Linkungan   2026/09/18 9:48 WIB

Hotspot Sumatera Turun dan Riau Hanya Tinggal 67 Titik

Hotspot Sumatera Turun dan Riau Hanya Tinggal 67 Titik

PEKANBARU — Sebelumnya jumlah hotspot di Pulau Sumatera sebanyak 4.737 titik panas (hotspot) terdeteksi pada Kamis 17 September 2026, kini sudah menurun jumlahnya.

Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Jambi dan Bangka Belitung.

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Bella R Adelia, mengatakan berdasarkan pemantauan BMKG, ribuan titik panas masih terpantau tersebar di sejumlah wilayah Sumatera.

"Total titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera terpantau sebanyak 4.737 titik," kata Bella R Adelia, Kamis (17/9).

Data BMKG menunjukkan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni mencapai 3.200 titik.

Jambi berada di posisi berikutnya dengan 511 titik, sementara Bangka Belitung tercatat 503 titik.

Sementara itu, di Provinsi Riau terpantau 225 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di Riau, yakni 135 titik. Berikutnya Kabupaten Kampar dengan 44 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 34 titik.

Hotspot lainnya terpantau di Kota Dumai sebanyak 3 titik, Kabupaten Pelalawan 3 titik, Kabupaten Rokan Hulu 2 titik, Kabupaten Siak 2 titik, Kabupaten Bengkalis 1 titik, serta Kabupaten Kuantan Singingi 1 titik.

Secara keseluruhan, selain Sumatera Selatan, Jambi dan Bangka Belitung, hotspot juga terdeteksi di Lampung sebanyak 241 titik, Kepulauan Riau 22 titik, Sumatera Utara 16 titik, Sumatera Barat 10 titik, Bengkulu 9 titik, serta Riau 225 titik.

Bella mengatakan data hotspot tersebut merupakan hasil pemantauan dan menjadi informasi penting dalam melihat sebaran titik panas di wilayah Sumatera.

"Data hotspot ini menunjukkan adanya titik-titik panas yang terpantau di sejumlah wilayah Sumatera. Pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan sebarannya," ujarnya.

Adapun rincian hotspot di Sumatera pada Kamis (17/9/2026) adalah sebagai berikut:

- Sumatera Selatan: 3.200 titik

- Jambi: 511 titik

- Bangka Belitung: 503 titik

- Lampung: 241 titik

- Riau: 225 titik

- Kepulauan Riau: 22 titik

- Sumatera Utara: 16 titik

- Sumatera Barat: 10 titik

- Bengkulu: 9 titik.

Untuk wilayah Riau, hotspot terdeteksi di Indragiri Hulu 135 titik, Kampar 44 titik, Indragiri Hilir 34 titik, Dumai 3 titik, Pelalawan 3 titik, Rokan Hulu 2 titik, Siak 2 titik, Bengkalis 1 titik, dan Kuantan Singingi 1 titik.

Data tersebut menjadi perhatian di tengah pemantauan kondisi cuaca dan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera.

Penurunan signifikan titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi Riau.

Saat total hotspot Sumatera pada Rabu 16 September 2026 sore turun menjadi 1.930 titik, jumlah titik panas di Riau justru meningkat menjadi 125 titik.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah mengatakan, peningkatan hotspot di Riau tersebar di delapan kabupaten/kota.

Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Inhu (Inhu) dengan 73 titik, disusul Kampar sebanyak 34 titik.

"Riau mengalami peningkatan jumlah titik panas menjadi 125 titik," ujar Indah.

Data BMKG Pekanbaru menunjukkan, hotspot Riau tidak tersebar secara merata. Selain Inhu dan Kampar, titik panas terpantau di Inhil sebanyak 11 titik dan Dumai tiga titik.

Sementara itu, masing-masing satu titik panas terdeteksi di Kuansing, Pelalawan, Rohul dan Siak.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh hotspot Riau terkonsentrasi di dua wilayah.

Inhu menyumbang 73 titik atau lebih dari separuh total hotspot Riau, sedangkan Kampar menyumbang 34 titik.

Dengan demikian, sekitar 86 persen hotspot Riau pada Rabu sore berada di dua daerah tersebut.

