Salah satu sifat Illahi adalah tidak makan.
AGAMA - Puasa (shaum) adalah ibadah yang di dalamnya makan dan minum terlarang dilakukan. Ibadah ini mengajarkan manusia agar menanggalkan sejenak hal-hal yang dibolehkan. Manusia dilatih selama sebulan Ramadhan untuk mencontoh dan menerapkan sifat-sifat Illahi dalam kehidupan nyata.
Salah satu sifat Ilahi adalah tidak makan. Ini sebagaimana yang dijelaskan Alquran surah al-An'am ayat 14. Artinya, "Katakanlah (Muhammad), 'Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan agar aku menjadi orang yang pertama berserah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.'"
Ibadah puasa mengajarkan bahwa kita sudah menikmati begitu banyak makanan dan minuman yang merupakan rezeki dari Allah selama 11 bulan. Maka, selama satu bulan Ramadhan ini, kita diwajibkan untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman selama belasan jam.
Menahan diri (imsak) itu hendaknya tidak dimaknai sebatas tidak menikmati makanan dan minuman untuk sesaat. Alih-alih sakadar demikian, rezeki yang biasa tersedia di atas meja makan di rumah kita itu hendaknya disisihkan untuk diberi kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Dalam suatu hadis, sifat dermawan Rasulullah SAW diibaratkan melebihi angin yang berembus sejuk. Maknanya, beliau sangat ringan hati dan cepat dalam memberi, tanpa pamrih, tanpa menimbang-nimbang, laksana angin sepoi-sepoi. Selama Ramadhan, beliau semakin giat berderma. Inilah yang semestinya kita tiru. Daripada sibuk mengumpulkan makanan untuk diri sendiri, mengapa tidak memperbanyak berbagi kepada sesama?
Sejauh mana puasa yang kita lakukan mampu meredam tindak kriminal, kegarangan, dan kerawanan sosial yang seringkali dipicu oleh makhluk yang bernama 'makanan' ini? Tidakkah ibadah puasa bisa menyadarkan kita agar mau menolong mereka yang terkena kesulitan hidup?
Bila kita berhasil menjelmakan sifat Tuhan ini dalam kehidupan, dengan memberi makan orang yang kekurangan, maka kala itulah nilai ketakwaan. Ini merupakan tujuan ideal puasa. Allah menyebut orang yang tidak mau menganjurkan memberi makan orang miskin sebagai pendusta agama (QS 107: 3).
Ihwal pesan (larangan) Ilahi melalui makanan ini, sebetulnya bukan hanya lewat puasa, namun sudah terjadi jauh sebelumnya ketika Adam dan Hawa masih mendiami surga. Ironisnya, justru masalah makanan inilah yang membuat nenek moyang kita itu terusir dari surga--yakni akibat memakan buah terlarang (QS 2: 35-36).
Surga khusus
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya, surga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut Rayyan. Artinya, basah melimpah. Dipanggil-lah pada Hari Kiamat, 'Wahai, mana orang-orang yang berpuasa?' Bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutup."
Satu pintu di surga yang dikhususkan bagi orang-orang yang berpuasa ialah Rayyan. Ditilik secara kebahasaan, ar-rayyan berarti 'puas' atau 'segar.' Menurut sebagian ulama, pintu mulia itu dinamakan demikian, sebab orang yang berpuasa kelak tak akan merasa haus lagi--yakni tetap merasa segar--begitu memasukinya.
Dalam hadis riwayat Sahl bin Sa'ad disebutkan. Nabi SAW bersabda, "Surga memiliki delapan pintu. Di antara pintu-pintu tersebut ada yang dinamakan pintu ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari).
Keterangan dari Rasulullah SAW itu menegaskan benarnya janji Allah SWT. Saat berpuasa, orang-orang yang beriman menahan diri dari hal-hal yang diperbolehkan dalam hari-hari biasa, semisal makan, minum, atau berhubungan intim (jimak) suami-istri. Maka kelak di akhirat, Allah SWT mengganti semua itu dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Bahkan, Rasul SAW mengabarkan dalam suatu hadis qudsi, berpuasa itu adalah ibadah yang khas. "Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali amalan puasa. (Puasa) itu untuk Allah dan Dia yang nanti akan membalasnya” (HR Bukhari-Muslim).
Semoga Allah SWT meridhai ibadah puasa Ramadhan kita sehingga Dia memasukkan kita ke dalam Jannah-Nya melalui pintu mulia tersebut, aamiin!
Tags : recharge iman, ramadhan, ramadhan 2026, ramadhan 1447 h, puasa ramadhan, hikmah ramadhan,