Bisnis   2025/09/25 9:44 WIB

Kebersihan Kawasan Kuliner Jalan Cut Nyak Dien Masih Jadi Sorotan yang Bisa Bahayakan Keselamatan Pengunjung

Kebersihan Kawasan Kuliner Jalan Cut Nyak Dien Masih Jadi Sorotan yang Bisa Bahayakan Keselamatan Pengunjung
Larshen Yunus, Ketua DPD I KNPI Riau

PEKANBARU - Kebersihan di kawasan kuliner Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru masih menjadi sorotan dan dikeluhkan para pengunjung.

Persoalan kebersihan di kawasan kuliner malam Jalan Cut Nyak Dien ini juga mendapat sorotan dari legislator. Kuliner malam Cut Nyak Dien ini mengelilingi bangunan kantor Gubernur Riau, Perpustakaan Wilayah, hingga Bank Indonesia.

Kawasan ini dikenal sebagai pusat kuliner yang ramai dikunjungi oleh warga Pekanbaru, terlebih lagi kaum muda-mudi.

Tetapi tokoh pemuda dari Organisasi kepemudaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Riau melihat pasar kuliner di Kota Pekanbaru terus menunjukkan geliat yang menjanjikan.

"Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2024, jumlah penduduk Riau telah mencapai 7 juta jiwa."

"Besarnya populasi ini menjadikan sektor makanan dan minuman sebagai pasar potensial, mengingat keduanya merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Tak hanya jumlah penduduk, kekuatan pasar kuliner juga diperkuat oleh keberadaan kelas menengah," kata Larshen Yunus, Ketua DPD I KNPI Riau menyikapinya.

Jadi jumlah masyarakat kelas menengah juga terdata siknifikan, begitu pun yang berada pada tahap menuju kelas menengah, "kehadiran kelas menengah ini bukan hanya menjadi penopang konsumsi di daerah, melainkan menciptakan peluang besar bagi pelaku usaha kuliner," sebutnya.

Larshen menilai, tingginya minat masyarakat terhadap kuliner juga dipengaruhi oleh gaya hidup dan budaya sosial masyarakat Indonesia.

“Walaupun orang bicara tentang serba-online, nyaman belanja online dan sebagainya, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataannya nature orang Riau atau kebiasaan masyarakatnya adalah ngeriung atau kumpul,” ujarnya.

Larshen menjelaskan, makanan tak hanya menjadi kebutuhan pokok, tapi juga mencerminkan kehidupan sosial dan identitas budaya. Apalagi, konsumen urban di kota terus mencari pengalaman kuliner baru yang bisa dinikmati bersama keluarga maupun kolega.

“Mereka ingin satu tempat banyak tujuan, anak bisa main, shopping bisa, ngopi bisa, makan bisa. Bayangkan kalau tempatnya beda-beda, tidak satu lokasi? Habis waktunya di jalan,” katanya.

Ia optimistis, bisnis kuliner akan semakin bertumbuh tahun ini. “Pertama, kompetitor itu tumbuhnya luar biasa. Kedua, di manapun ada tempat makan baru itu pasti ‘digeruduk’. Ketiga, didukung dengan perkembangan media sosial. Kalau sudah bicara soal hidden gem, itu dikejar. Apalagi kalau konsepnya menarik dan aksesnya mudah, sudah pasti ramai,” lanjut Larshen.

Kreativitas dan lokasi jadi kunci, hal ini menurutnya, pelaku usaha perlu cermat memanfaatkan tren dan menciptakan ide pemasaran kreatif.

Salah satu contoh sukses adalah selebgram Arief Muhammad yang mempopulerkan restoran Padang miliknya, Payakumbuah.

“Dia menciptakan satu pesan dan hal yang kreatif, nyentrik, berani beda, dan menimbulkan kesan yang ‘Wah kayaknya teman saya perlu tahu (informasi) ini,’ makanya nanti di-forward, tagging, atau masukkan di grup WA,” tutur Larshen.

Ia menyebut Arief memanfaatkan tren KEPO (Knowledge of Every Particulate Object) dan FOMO (Fear of Missing Out), dua istilah yang menggambarkan keinginan masyarakat untuk tidak tertinggal tren.

“KEPO dan FOMO merupakan dua perilaku yang banyak terlihat di dunia modern, khususnya di era digital. Di Indonesia, kedua tren ini terlihat dengan meningkatnya penggunaan Internet dan media sosial. Arief melihat itu dan memanfaatkannya,” jelasnya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa viralitas saja tidak cukup. Lokasi usaha tetap menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan sebuah bisnis.

“Viralitas memang penting ya, namun jangan lupa lokasi dan konsep usaha juga lebih powerfull karena dapat meningkatkan visibilitas bisnis, mempermudah konsumen dalam mengakses produk atau layanannya,” ujarnya lagi.

Lain lagi disebutkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru, Roni Pasla tentang kawasan kuliner Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru ini.

"Kalau soal sampah, pagi hari biasanya sudah diangkat dan bersih. Tapi jalan yang berminyak itu jadi masalah. Limbah minyak harus disiram, dicuci pakai bahan kimia supaya standar jalan kembali setiap hari. Kalau tidak, ya tetap berminyak, menimbulkan bau, dan berisiko kecelakaan," kata Roni Pasla, Senin (22/9).

Menurut Roni, permasalahan yang muncul bukan hanya soal sampah plastik atau sisa makanan, melainkan juga limbah minyak yang menimbulkan bau menyengat serta berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Ia menegaskan, standar kebersihan jalan di pusat kuliner harus diperhatikan dengan serius. Jangan hanya mengutamakan tampilan bersih dari sampah plastik, sementara faktor lain yang lebih berbahaya justru diabaikan.

"Jalan yang berminyak itu tidak standar, apalagi baunya menyengat di siang hari. Jadi bukan sekadar kelihatan tidak ada sampah, lalu dianggap sudah bersih. Harus ada standarisasi yang jelas," tegasnya.

Dia juga menyoroti produksi sampah harian di kawasan Cut Nyak Dien yang cukup besar. Menurutnya, perlu ada kajian khusus mengenai angkutan, tenaga kebersihan, hingga sistem pengelolaan limbah yang sesuai standar.

"Kalau ada konsentrasi kegiatan di satu titik, harus ada perlakuan khusus sesuai standar. Sekarang kegiatannya kuliner, maka standar kebersihannya juga harus berbeda. Tidak bisa disamakan dengan event lain, misalnya konser. Setiap kegiatan punya treatment berbeda," jelasnya.

Roni menambahkan, Pemerintah Kota Pekanbaru bersama stakeholder terkait perlu segera menyusun konsep penanganan yang tepat agar kebersihan dan keamanan kawasan kuliner malam dapat terjaga dengan baik. (*)

Tags : kuliner, pekanbaru, kuliner Jalan Cut Nyak Dien, kuliner jadi sorotan, kebersihan kawasan kuliner jadi sorotan,