Kondisi ini membuat perkembangan titik panas di Inhu dan Kampar menjadi bagian penting dalam memantau potensi peningkatan aktivitas kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Di tingkat Sumatera, jumlah hotspot mencapai 1.930 titik pada Rabu sore. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar, yakni 1.414 titik.

Jumlah tersebut jauh melampaui provinsi lain. Jambi tercatat memiliki 182 hotspot, Bangka Belitung 118 titik dan Lampung 80 titik.

Sementara itu, Sumatera Barat terpantau sembilan titik, Sumatera Utara satu titik dan Kepulauan Riau satu titik.

Jika dibandingkan dengan kondisi di Riau, data tersebut memperlihatkan situasi yang berbeda. Secara regional jumlah hotspot Sumatera menurun, tetapi Riau justru mencatat kenaikan.

Perbedaan arah tersebut menjadi indikator bahwa penurunan hotspot secara regional belum dapat dijadikan gambaran tunggal untuk membaca perkembangan karhutla di setiap provinsi.

Di Riau sendiri, perhatian terutama tertuju pada Inhu dan Kampar karena kedua wilayah tersebut menyumbang porsi terbesar dari total titik panas yang terdeteksi BMKG.

Perkembangan hotspot tersebut masih perlu dipantau bersama kondisi cuaca dan faktor lapangan untuk mengetahui apakah titik panas berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Sementara jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau menunjukkan penurunan pada Kamis 17 September 2026 sore.

Berdasarkan pemantauan BMKG Pekanbaru, hotspot di Riau tercatat 67 titik, jauh lebih rendah dibandingkan konsentrasi titik panas di sejumlah provinsi lain di Sumatera.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine mengatakan, hotspot Riau tersebar di sembilan kabupaten/kota. Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Inhu yang mencapai 41 titik.

"Untuk wilayah Riau, jumlah titik panas terpantau sebanyak 67 titik," kata Mari.

Data BMKG menunjukkan, selain Inhu, hotspot terpantau di Kabupaten Kampar sebanyak delapan titik, Siak lima titik, Dumai empat titik, Pelalawan tiga titik, Inhil tiga titik, Rohil dua titik, serta Rohul satu titik.

Meski kondisi hotspot Riau menurun, situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tingkat regional Sumatera masih perlu mendapat perhatian. Total hotspot yang terpantau BMKG pada Kamis sore mencapai 2.820 titik.

Sebaran tersebut didominasi Sumatera Selatan dengan 1.976 titik, disusul Jambi 278 titik, Bangka Belitung 289 titik.

Kemudian, Lampung 194 titik, Kepulauan Riau sembilan titik, Sumatera Utara enam titik dan Bengkulu satu titik.

Dengan demikian, Sumatera Selatan menyumbang sekitar 70 persen dari total hotspot Sumatera pada pemantauan Kamis sore.

Besarnya konsentrasi hotspot di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa penurunan titik panas di Riau belum serta-merta menggambarkan meredanya ancaman karhutla di kawasan Sumatera secara keseluruhan.

Kondisi tersebut juga penting diperhatikan karena asap akibat kebakaran di suatu wilayah berpotensi memengaruhi kualitas udara di daerah lain, bergantung pada arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer.

Di tengah penurunan jumlah hotspot Riau, Kabupaten Inhu menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas paling tinggi.

Sebanyak 41 dari 67 hotspot Riau berada di Inhu. Artinya, lebih dari separuh hotspot Riau pada Kamis sore terkonsentrasi di satu daerah.

Data ini membuat perkembangan karhutla di Inhu menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah penurunan hotspot Riau dapat bertahan atau kembali meningkat.

Sementara itu, hotspot di daerah lain relatif tersebar dengan jumlah yang lebih rendah.

Kampar tercatat delapan titik, Siak lima titik, Dumai empat titik, sedangkan Pelalawan dan Inhil masing-masing tiga titik.

BMKG terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot di Sumatera, termasuk Riau, sebagai bagian dari pemantauan kondisi atmosfer dan potensi karhutla. (*)

Tags : hotspot, titik api, hotspot di sumatera turun, hotspot di riau turun, hotspot di riau tinggal 67 titik,