
KETIKA bepergian untuk suatu pekerjaan, saya mampir ke sebuah kafe untuk mengonsumsi kafein pada pagi hari.
Karena kurang tidur, saya bersyukur beberapa menit kemudian disajikan kopi dengan metode pour over - menuangkan air ke kopi bubuk dan disaring menggunakan filter.
Tetapi ketika saya meminta sedikit gula, si barista dengan tegas menolak, memberi tahu saya bahwa mereka tidak menawarkannya.
Saya pribadi terbiasa dengan budaya kedai kopi yang penjualnya bertanya, 'Anda ingin minum kopi seperti apa?' Saya jelas kesal diperlakukan demikian oleh sang barista, namun saya tidak punya pilihan selain meminumnya tanpa pemanis.
Sebenarnya, kopi itu cukup enak. Ternyata saya menemukan Oddly Correct Coffee Bar, sebuah kafe di Kansas City, Missouri.
Sebuah kafe yang ternyata dianggap banyak foodie alias penikmat makanan, sebagai salah satu tempat kopi terbaik di AS.
Bagian dari pesonanya adalah penegakan aturan budaya minum kopi yang ketat.
Oddly Correct adalah bagian dari generasi baru kedai kopi kelas atas yang telah mengadopsi kebijakan tanpa toleransi pada gula, susu dan krim untuk menjaga kualitas kopi.
Yang lain hanya memilih untuk tidak menjual minuman berbasis espresso yang lebih kecil 'untuk dibawa' karena mereka merasa rasanya akan kurang enak jika tidak dinikmati segera.
Sering disebut kedai kopi Third Wave (gelombang ketiga), para penggemar kopi ini menggunakan biji kopi berkualitas tinggi yang mereka rasa harus dikonsumsi tanpa dicemari oleh rasa tambahan (bahkan yang ingin ditambahkan oleh pelanggan mereka).
Banyak kedai kopi 'garis keras' tanpa toleransi ini merasa bahwa mereka sekedar mendidik kembali konsumen dengan menerapkan aturan-aturan ini, tetapi masalahnya adalah polarisasi.
"Untuk mengatakan 'kami sangat berkualitas sehingga kami memiliki aturan ini', telah berhasil di beberapa tempat. Beberapa pelanggan melihat aturan itu dan berkata 'wow, orang-orang ini menganggapnya sangat serius',"kata Sarah Leslie, anggota Barista Guild Leadership Council, sebuah grup perdagangan untuk barista kopi spesial di Eropa dan Amerika Utara.
"Tapi itu juga bisa mengasingkan orang yang baru saja masuk ke kopi khusus (specialty coffee)," tambahnya.
Yang telah mendapatkan status ini termasuk Aunty Peg's di Melbourne dan Kontact Coffee di Budapest yang percaya bahwa pelanggan mereka harus menghindari gula, susu, dan krim.
Tetapi jumlah kedai kopi tanpa toleransi masih sangat kecil dibandingkan lebih dari 32.150 kedai kopi di AS, termasuk 7.720 yang berdiri independen, menurut data 2016 dari Mintel, sebuah perusahaan riset pasar.
Tentu saja, apa yang disebut kebijakan tanpa toleransi tidaklah unik untuk kopi saja dan ini berkembang di seluruh sektor layanan makanan.
Belakangan, lebih banyak restoran menolak untuk menyajikan steak dengan matang, melayani permintaan untuk menyajikan menu yang berbeda atau bahkan menyajikan bumbu yang mungkin diminta beberapa pelanggan.
"Mendapatkan makanan yang disajikan seperti yang dimaksudkan dan mempertahankan konsistensi hari demi hari mulai mendapatkan momentum dalam industri," kata Darren Tristano, pakar pemasaran dan tren dalam industri makanan yang berbasis di Chicago, AS.
Untuk bisnis makanan itu berarti memberikan kualitas yang lebih baik dan layanan yang lebih cepat kepada pelanggan, yang membantu mengimbangi kekecewaan untuk "pelanggan yang terbiasa dengan pilihan", tambahnya.
