendah. Tingginya berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter.
Perubahan hotspot Riau terlihat cukup cepat dalam beberapa hari. Pada 18 September, jumlahnya masih mencapai 71 titik. Sehari kemudian, angkanya sempat meningkat menjadi 91 hotspot.
Kini angka tersebut turun tajam menjadi 22 titik panas. Namun, penurunan angka tidak otomatis menghapus risiko kebakaran. Hotspot tetap membutuhkan pemeriksaan untuk memastikan kondisi lapangan.
Hotspot merupakan indikasi titik panas berdasarkan pemantauan satelit. Data tersebut belum otomatis menunjukkan kebakaran aktif. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan sumber panas.
Di tingkat Sumatera, konsentrasi terbesar masih berada di selatan. Sumatera Selatan menyumbang lebih dari separuh total hotspot. Jambi dan Bangka Belitung juga mencatat angka cukup tinggi.
Kondisi itu membuat pemantauan kebakaran tetap menjadi pekerjaan lintas wilayah. Riau berada jauh di bawah angka Sumatera Selatan. Namun, 22 hotspot tetap menjadi sinyal kewaspadaan.
Indragiri Hulu menjadi titik perhatian utama di Riau. Delapan hotspot tercatat berada di wilayah tersebut. Kondisi cuaca dan arah angin perlu terus diperhatikan.
Hujan memang dapat membantu membasahi vegetasi dan lahan. Namun, hujan yang turun tidak selalu merata. Karena itu, risiko kebakaran belum otomatis menghilang.
Masyarakat juga perlu berhati-hati saat menggunakan api terbuka. Vegetasi kering dapat membuat api lebih cepat menjalar. Asap dari pembakaran juga dapat mengganggu jarak pandang.
Dengan 2.056 hotspot, Sumatera belum benar-benar aman dari karhutla. Riau hanya mencatat 22 titik dalam pemantauan terbaru. Penurunan angka tetap perlu disertai pemantauan dan kewaspadaan.
Gita Dewi mengingatkan potensi hujan lebat masih dapat muncul. “Dapat disertai petir dan angin kencang,” ujarnya. Kondisi tersebut diprakirakan terjadi pada siang hingga sore. (*)
Tags : Hotspot Sumatera, Hotspot Riau, Karhutla Riau, BMKG, Titik Api Riau, Kabut asap Riau, Kualitas udara Riau, Kualitas udara Pekanbaru, IQAir, PM 2.5,