Riau   2025/12/24 10:35 WIB

Izin Investasi CEOR Minas Disetujui, PHR Siap Tancap Gas Tingkatkan Produksi Blok Rokan 1 Juta Barel 2030

Izin Investasi CEOR Minas Disetujui, PHR Siap Tancap Gas Tingkatkan Produksi Blok Rokan 1 Juta Barel 2030

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Pemprov Riau menaruh harapan besar pada peningkatan produksi migas di Blok Rokan sebagai jalan keluar atas menurunnya Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pembangunan daerah.

Harapan itu menguat seiring diresmikannya injeksi perdana Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Tahap 1 oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto menegaskan, Pemprov Riau memberikan dukungan penuh terhadap seluruh upaya peningkatan produksi hulu migas, khususnya di wilayah kerja Blok Rokan.

Ia menyebut, langkah konkret seperti penerapan teknologi CEOR menjadi kunci strategis dalam mengejar target produksi nasional 1 juta barel minyak per hari pada 2030.

Hariyanto mengingatkan bahwa pencanangan target tersebut telah dimulai sejak peresmian awal bersama Presiden RI pada 1 Juni 2024 di Dumai, saat dirinya masih menjabat sebagai Pj Gubernur Riau.

“Saya ini dulu waktu Pj Gubernur mendampingi Pak Presiden peresmian pencanangan pada 1 Juni 2024 di Dumai," ucap SF Hariyanto.

"Sekarang sudah Plt, saya juga ikut acara peresmiannya. Karena target kita jelas, 1 juta barel per hari di 2030. Sekarang sudah satu tahun berjalan,” sambungnya.

Namun di balik optimisme produksi, Pemprov Riau juga mencatat tantangan serius pada sisi fiskal daerah.

Hariyanto mengungkapkan, DBH Migas Riau yang sebelumnya mencapai Rp3,5 triliun kini mengalami penurunan signifikan pada 2024.

“Alhamdulillah, dulu kami dapat 3,5 triliun dana bagi hasil migas. Tapi 2024 ini jauh turun. Karena saat ini sama-sama kita sedang beroperasi dan investasi dulu. Mudah-mudahan nanti barelnya naik, kami juga dapat bagian,” jelasnya.

Menurutnya, keberlanjutan DBH Migas menjadi krusial karena dana tersebut langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga layanan publik.

“Kami berharap peningkatan produksi dari teknologi ini berdampak langsung pada keberlanjutan Dana Bagi Hasil Migas. Dana ini kembali ke rakyat Riau untuk membangun jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Untuk memastikan iklim investasi dan operasi migas berjalan optimal, Pemprov Riau telah membentuk Satgas Percepatan Operasi Hulu Migas.

Satgas ini berfungsi memperkuat koordinasi lintas sektoral antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan pelaku industri migas.

“Komitmen kami jelas. Melalui Satgas Percepatan Operasi Hulu Migas, kami hadir sebagai mitra strategis, memastikan keamanan investasi dan mendukung agar operasi hulu migas di Riau berjalan aman dan optimal,” lanjutnya.

Hariyanto juga menegaskan bahwa Riau harus tetap menjadi daerah yang ramah bagi investasi strategis nasional.

Menurutnya, keberhasilan sektor migas di Riau tidak hanya berdampak pada daerah, tetapi juga menjadi bagian penting dari ketahanan energi nasional.

“Kami ingin memastikan Riau tetap menjadi rumah yang ramah bagi investasi strategis nasional. Selamat kepada PHR, SKK Migas, dan Pertamina Persero,” ucapnya.

Lebih jauh, ia turut menyuarakan aspirasi pemerintah kabupaten penghasil migas, khususnya Kabupaten Siak, yang sangat berharap peningkatan DBH Migas untuk memperbaiki infrastruktur dasar.

