Kesehatan   2026/06/21 16:54 WIB

Ilmuwan Selidiki Kemungkinan Adanya Tipe Diabetes Baru

Ilmuwan Selidiki Kemungkinan Adanya Tipe Diabetes Baru

KESEHATAN - Ketika dokter pertama kali menyuntikkan insulin ke tubuh Noella Mukumbi, mereka yakin tindakan itu akan menyelamatkan nyawanya. Sebaliknya, perempuan berusia 30 tahun asal Republik Demokratik Kongo ini merasa pengobatan tersebut justru membuatnya serasa ingin meninggal dunia.

Noella, yang bekerja sebagai penata rambut, awalnya didiagnosis mengidap diabetes tipe 1 pada tahun 2023. Namun sejak awal, ia merasa ada sesuatu yang janggal.

Setelah mulai menjalani suntik insulin harian sesuai standar, ibu dua anak ini mengaku kepalanya sering pusing dan kehilangan keseimbangan. Hingga suatu hari, ia jatuh pingsan.

"Saya sedang merapikan pakaian anak-anak, lalu tiba-tiba suami menemukan saya sudah tergeletak di lantai sambil berteriak," tuturnya kepada BBC World Service.

Tiga tahun kemudian, dokter spesialis memberi tahu Noella bahwa kemungkinan besar ia sebenarnya mengidap diabetes tipe 5.

Diabetes, yang kini diidap lebih dari 830 juta orang di seluruh dunia, terjadi ketika tubuh tidak mampu menyerap dan mengatur gula darah secara normal menggunakan insulin. Akibatnya, kadar gula darah dapat melonjak ke tingkat yang membahayakan.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada 20,4 juta penduduk berusia 20-79 tahun yang mengidap diabetes pada 2024, berdasarkan data IDF Diabetes Atlas. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak kelima di dunia.

Sementara itu, diabetes tipe 5 merupakan bentuk penyakit yang diyakini muncul akibat dampak jangka panjang dari kurang gizi atau malnutrisi yang parah, terutama pada masa kanak-kanak dan remaja.

Penyakit ini baru diakui secara resmi tahun lalu oleh Federasi Diabetes Internasional (IDF), lembaga yang menaungi 251 asosiasi diabetes nasional.

Meski demikian, kondisi ini belum diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menilai sejauh ini belum ada cukup bukti ilmiah yang kuat untuk mengategorikannya sebagai jenis diabetes yang berdiri sendiri.

Beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa diabetes tipe 5 bisa jadi menyerang hingga 25 juta pasien diabetes dunia—dan mereka memperingatkan bahwa diagnosis yang keliru dapat berdampak fatal bagi pasien.

Dr. Meredith Hawkins, direktur Global Diabetes Institute di Albert Einstein College of Medicine, menilai salah klasifikasi ini adalah "masalah yang mempengaruhi masyarakat luas", yang memicu kematian akibat pemberian terapi insulin yang tidak tepat.

"Banyak dari anak-anak muda yang kami temui sering kali berakhir tidak bisa bangun lagi di pagi hari," ungkapnya.
'Merasa lelah terus menerus'

Diabetes tipe 1 merupakan kondisi autoimun di mana tubuh berhenti memproduksi insulin sama sekali, sedangkan diabetes tipe 2 umumnya berkaitan dengan resistensi insulin (ketidakmampuan tubuh merespons insulin dengan baik).

Namun, para ilmuwan mengindikasikan bahwa diabetes tipe 5 kemungkinan erat kaitannya dengan masalah kurang gizi kronis, yang mengganggu perkembangan pankreas—organ tubuh yang bertugas memproduksi insulin.

Pasien dengan kondisi ini sebenarnya masih bisa memproduksi insulin, tetapi jumlahnya tidak mencukupi, dan tubuh mereka bisa menjadi sangat sensitif terhadap insulin.

Inilah alasan mengapa pengobatan standar tidak selalu berhasil dan dalam beberapa kasus justru bisa berbahaya.

Seperti yang dialami Noella, dosis insulin standar sekalipun dapat memicu hipoglikemia—kondisi saat kadar gula darah merosot drastis hingga ke tingkat yang membahayakan—yang dapat berujung pada kematian.

