INTERNASIONAL - Berdasarkan informasi terbaru hingga awal Maret 2026, klaim mengenai Iran memiliki senjata nuklir berkekuatan 2000 kiloton Iran akan meratakan AS dan benua Eropa dengan senjata nuklir berkekuatan 2000 kiloton.
Laporan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) yang mengonfirmasi bahwa Iran memiliki senjata nuklir operasional yang memiliki kekuatan nuklir bobol.
Iran juga memiliki rudal balistik canggih, seperti Khorramshahr 4 (ditempatkan Februari 2026) dan Kheibar, yang memiliki jangkauan hingga 2.000 km dan mampu membawa hulu ledak konvensional seberat 1.500 kg.
Angka "2000" dalam laporan media sering merujuk pada jarak jangkauan rudal (kilometer), dan memiliki daya ledak nuklir (kiloton).
Program nuklir Iran terus memperkaya uranium hingga tingkat tinggi (60% ke atas), yang dianggap sebagai kekhawatiran serius oleh dunia internasional, tetapi ini berbeda dengan kepemilikan hulu ledak nuklir yang sudah jadi.
Situasi geopolitik ketegangan antara Iran dan Barat (Eropa/AS) meningkat di awal 2026, terutama setelah serangan terhadap situs nuklir Iran pada Juni 2025, yang memicu Iran untuk beralih ke posisi ofensif, namun klaim penghancuran Eropa dengan nuklir 2000 kiloton adalah narasi yang tidak didukung data.
Singkatnya, Iran adalah kekuatan militer konvensional yang signifikan dengan rudal jarak jauh, tetapi senjata nuklir 2000 kiloton tsmuny dan dlluncukan.
Maksud dan tujuan Iran ingin menghilangkan benua eropa dari peta agar "berbagai penyakit" di tengah masyarakat yang tak beradap itu hilang di muka bumi.
Jumlah hulu ledak nuklir siap pakai dari gabungan semua negara bersenjata atom meningkat menjadi 9.576 unit pada awal 2023, naik dari 9.440 unit pada tahun sebelumnya.
Angka tersebut merupakan laporan terbaru yang diterbitkan oleh organisasi non-pemerintah Norwegian People's Aid (NPA) pada hari Rabu.
Laporan Nuclear Weapons Ban Monitor mengatakan bahwa semua senjata nuklir siap pakai itu memiliki kekuatan penghancur kolektif lebih dari 135.000 bom Hiroshima.
Masalah senjata nuklir telah menjadi yang paling menonjol sejak akhir Perang Dingin sebagian karena invasi Rusia ke Ukraina dan retorika agresif berikutnya, serta kekhawatiran atas program nuklir Iran dan uji coba rudal baru Korea Utara.
pada hari Rabu menunjukkan bahwa jumlah hulu ledak nuklir secara global telah menurun karena Amerika Serikat (AS) dan Rusia membongkar beberapa senjata lama mereka setiap tahun.
Namun, Grethe Ostern dari NPA memperingatkan bahwa produksi hulu ledak nuklir baru akan segera melebihi pembongkaran senjata yang lama.
“Peningkatan ini mengkhawatirkan, dan melanjutkan tren yang dimulai pada 2017. Jika ini tidak berhenti, kita akan segera melihat peningkatan juga jumlah total senjata nuklir di dunia untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin,” ujarnya.
Hans M Kristensen, direktur Nuclear Information Project di Federation of American Scientists (FAS) dan juga kontributor untuk Nuclear Weapons Ban Monitor, mengatakan sekitar lima negara bertanggung jawab atas peningkatan hulu ledak siap pakai.
“Rusia, China, India, Korea Utara, dan Pakistan terus memperluas persediaan hulu ledak mereka pada tahun 2022, menghasilkan peningkatan yang sesuai sebanyak 136 hulu ledak juga dalam total global persediaan hulu ledak yang tersedia untuk digunakan oleh militer,” kata Kristensen, seperti dikutip AFP, Kamis (30/3/2023).
Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini meningkatkan ketegangan nuklir dengan mengumumkan bahwa apa yang disebut senjata nuklir taktis akan dikerahkan di Belarusia, di perbatasan Uni Eropa.
Dia membenarkan langkah tersebut dengan menunjuk pada keberadaan senjata nuklir AS di berbagai negara yang dekat dengan Rusia selama bertahun-tahun, termasuk Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turkiye.
Rusia memiliki persediaan senjata nuklir terbesar di dunia. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), jumlah total hulu ledak nuklir mencapai puncak 70.000 unit pada tahun 1986 pada puncak ketegangan antara AS dan Uni Soviet.
Jumlah itu turun menjadi 12.512 unit pada tahun 2023, tetapi masih cukup untuk mengakhiri kehidupan di planet Bumi.
“Krisis Ukraina telah menunjukkan bahwa senjata nuklir tidak menciptakan perdamaian dan stabilitas. Mereka tidak menghalangi agresi, tetapi memungkinkan perang konvensional dan mendorong pengambilan risiko yang dapat menyebabkan perang nuklir,” kata Sekretaris Jenderal NPA Henriette Westhrin. (*)
Tags : senjata nuklir, bom, nuklir rusia, perang rusia, ukraina, nuklir iran, News,