“Bupati Siak sangat berharap dana bagi hasil. Jalannya banyak yang rusak. Kalau belok ke arah Siak, jalannya lubang semua. Inilah yang kami butuhkan. Kami berharap peningkatan produksi PHR bisa berkontribusi langsung ke daerah,” ungkapnya.

SF Hariyanto berharap injeksi perdana CEOR dapat berjalan lancar dan mampu melampaui target produksi yang telah ditetapkan.

“Semoga injeksi perdana hari ini berjalan lancar. Mari kita jaga aset negara ini bersama-sama. Dari Riau, kita alirkan energi untuk Indonesia Maju,” pungkasnya.

Sebelumnya,  SF Hariyanto telah meresmikan Injeksi Perdana Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Tahap 1 di wilayah kerja Blok Rokan, Selasa (23/12/2025).

“Provinsi Riau memiliki takdir sejarah sebagai lumbung energi bagi republik ini. Sejak 1944, Lapangan Minas telah mengalirkan miliaran barel minyak untuk menggerakkan pembangunan bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Riau menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan sektor energi nasional melalui optimalisasi lapangan minyak tua yang telah berproduksi selama puluhan tahun.

Dalam sambutannya, SF Hariyanto menyampaikan bahwa Provinsi Riau memiliki peran historis yang sangat penting dalam perjalanan sektor energi Indonesia.

Sejak ditemukannya Lapangan Minas pada tahun 1944, Riau telah menjadi salah satu daerah penopang utama produksi minyak bumi nasional.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa lapangan minyak memiliki siklus usia yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, tantangan sektor migas saat ini bukan lagi semata menemukan cadangan baru, melainkan menjaga dan mengoptimalkan lapangan yang telah ada agar tetap produktif.

“Tantangan hari ini bukan sekadar mencari cadangan baru, tetapi bagaimana merawat dan mengoptimalkan aset yang sudah ada agar terus memberikan manfaat,” katanya.

Pemprov Riau, lanjut SF Hariyanto, menyambut baik sekaligus mengapresiasi peresmian Injeksi Perdana CEOR Tahap 1 di Lapangan Minas. Proyek ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperpanjang usia produksi salah satu lapangan minyak tertua dan terpenting di Blok Rokan.

Ia menilai proyek CEOR tidak hanya menjadi kegiatan teknis di sektor hulu migas, tetapi juga menandai dimulainya fase baru pengelolaan Blok Rokan yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

“Proyek ini bukan sekadar proyek teknis, melainkan simbol napas baru bagi keberlanjutan Blok Rokan dan ketahanan energi nasional,” tegasnya.

Teknologi CEOR yang diresmikan menggunakan metode ASP, yakni Alkali, Surfaktan, dan Polimer. Metode ini dirancang untuk meningkatkan perolehan minyak dari reservoir yang telah lama berproduksi dan sebelumnya sulit dioptimalkan.

Yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Provinsi Riau, formulasi kimia dalam teknologi ASP tersebut merupakan hasil inovasi anak bangsa. Seluruh proses riset dan pengembangan teknologi ini dilakukan oleh para perwira Pertamina.

“Saya mendapat laporan bahwa formulasi kimia yang menjadi kunci teknologi ini merupakan hasil inovasi murni anak bangsa. Ini membuktikan bahwa kita tidak lagi bergantung sepenuhnya pada teknologi asing,” jelasnya.

Lebih jauh, SF Hariyanto menilai keberhasilan ini menjadi bukti kapasitas sumber daya manusia Indonesia dalam melahirkan solusi teknologi kelas dunia, termasuk untuk menjawab tantangan kompleks di sektor energi.

“Putra-putri Indonesia, termasuk yang bekerja di tanah Riau, mampu menghadirkan solusi kelas dunia untuk menjawab tantangan energi masa depan,” pungkasnya. (*)

Tags : Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, Plt Gubri Resmikan CEOR Minas Tahap 1, Pemprov Riau Komitmen Kejar Target 1 Juta Barel 2030 ,