Sama seperti varian diabetes lainnya, tipe 5 juga dapat memicu komplikasi serius termasuk kebutaan, gagal ginjal, kerusakan saraf, hingga luka yang sulit sembuh yang berisiko harus diamputasi.

Karena penyakit ini sering menyerang usia muda dengan berat badan yang sangat kurus namun memiliki kadar gula darah yang sangat tinggi, gejalanya sangat mudah tertukar dengan diabetes tipe 1. Gejala yang muncul pun bisa sangat mirip.

Noella, yang saat ini menetap di Uganda, menceritakan pengalaman pribadinya. Seingatnya, tubuhnya memang selalu kurus sejak dulu, dan tak lama setelah melahirkan anak keduanya, ia mulai merasa sakit-sakitan.

"Mulut saya selalu terasa kering. Saya minum air dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan di malam hari saya bisa terbangun dua sampai tiga kali hanya untuk minum," katanya.

Berat badannya juga turun drastis, merosot dari 58 kg menjadi 49 kg, disertai rasa lelah yang konstan—dua gejala yang sangat identik dengan diabetes tipe 1.
'Diabetes orang kurus'

Diabetes tipe 5 khususnya banyak menyerang pasien di sebagian wilayah Asia dan Afrika sub-Sahara, di mana kasus malnutrisi pada anak-anak masih marak terjadi.

Kendati demikian, berbagai studi menunjukkan tren diabetes di kalangan orang dengan berat badan rendah atau kurus juga mulai meningkat di negara-negara lain.

Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care, dengan basis data dari lebih dari 2,6 juta orang dewasa di Amerika Serikat, menemukan adanya peningkatan kasus yang disebut sebagai "diabetes kurus", di antara orang-orang yang tidak mengalami obesitas.

Sophia Sharer, seorang jurnalis asal London, merasa dirinya memenuhi kriteria tersebut. Dia baru berusia 23 tahun ketika hasil tes darah rutinnya secara mengejutkan menunjukkan kadar gula darah yang masuk dalam kategori diabetes.

Perempuan yang kini berusia 26 tahun tersebut menceritakan bahwa ia punya berat badan yang sangat kurang selama masa kanak-kanak hingga remaja.

Di satu titik, dia bahkan sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Ketika berat badannya baru mulai naik di usia 19 tahun, ia justru mulai merasa kondisi fisiknya drop.

"Saya sering merasa sangat lapar dan mendadak gemetaran dalam waktu cepat, rasanya seperti mau pingsan," ujarnya.

Setelah serangkaian tes memastikan bahwa ia tidak mengidap diabetes tipe 1 maupun bentuk kelainan genetik langka lainnya, Sophia mengatakan dokter akhirnya menempatkannya di klinik penanganan diabetes tipe 2 "karena tidak ada pilihan alternatif lain".

Seorang ilmuwan yang terlibat dalam riset identifikasi diabetes tipe 5 memberi tahu Sophia bahwa ia kemungkinan besar memiliki beberapa karakteristik dari kondisi tersebut. Namun, karena saat ini belum ada tes diagnosis resmi yang diakui di UK, kondisi medisnya masih belum bisa dikonfirmasi secara mutlak.
Pengakuan baru di dunia medis

Ketiadaan tes diagnostik yang pasti ini menjadi salah satu alasan mengapa pengakuan terhadap kondisi ini masih simpang siur di tingkat internasional.

WHO sebenarnya pernah mengakui kondisi ini dengan istilah "diabetes terkait malnutrisi" pada tahun 1985, sebelum akhirnya menghapusnya dari klasifikasi resmi 12 tahun kemudian karena para dokter tidak mencapai kesepakatan apakah kondisi tersebut memang berbeda dengan diabetes tipe 2.

Sejak saat itu, kondisi ini praktis menghilang dari buku teks medis utama dan panduan klinis kedokteran.