Mengakomodasi, tetapi tidak menghasilkan'
Di Black Black Coffee di Denver, slogannya adalah: 'Jika kopi Anda perlu ditambahkan sesuatu, maka kopi itu rusak.'
Menjadikan kebijakan 'tidak ada tambahan 'dalam namanya telah membantu mengelola harapan pelanggan baru, kata pemilik Josh McNeilly.
Pelanggan dapat membeli minuman pour over dan cold brew (kopi yang 'direndam' dengan air suhu ruang atau suhu dingin), tetapi gula dan susu tidak ditawarkan.
Beberapa minuman klasik seperti macchiato, cortado, dan cappuccino memang datang dengan susu tetapi bukan gula, tambahnya.
Idenya adalah untuk membiarkan pelanggan merasakan kualitas biji kopi dari tempat-tempat seperti Kolombia dan Ethiopia, dan mendeteksi rasa dan wangi yang berbeda seperti mencicipi segelas anggur.
Bagi McNeilly, setelah berpuluh-puluh tahun menjadi barista dan pembeli kopi, aturan itu sangat jelas.
"Sebagai seorang barista, Anda akan memberi tahu mereka bahwa ini adalah salah satu kebun kopi terbaik di Bumi dan mereka langsung menuang krim dan gula ke dalamnya tanpa mencobanya," katanya. "Itu memilukan."
Di Oddly Correct, tempat saya pertama kali menemukan tren ini, aturannya sedikit santai.
Bulan lalu, toko itu mulai menyetok susu dan krim di belakang bar untuk orang-orang yang bertanya (masih tidak diletakkan di tempat terbuka dan dituangkan secara diam-diam selama beberapa bulan sebelumnya) untuk menjadi lebih inklusif, kata Mike Schroeder, pemilik kedai sekaligus yang bertanggung jawab untuk memanggang kopi.
Gula masih tidak boleh, tetapi melonggarkan kebijakan dengan menambahkan susu ke kopi yang diseduh telah menyebabkan peningkatan dalam bisnis, katanya.
Meskipun sedikit orang yang benar-benar meminta krim, mengetahui bahwa krim itu tersedia telah membantu mengubah citra toko untuk lebih menerima berbagai pilihan kopi, imbuhnya.
"Kami menyadari bahwa kami harus sedikit lebih longgar untuk membimbing orang ke dalam pengalaman [kopi] itu."
Oddly Correct juga menambahkan beberapa minuman yang lebih manis: vanilla latte yang diberi pemanis sirup bourbon buatan lokal, misalnya.
Barista telah melunakkan cara mereka membahas kebijakan. "Kami telah belajar bagaimana memperbaiki bahasa kami dan pendekatan kami dengan cara yang masih ramah dan akomodatif, tetapi tidak menyediakan setiap permintaan khusus," tambahnya.
'Keinginan untuk mendidik'
Kedai kopi tanpa toleransi di pasar yang lebih besar mungkin melihat manfaat paling besar.
Dengan pelanggan yang fokus pada persiapan yang teliti, permintaan untuk meminum kopi hitam dapat dilihat sebagai tanda kualitas, tambah Leslie, yang memiliki toko di Wichita, Kansas, tempat kopi manis dengan susu masih populer.
Di kota-kota global yang lebih besar, "adalah hal positif bagi mereka untuk dilihat sebagai orang yang mengerti kopi," tambahnya.
Beberapa peminum kopi mengatakan toko-toko itu telah membantu mereka belajar tentang kopi - dan mereka akhirnya mengubah preferensi mereka. "Untuk sehari-hari saya sekarang lebih suka hitam," kata Charles Carpenter, seorang desainer grafis berusia 49 tahun yang mengunjungi Black Black di Denver.
Tapi dia belum sepenuhnya melepaskan keinginan meminum kopi yang lebih manis, terutama selama bulan-bulan yang lebih dingin.
"Rahasia kecil saya adalah saya suka minum eggnog latte di sepanjang akhir tahun," kata Carpenter.
