Riau   2026/10/25 21:38 WIB

KADIN Tekankan pada 100 UMKM untuk Perhatikan Keuangan Usaha

KADIN Tekankan pada 100 UMKM untuk Perhatikan Keuangan Usaha

PEKANBARU – Kemampuan meningkatkan penjualan belum tentu menjamin usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkembang secara berkelanjutan.

Tanpa pencatatan transaksi yang tertib, pemisahan uang pribadi dan modal usaha, serta pengendalian biaya operasional, pelaku usaha berisiko kesulitan mengetahui kondisi keuangan bisnis yang sebenarnya.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Pekanbaru bersama Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Pekanbaru dan DPC Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Kota Pekanbaru melalui pelatihan bisnis Kelas Bagus Jilid 1.

Kegiatan bertema UMKM Cerdas, Keuangan Beres, Bisnis Maju itu diikuti sekitar 100 pelaku UMKM di Ballroom Cititel Hotel, Jalan Sisingamangaraja, Pekanbaru, Sabtu (24/10).

Pelatihan tersebut menitikberatkan pada penguatan manajemen keuangan sebagai salah satu fondasi keberlangsungan usaha.

Materi yang diberikan meliputi pencatatan arus kas, pemisahan keuangan pribadi dan bisnis, pengendalian biaya, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana.

Ketua Kadin Kota Pekanbaru, Datuk Seri Rizky Bagus Oka SM MM mengatakan, pelaku UMKM perlu memperkuat kemampuan mengelola keuangan, bukan sekadar mengejar peningkatan omzet.

"Pengelolaan keuangan menjadi salah satu fondasi penting bagi UMKM untuk berkembang. Pelaku usaha tidak cukup hanya fokus meningkatkan penjualan, tetapi juga harus memahami arus kas, memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha, serta membuat pencatatan keuangan yang tertib," jelas Rizky, Minggu (25/10).

Rizky menilai, tata kelola keuangan yang tertib dan terstandar dapat membantu pelaku usaha memahami kondisi bisnis secara lebih terukur.

Pencatatan yang baik juga menjadi bekal ketika UMKM ingin memperluas kapasitas produksi, merencanakan investasi, maupun mengakses pembiayaan.

Melalui inisiatif "Baguskan Pekanbaru!", ia mendorong penguatan ekosistem kewirausahaan lokal melalui peningkatan kemampuan manajerial para pelaku usaha.

Menurutnya, keberlanjutan program pelatihan menjadi hal penting agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai materi seminar, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

"Harapan kita, Kelas Bagus ini tidak berhenti di jilid pertama. Kita ingin kegiatan ini berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pelaku UMKM agar semakin siap menghadapi persaingan dan membawa usahanya naik kelas," ujar Rizky, yang juga merupakan Anggota Komisi II DPRD Pekanbaru bidang perekonomian.

Dalam pelatihan tersebut, Ketua PPJI Kota Pekanbaru, Harrio Ismi Caneca BBus MBus RFA, membahas perencanaan keuangan operasional, efisiensi rantai pasok, serta pengendalian biaya produksi.

Materi ini terutama relevan bagi pelaku usaha jasa boga dan kuliner yang harus menjaga keseimbangan antara harga bahan baku, biaya tenaga kerja, pengeluaran operasional, dan harga jual produk.

Bagi bisnis kuliner, peningkatan omzet tidak otomatis menghasilkan keuntungan lebih besar apabila biaya produksi dan pemborosan bahan baku tidak terkendali.

Karena itu, penghitungan biaya secara cermat diperlukan untuk menentukan harga jual yang realistis sekaligus menjaga daya saing usaha.

Sementara itu, Founder CV Akuntakita sekaligus Ketua TDA Pekanbaru, Agus Trianto SE, memberikan materi mengenai praktik akuntansi sederhana, penyusunan laporan keuangan terstandar, serta pemanfaatan aplikasi digital untuk mencatat transaksi dan memantau perkembangan bisnis.

Pencatatan digital diharapkan memudahkan pelaku UMKM memantau pemasukan, pengeluaran, dan posisi keuangan usaha.

Dengan data yang lebih teratur, keputusan bisnis dapat didasarkan pada kondisi keuangan aktual, bukan sekadar perkiraan.

Partisipasi sekitar 100 pelaku UMKM menunjukkan adanya kebutuhan terhadap pembelajaran manajemen bisnis yang praktis.

Namun, ukuran keberhasilan program semacam ini tidak cukup hanya dilihat dari jumlah peserta atau antusiasme selama kegiatan berlangsung.

Dampak yang lebih penting adalah sejauh mana peserta menerapkan pencatatan keuangan secara konsisten, mampu mengendalikan biaya, memahami keuntungan bersih, serta menyusun laporan keuangan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Pendampingan setelah pelatihan juga berpotensi menjadi faktor penentu.

Tanpa evaluasi dan penerapan berkelanjutan, pengetahuan yang diperoleh peserta berisiko tidak berkembang menjadi kebiasaan pengelolaan usaha.

Kadin Pekanbaru bersama TDA dan PPJI menargetkan Kelas Bagus Jilid 2 dapat diselenggarakan dalam waktu dekat.

Program lanjutan tersebut diharapkan menjangkau lebih banyak pelaku UMKM sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam mengelola administrasi, menjaga kesehatan keuangan, dan menghadapi persaingan bisnis.

Ke depan, tantangan bagi penyelenggara bukan hanya memperluas jumlah peserta, melainkan memastikan pelatihan menghasilkan perubahan nyata dalam tata kelola usaha.

Bagi UMKM, disiplin keuangan merupakan salah satu modal penting agar pertumbuhan bisnis tidak berhenti pada peningkatan penjualan, tetapi berlanjut menjadi usaha yang sehat dan berkelanjutan. (*)

Tags : kadin, kamar dagang indonesia, kadin perhatikan umkm, usaha mikro kecil menengah, pentingnya keuangan usaha umkm,