SOSIAL - Idul Fitri adalah momentum untuk menumbuhkan kesadaran.
Pada pagi hari raya, semuanya tampak sempurna mulai dari ucapan selamat, pakaian baru, hidangan lezat, hingga pesan ucapan selamat yang tak henti-hentinya.
Semuanya sudah pada tempatnya. Namun, sebagian orang merasa ada sesuatu yang kurang, dan itu bukan soal detailnya, melainkan perasaan itu sendiri; mereka merasa kegembiraan itu tidak lagi seperti dulu.
Perasaan ini jarang diungkapkan, namun sering dialami oleh sebagian orang. Meskipun mereka mengikuti semua ritual secara utuh, namun perasaan mereka terasa hambar.
Terdapat enam alasan mengapa sebagian orang tidak merasakan semangat hari raya, sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Ahad (22/3/2026) berikut ini:
1. Ritual ada, tetapi perasaannya samar
Beberapa orang mungkin ikut serta dalam semua perayaan hari raya, tetapi tanpa merasakannya seperti sebelumnya.
Para ahli menjelaskan kondisi ini sebagai kebekuan emosional yaitu berkurangnya respons terhadap perasaan akibat stres atau kelelahan yang terus-menerus.
Laporan dari American Psychological Association (APA) menunjukkan stres kronis dapat memengaruhi cara seseorang bereaksi terhadap peristiwa, sehingga peristiwa tersebut terasa kurang berdampak meskipun sebenarnya positif.
Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa kebekuan emosional dapat muncul sebagai rasa netral terhadap situasi yang sebelumnya menimbulkan kegembiraan atau antusiasme, tanpa berarti hilangnya perasaan sepenuhnya.
2. Tugas yang menumpuk
Bagi sebagian orang, hari raya berubah menjadi serangkaian kewajiban, kunjungan yang harus dilakukan, persiapan yang melelahkan, dan tekanan sosial yang sulit diabaikan.
Perubahan dari pilihan menjadi kewajiban ini mengubah pengalaman secara keseluruhan alih-alih menjadi waktu untuk bersantai, liburan terkadang justru menjadi sumber tekanan tambahan, terutama dengan meningkatnya ekspektasi sosial.
Media sosial juga turut memperkuat citra ideal tentang hari raya, yang mendorong sebagian orang untuk membandingkan pengalaman mereka sendiri dengan apa yang mereka lihat, dan memperdalam perasaan kesenjangan antara kenyataan dan imajinasi.
3. Rindu akan masa lalu
Perasaan ini tidak hanya terkait dengan masa kini, tetapi juga dengan masa lalu. Manusia cenderung mengenang kenangan-kenangan indah, terutama yang berkaitan dengan masa kecil dan hubungan dekat.
Penelitian tentang nostalgia yang dilakukan oleh Universitas Southampton menunjukkan bahwa rasa rindu akan masa lalu bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mekanisme psikologis yang memperkuat rasa memiliki dan makna.
Namun, hal ini dapat membuat masa lalu tampak lebih hangat daripada kenyataannya, sehingga memperlebar jurang antara hari raya kemarin dan hari raya hari ini.
4. Kehilangan salah satu orang tua meninggalkan kekosongan emosional
Hilangnya kegembiraan saat perayaan semakin parah ketika salah satu orang tua meninggal.
Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa kematian ibu atau ayah meninggalkan kekosongan emosional yang tercermin dengan jelas pada acara-acara keluarga, seperti perayaan, di mana sosok-sosok tersebut berperan sentral dalam menciptakan rasa kegembiraan dan kehangatan.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), kesedihan berkepanjangan akibat kehilangan anggota keluarga dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menikmati kebersamaan keluarga dan meningkatkan rasa kesepian, bahkan di tengah-tengah perayaan.
Oleh karena itu, sebagian orang merasa bahwa perayaan tidak lagi seperti dulu, bukan karena ritualnya sendiri, melainkan karena pengalaman yang terkait dengan tokoh-tokoh sentral dalam hidup mereka tidak lagi ada.
5. Pengulangan membuat waktu terasa berlalu lebih cepat
Analisis ilmiah yang diterbitkan oleh "Scientific American" menunjukkan bahwa otak mengaitkan persepsi waktu dengan jumlah pengalaman baru semakin sering suatu peristiwa terulang, waktu terasa berlalu lebih cepat dan kurang berkesan.
6. Kelelahan dan kurang tidur
Selama Ramadhan, pola tidur berubah secara signifikan, dan saat memasuki hari raya, tubuh mungkin tidak segera pulih. Kelelahan yang menumpuk ini dapat berdampak langsung pada kondisi psikologis.
Sleep Foundation (Yayasan Tidur Amerika) menjelaskan bahwa kurang tidur memengaruhi pengaturan emosi, meningkatkan stres, dan mengurangi kemampuan untuk merasakan hal-hal positif, yang mungkin menjelaskan sebagian dari berkurangnya antusiasme terhadap Idul Fitri.
Bagaimana cara mengembalikan semangat perayaan?
Tekanan ekonomi dan sosial serta konteks umum di sekitar kita membayangi suasana hati, sehingga membuat kegembiraan terasa lebih rapuh bagi sebagian orang.
Kebahagiaan di hari raya tidak lenyap, tetapi berubah seiring bertambahnya usia, tekanan, kenangan, dan kehilangan orang-orang terkasih.
Memfokuskan diri pada momen-momen sederhana dan autentik serta mendefinisikan ulang tradisi dapat mengembalikan kegembiraan ke dalam hidup kita, meskipun mungkin tidak seheboh masa lalu. (*)
Tags : Idul fitri, perayaan Idul fitri, peringatan Idul fitri, semangat Idul fitri ,