Headline Agama   2026/03/22 18:36 WIB

Idul Fitri Identik dengan Tradisi Saling Memaafkan di Umat Islam

Idul Fitri Identik dengan Tradisi Saling Memaafkan di Umat Islam

Saling memaafkan adalah perkara yang utama. 

AGAMA - Momentum Hari Raya Idul Fitri tak pernah lepas dari tradisi saling memaafkan. Umat Islam, setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, saling mengucapkan mohon maaf lahir dan batin” sebagai bentuk pembersihan hati dan perbaikan hubungan antarsesama.

Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan memiliki akar kuat dalam ajaran Islam.

Secara bahasa, kata maaf berasal dari bahasa Arab al-‘afwu yang berarti memberi ampun atas kesalahan orang lain tanpa menyimpan rasa benci, sakit hati, maupun keinginan untuk membalas dendam.

Di era modern, praktik saling memaafkan tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga melalui berbagai platform digital seperti aplikasi percakapan instan.

Meski medianya berubah, esensi dari tradisi ini tetap sama, yakni menghapus kesalahan dan mempererat ukhuwah.

Saling memaafkan pada Hari Raya Idul Fitri juga menjadi salah satu indikator keberhasilan ibadah puasa. Tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa (muttaqin), dan salah satu ciri orang bertakwa adalah mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Hal ini ditegaskan dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali ‘Imran [3]: 134).

Dalam tafsir tahlili Kementerian Agama dijelaskan bahwa ayat tersebut menguraikan sifat-sifat orang bertakwa, salah satunya adalah kemampuan memaafkan meski memiliki kesempatan untuk membalas. Sikap ini dinilai sebagai akhlak mulia yang harus dimiliki setiap Muslim.

Memang, memaafkan bukan perkara mudah. Secara naluriah, manusia cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun, bagi mereka yang memiliki iman kuat dan akhlak tinggi, memaafkan menjadi jalan yang lebih utama.

Membalas keburukan dengan keburukan mungkin masih dalam kerangka keadilan, tetapi tidak serta-merta menghapus kejahatan.

Sebaliknya, hal itu justru berpotensi memperluas konflik. Sementara itu, membalas keburukan dengan maaf yang disertai kebaikan dapat menyadarkan pelaku kesalahan dan menutup pintu kejahatan di masa depan.

Karena itulah, tradisi saling memaafkan di Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari keberhasilan spiritual seorang Muslim dalam meraih derajat takwa setelah Ramadhan. 

Ada beberapa manfaat yang akan kita petik ketika sudi membukakan pintu maaf bagi siapa pun yang pernah menyakiti, meskipun itu berat.

Tetapi, dari teladan Rasul SAW dan sejumlah sahabat yang mulia, terpancar hikmah bahwa memaafkan itu nikmat.

Ketika seseorang mau memaafkan orang lain, sebenarnya ia telah mengambil keputusan besar untuk menggugurkan haknya. Hak untuk mengungkit sakit hati, menyimpan dendam, atau membalas perlakuan buruk yang pernah dideritanya.

Di antaranya, pertama, memaafkan dapat mengurangi beban hidup. Seringkali, rasa sakit yang kita terima dari orang lain tidak berkaitan langsung dengan tujuan atau bagian penting hidup kita.

Bila memilih untuk selalu mengungkit-ungkitnya, berarti kita menjadikan sesuatu yang tidak penting sebagai masalah serius dan beban bagi hidup kita.

Padahal, dalam perkara yang sangat prinsipil sekalipun, Nabi SAW tetap mau memaafkan, sehingga tidak menjadi beban baru bagi dakwah dan hidup beliau. Ketika orang-orang Thaif merespons dakwah beliau dengan tindakan yang sangat kasar, Rasulullah SAW memilih untuk memaafkan.

Beliau tidak hanya melupakan perlakuan kasar mereka, malah membalasnya dengan untaian doa: 

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإنَّهُمْ لا يعْلَمُونَ ''Ya Allah, berilah hidayah kepada mereka. Sesungguhnya mereka mengasariku hanya karena mereka tidak tahu.'' 

Kedua, memaafkan adalah pangkal kemuliaan. Sebab, hanya orang yang mulia dan berjiwa besar yang bisa dengan lapang melebur kesalahan orang lain. Dan Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan kebajikan setiap hamba-Nya.

Dia akan membalas kelapangan orang yang mau membuka pintu maafnya dengan limpahan kemuliaan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

?وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا ''Allah akan membalas orang yang mau memaafkan (orang lain) dengan menambah kemuliaannya.''

Tuntunan ini menjadi lentera bagi para sahabat ketika gelisah. Seperti Abu Bakar RA yang marah besar kepada Musthah, orang yang telah dirawat dan dinafkahinya, namun justru ikut memfitnah Aisyah RA dalam tragedi khabar al-ifki.

Abu Bakar hendak mengusir Musthah. Tetapi, ketika teringat tuntunan Nabi tersebut, ia mengurungkan niatnya.

Ketiga, memaafkan adalah tabungan akhirat yang tak bernilai. Dalam Alquran surat as-Syura ayat 40, Allah SWT berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." 

''Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah.''

Saat menafsirkan ayat ini, Imam al-Hasan RA meriwayatkan, ''Pada hari kiamat nanti, semua manusia akan dibawa ke hadapan Allah kemudian ada yang menyeru, 'Tidak boleh berdiri kecuali orang yang mempunyai simpanan pahala di sisi Allah'. Ternyata, tidak ada yang berdiri kecuali orang-orang yang pernah memaafkan orang lain kala hidup di dunia.''  

Tags :  saling memaafkan, idul fitri, keutamaan, memaafkan ,