Di Black Black, McNeilly mengakui bahwa kebijakannya tidak selalu baik untuk bisnis dan tokonya kadang-kadang berjuang untuk menghasilkan keuntungan bulanan.
"Pendapatannya bisa dengan mudah dua kali lebih menguntungkan jika saya menyajikan krim dan gula dan latte yang lebih besar, tetapi hasrat saya untuk mencoba mengedukasi orang-orang tentang bagaimana rasanya kopi," katanya.
Sebagian besar pelanggan adalah pelanggan tetap dan kembali beberapa kali sepanjang minggu.
Pour over yang disajikan toko disebutkan dalam daftar yang harus dicoba di daerah itu dan sekarang juga menyajikan makanan, menjadikannya lebih sebagai tujuan bagi pelanggan dari jauh.
Cascara latte juga telah ditambahkan untuk mereka yang doyan manis, menggabungkan buah cascara yang mengelilingi tanaman kopi dengan sedikit sirup dan susu panas.
Untuk mengurangi komentar negatif, McNeilly melatih timnya tentang cara menjelaskan filosofi toko kepada pelanggan yang datang pertama kali.
Barista fokus membantu pelanggan memahami mengapa susu dan gula tidak disajikan daripada sekadar mengatakan kepada mereka bahwa itu tidak tersedia, tambahnya.
Tapi satu hal yang belum dia lakukan? Mengalah kepada pelanggan yang terkejut yang meminta gula dan krim. "Akan menjadi cara yang mudah untuk mengatakan 'OK baiklah, saya akan memberi krim dan gula, hanya saja jangan membuat memperbesarnya' ... tapi kami belum pernah benar-benar melakukannya," katanya.
f.Oddly Correct telah sedikit melonggarkan kebijakannya dan mulai menyetok susu- namun harus Anda minta sendiri terlebih dahulu.
Perkebunan Sawit Harus Perhatikan Lingkungan
Salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam membangun perkebunan kelapa sawit adalah pembangunan yang harus ramah terhadap lingkungan.
Terlebih hal tersebut, kini menjadi salah satu pembicaraan yang hangat yakni industri kelapa sawit menjadi salah satu perusahaan yang dituding sebagai perusak lingkungan.
Namun, PT Bima Palma Group menegaskan diri untuk menerapkan pembangunan industri kelapa sawit yang berwawasan lingkungan dan dilaksanakan secara konsekwen.
Hal tersebut dinyatakan oleh CEO PT Bima Palma Group, Johny G Plate dalam International Oil Palm Conference (IOPC) atau Konferensi Internasional Kelapa Sawit di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Selasa (1/6).
"Kami konsisten dalam menerapkan industri kelapa sawit yang ramah terhadap lingkungan dari pemilihan lahan hingga pengelolaan porduksinya," ujarnya.
Selain itu, tambahnya, perusahaannya yang telah memiliki cadangan lahan mencapai 100 ribu Ha, sekitar 30 ribu lahannya telah bersertifikat HGU atau Hak Guna Usaha resmi. "Sisanya masih dalam tahap dokumentasi legalitas lahan," paparnya.
Lahan yang dikembangkan oleh PT Bima Palma Grup seluruhnya berlokasi di Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK). Jadi kawasan tersebut memang kawasan yang diperuntukkan bagi budidaya perkebunan khususnya kelapa sawit.
Sebelum pembukaan lahan atau land clearing, seluruh areal terlebih dulu diverifikasi dan disurvei kondisi lahannya oleh tim dari IPB Bogor. Setelah itu, perusahaan baru menganalisa mengenai dampak lingkungan (amdal) dengan menerapkan metode zero burning system atas pembukaan lahan bagi seluruh areal perijinan.
Saat ini, untuk mengolah produksi tandan buah segar (TBS), PT Bima Palma Group yang menunjuk PT Boma Bisma Indra sebagai kontraktor pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) setidaknya telah mengasilkan 30 ton TBS per jam ekstensi 60 ton TBS per jam di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur. (*)
Tags : kopi, kopi kadar keras, kopi garis keras, dilarang minum kopi bercampur susu dan gula, penggunaan susu dan dula secara bersamaan,