MEMINTA maaf itu sulit karena didahului dengan pengakuan akan kesalahan-kesalahan diri. Demikian pula dengan memaafkan.
Kadang kala, kilasan-kilasan ingatan tentang perbuatan buruk yang menimpa diri datang, sehingga tertunda kesempatan memaafkan.
Rasulullah SAW merupakan contoh terbaik dalam hal memaafkan. Sebagai contoh, ketika atas izin Allah SWT beliau akhirnya menguasai Makkah.
Bertahun-tahun sebelumnya, beliau dan para pengikutnya mengalami persekusi dan bahkan siksaan mengerikan hanya karena mempertahankan akidah tauhid.
Puncaknya, mereka mesti hijrah ke Yastrib (lalu menjadi Madinah al-Munawarah). Kira-kira 10 tahun lamanya Rasulullah SAW sebagai pemimpin agama dan politik mengonsolidasi kekuatan di kota tersebut. Akhirnya, pembebasan Makkah (Fathu Makkah) terjadi.
Kini, kaum musyrikin Quraisy yang berada di posisi inferior. Mereka itulah yang telah menyakiti Rasulullah SAW. Banyak di antara mereka juga telah membunuh orang-orang yang beliau SAW cintai.
Bahkan, dikisahkan ketika Rasulullah SAW dan pasukannya memasuki Makkah, ada seseorang yang menatap beliau SAW dengan raut muka ketakutan. Begitu melihatnya, Nabi Muhammad SAW pun bersabda kepadanya, “Janganlah engkau takut, sesungguhnya aku adalah anak seorang perempuan Quraisy yang makan dendeng di Makkah.”
Sewaktu dalam posisi kemenangan, Rasulullah SAW justru merangkul orang-orang yang dahulunya berbuat jahat kepada diri dan umatnya. Dalam kesempatan itu, beliau SAW berkata kepada penduduk Makkah, “Apa yang akan aku katakan dan lakukan menurut perkiraan kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara kami yang pemurah dan putra paman kami yang penyayang.”
Beliau SAW kemudian bersabda, “Aku akan melakukan apa yang dilakukan saudaraku, Nabi Yusuf.”
Sebagaimana diceritakan dalam Alquran, yakni ketika akhirnya Nabi Yusuf mengungkapkan jati dirinya kepada saudara-saudaranya di istana Mesir. Nabi Yusuf memaafkan mereka, padahal mereka-lah yang dahulu sudah tega membuangnya ke dalam sumur; menjauhkannya dari ayahanda tercinta, Nabi Ya’qub AS
Doa Nabi Yusuf diabadikan dalam Alquran surah Yusuf ayat ke-92.
قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْۖ وَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
Artinya, “Dia (Yusuf) berkata: ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Mendengar pernyataan Nabi SAW itu, maka lega hati orang-orang Makkah. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan suka cita. Lepas sudah gundah-gulana. Justru yang terjadi, mereka seluruhnya kemudian memeluk Islam.
Tentang sifat pemaaf ini, simaklah hadis Rasulullah SAW berikut, sebagaimana dimuat dalam Shahih Muslim.
“Ada tiga hal yang barangsiapa terdapat padanya tiga hal itu, (maka) dia akan dilindungi oleh Allah, dan Allah akan merahmatinya dan akan memasukkan ke surga-Nya, yaitu (1) bila dia diberi, dia bersyukur, (2) bila dia mampu melakukan pembalasan, dia memberi maaf, dan (3) bila ia marah, surut amarahnya."
Balas dengan senyum dan kebaikan
Imam al-Ghazali dalam karya Ihya Ulum ad-Din menuturkan kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemaaf. Rasulullah SAW membalas keburukan-keburukan yang banyak orang lakukan padanya dengan kebaikan.
Pada suatu ketika, Nabi SAW bepergian dengan seorang sahabatnya, Anas bin Malik. Keduanya berjalan biasa saja.