Titik balik terjadi pada April 2025, ketika Federasi Diabetes Internasional (IDF) secara resmi mengakui kembali kondisi ini. Sebuah studi yang dilakukan oleh lebih dari 50 ilmuwan dan diterbitkan di jurnal Lancet tahun lalu turut mendorong diperolehnya pengakuan tersebut.

Di sisi lain, pihak WHO menyatakan bahwa revisi sistem klasifikasi mereka pada tahun 1999 dan 2006 "tidak menemukan bukti ilmiah yang cukup untuk membenarkan kategori ini sebagai kelompok terpisah".

Meski begitu, WHO mengakui bahwa klasifikasi yang mereka miliki saat ini "tidak dapat mengakomodasi seluruh fitur klinis dari semua kasus diabetes", dan ada kemungkinan tipe 5 akan dimasukkan kembali ke dalam panduan mereka di masa mendatang, "asalkan terdapat bukti berkualitas tinggi" yang mendukungnya sebagai kategori yang berbeda.

Para pendukung klasifikasi baru ini menyebut bahwa pengakuan dari IDF saja sejauh ini sudah sangat membantu pasien untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih tepat.

"Untuk pertama kalinya, dalam waktu dekat akan ada bab khusus di [buku yang ditulis] DeGroot, Endocrinology," kata Dr. Meredith Hawkins, merujuk pada salah satu buku teks kedokteran utama yang menjadi rujukan para dokter di seluruh dunia.
'Saya merasa kuat lagi'

Beberapa lembaga internasional terkemuka—termasuk WHO dan Asosiasi Diabetes Amerika (ADA)—serta sejumlah ilmuwan lainnya, masih mempertanyakan apakah diabetes tipe 5 ini benar-benar ada, terutama sebagai penyakit yang berdiri sendiri.

Seorang pakar diabetes asal India meyakini bahwa apa yang saat ini diberi label sebagai tipe 5 mungkin hanyalah variasi dari diabetes tipe 2 yang terjadi pada orang kurus, atau bentuk lain dari diabetes tipe 1, dan bukan sebuah penyakit baru yang berbeda.

"Jika itu memang Tipe 5, coba beri tahu saya bagaimana cara Anda mendiagnosisnya?" ujar Dr. V Mohan, ketua Dr. Mohan's Diabetes Specialities Centre di Chennai. "Tunjukkan pada saya satu saja indikator penandanya."

Tanpa adanya alat tes diagnostik tunggal, dokter saat ini mendeteksi penyakit lewat pola klinis pasien, termasuk riwayat kurang gizi di masa kecil, berat badan yang rendah, serta respons tubuh yang luar biasa sensitif terhadap insulin.

IDF kini telah membentuk kelompok kerja khusus untuk menyusun kriteria diagnosis formal beserta panduan pengobatannya.

Penelitian awal mengindikasikan bahwa beberapa pasien menunjukkan respons pemulihan yang baik melalui perbaikan nutrisi serta penggunaan obat-obatan yang dipantau secara hati-hati.

Namun, masalah pendanaan tetap menjadi tantangan terbesar di tengah maraknya pemangkasan bantuan luar negeri dan anggaran kesehatan global, termasuk dari para donor besar seperti AS dan Inggris.

Beberapa peneliti juga mengkhawatirkan kondisi ini berisiko menjadi lebih umum di wilayah-wilayah yang tengah dilanda perang, kelaparan, dan krisis pangan.

"Kita tampaknya sedang berada di ambang krisis pangan global yang sangat serius," kata Prof. Hawkins. "Ini akan menjadi kabar yang sangat buruk bagi generasi masa depan."

Sejak menerima diagnosisnya yang telah direvisi, dokter telah mengurangi dosis insulin Noella dan mulai memberinya metformin, obat tablet yang biasa digunakan untuk merawat pasien diabetes tipe 2.

Ia menceritakan bahwa kesehatannya membaik secara drastis: pandangannya yang sempat kabur kini kembali jernih dan berat badannya mulai naik.

"Dulu saya merasa sangat lemah," kenangnya. "Tetapi sekarang, saya merasa jauh lebih kuat". (*)

Tags : Organisasi Kesehatan Dunia, Kesehatan, Diabetes, Penelitian medis, Sains, Biologi,