PAYAKUMBUH - Menelusuri kawasan tepi Batang Agam di Kecamatan Payakumbuh Barat banyak menyuguhkan pemandangan spektakuler.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini bertransformasi menjadi magnet ekonomi baru, sebuah ruang publik yang hidup dan megah, dihiasi semaraknya puluhan pedagang kuliner yang menyajikan aneka santapan lezat, segar, dan menggugah selera.
Denyut transaksi di sepanjang bantaran sungai ini tak sekadar memanjakan lidah masyarakat, tetapi menjadi urat nadi perekonomian warga lokal.
Namun, di tengah gelombang kebangkitan ekonomi kerakyatan tersebut, langkah para pelaku usaha justru terganjal aturan yang mengunci aksesibilitas.
Pemasangan rambu larangan melintas bagi kendaraan roda dua maupun roda empat di titik-titik vital pedagang ibarat menyuntikkan kelumpuhan perlahan pada potensi UMKM yang tengah mekar.
Pembatasan ini secara drastis menggerus animo pengunjung untuk singgah dan berbelanja.
Keprihatinan mendalam dilontarkan oleh toko masyarakat sekaligus mantan birokrat senior Payakumbuh, Husin Daruhan.
Ia menyayangkan hadirnya regulasi yang terkesan kontraproduktif di saat semangat kemandirian ekonomi masyarakat sedang membumbung tinggi.
"Sayangnya, di tengah keramaian dan geliat yang indah ini, ada-ada saja persoalan yang semestinya tidak perlu dipersoalkan," kata Husin Daruhan dengan nada prihatin, Minggu (30/8).
"Pemasangan rambu larangan (Perboden.Red) berjualan dan rambu-rambu kendaraan roda empat dan roda dua menuju lokasi secara langsung memukul tingkat kunjungan masyarakat," sebutnya lagi.
Husin menegaskan, kawasan Batang Agam adalah benteng ekonomi riil tempat bertemunya konsumen dan produsen secara alami.
"Kehadiran negara dan pemangku kebijakan seharusnya menjadi penguat, bukan penahan laju pertumbuhan tersebut."
"Seharusnya lokasi pinggir Batang Agam yang sudah diramaikan oleh ruang interaksi konsumen dan produsen ini kita suburkan bersama, kita rawat ekosistemnya. Bukan malah dihalangi atau dibatasi dengan barisan rambu larangan tepat di depan tempat mereka mencari nafkah," tegasnya.
Dampak pelarangan akses tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di garis depan.
Lina (28), salah seorang pedagang kuliner yang menggantungkan hidupnya di bantaran Batang Agam, menumpahkan kekecewaan sekaligus harapannya agar ada kebijakan yang lebih humanis dan berpihak pada nasib rakyat kecil.
Geliat ekonomi di Batang Agam kini menanti sentuhan kebijakan yang berorientasi solusi, agar pesona kawasan kuliner kebanggaan warga Payakumbuh ini tetap menyala dan memberi kesejahteraan bagi sesama.
"Sejak rambu larangan ini dipasang, omzet kami terjun bebas karena pembeli malas berjalan jauh hanya untuk membeli makanan. Kami berjualan dari pagi sampai malam menggantungkan nasib di sini," ungkap Lina dengan nada haru.
"Kami mohon dengan sangat kepada pemerintah daerah untuk mengevaluasi kebijakan ini. Jangan biarkan mata pencaharian kami mati mendadak; carikan solusi penataan parkir yang bijak tanpa harus menutup total akses kendaraan pengunjung," tambahnya. (rp.elf/*)
Tags : kuliner, kawasan kuliner, batang agam, payakumbuh, batang agam spektakuler, pedagang batang agam terancam rambu larangan,