Tiba-tiba, dari arah belakang seorang lelaki berteriak-teriak, “Ya Muhammad! Ya Muhammad!” Sebelum Nabi SAW membalikkan badannya, seketika pria tersebut menarik selendang Najrani yang dikenakan beliau.
Tarikan itu sangat kuat. Bahkan, menurut kesaksian Ibnu Malik, leher Rasulullah SAW langsung tercekik. Dengan wajah merah padam, sang sahabat menengok.
Tampak dari perangai dan cara bicaranya, lelaki yang sedang menarik keras kain Nabi SAW itu adalah seorang Badui. “Aku melihat leher Rasulullah SAW. Tepi selendang yang kasar membekas pada leher beliau karena tarikan yang keras dari Si Badui,” tutur Anas dalam riwayatnya.
Sambil melepas genggamannya, lelaki yang tak dikenal itu berkata dengan membentak dan nada memaksa, “Muhammad! Berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu!”
Raut wajah Rasul SAW sama sekali tidak menampakkan rasa terganggu, apatah lagi marah. Dengan tersenyum, beliau menyanggupi permintaan si Badui. Kemudian, Ibnu Malik diperintahkannya untuk memberikan bekal perjalanan beliau kepada lelaki asing ini.
Mengomentari kisah di atas, Imam al-Ghazali mengatakan, Nabi SAW dengan itu menunjukkan keutamaan bersabar atas keburukan atau perilaku yang tidak menyenangkan. Dengan kesabaran, seorang Mukmin sedang membuktikan daya tahan akhlaknya yang karimah. Seakan-akan menyatakan, “Anda mungkin berbuat buruk kepada saya. Namun, dari saya hanya ingin berbuat baik, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasul SAW.”
Puluhan tahun berdakwah, Nabi SAW sering mendapatkan perlakuan yang kasar dan bahkan keji dari kaum musyrikin. Pernah seseorang melempari kepala Rasulullah SAW dengan kotoran kala beliau sedang sujud dalam shalatnya. Tindakan itu tidak dibalasnya dengan ledakan emosional, melainkan kesabaran dan munajat kepada Allah SWT.
Pernah beliau berdoa, semoga Rabb semesta alam berkenan menjadikan dari keturunan Bani Quraisy orang-orang yang beriman lagi beramal saleh. Begitu pula doanya sesudah menerima lemparan kerikil dan batu dari orang-orang Thaif. “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Dalam kisah lain, kesabaran Rasul SAW pada akhirnya menjadi jalan hidayah bagi seseorang. Tersebutlah cerita tentang seorang wanita tua yang nyaris selalu meludahi Nabi SAW kala berpapasan depan rumah. Saking seringnya, beliau sempat bertanya-tanya. Sebab, pada suatu hari ketika melewati rumah nenek tersebut, beliau tidak menerima tindakan kasar sebagaimana biasanya.
Akhirnya, Rasulullah SAW mengetahui bahwa perempuan tersebut sedang sakit. Kalau insan biasa dengan kecenderungan dendam, boleh jadi bergembira saat mendengar kabar buruk yang menimpa pihak pengganggu.
Nabi SAW sama sekali tidak senang. Begitu mendapati kabar itu, beliau menjenguk nenek itu. Dan, perempuan ini tidak menyangka, sosok yang sering dihinanya akan bersedia membesuknya.
Tindakan beliau menggugah hati nenek ini. Perempuan tersebut menangis di dalam hatinya, "Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku."
“Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?" tanya wanita ini.
“Aku yakin engkau meludahiku karena belum mengetahui tentang kebenaran risalah Islam. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya,” jawab beliau.
Dengan penuh kesadaran, nenek tersebut berkata sebelum bersyahadat, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.”
Tags : hikmah idul fitri, idul fitri 2026, lebaran 2026, mudik lebaran 2026, hikmah idul fitri, ramadhan 2026, ramadhan 1447 h, bulan puasa,