
KESEHATAN - Sejumlah mantan pasien di unit psikiatri anak terbesar di Skotlandia mengalami kekejaman yang diduga dilakukan para staf perawat.
Para mantan pasien—yang masih berusia remaja saat dirawat di Skye House, unit spesialis kejiwaan di Glasgow, Skotlandia—berkata kepada BBC Disclosure bahwa beberapa perawat menyebut mereka "menyedihkan" dan menjijikan".
Alih-alih mendapatkan dukungan, mereka justru menghadapi ejekan terkait pengalaman percobaan bunuh diri mereka.
"Rasanya seperti diperlakukan layaknya binatang," tutur seorang mantan pasien yang dirawat karena anoreksia.
Menanggapi ini masyarakat menyatakan "sangat menyesal" dan mengonfirmasi bahwa mereka sedang melakukan dua penyelidikan terkait tuduhan yang terungkap.
Investigasi BBC bertemu dengan 28 mantan pasien selama pembuatan film dokumenter Kids on The Psychiatric Ward.
Pengalaman di rumah sakit jiwa dengan 24 tempat tidur di Stobhill Hospital, Glasgow, sangat traumatis bagi seorang pasien yang menggambarkannya sebagai "neraka".
"Menurut saya budaya tim perawat cukup toksik. Sejujurnya, banyak dari mereka yang cukup kejam," tambahnya.
Salah satu remaja yang pernah dirawat di sana antara tahun 2017 dan 2024 menceritakan bahwa perawat sering menggunakan kekerasan, termasuk menyeret pasien di koridor, yang menyebabkan mereka mengalami memar dan trauma.
Lainnya mengatakan bahwa ia ingin melaporkan dugaan penyerangan yang dialaminya, tetapi ia takut justru akan mendapatkan perlakuan yang lebih buruk.
Ada juga laporan tentang penggunaan obat-obatan dan suntikan penenang yang berlebihan, yang diduga bertujuan untuk mempermudah pekerjaan staf, meskipun hal ini berdampak pada kondisi pasien yang terlihat lesu dan kurang responsif.
Beberapa pasien menceritakan bahwa mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, termasuk dihukum karena masalah kesehatan mereka sendiri.
Mereka bahkan dipaksa membersihkan darah mereka sendiri setelah melakukan tindakan menyakiti diri sendiri.
Skye House, yang beroperasi sejak 2009, menerima anak-anak dan remaja berusia 12-18 tahun yang sedang mengalami krisis.
Status beberapa pasien di Skye House adalah sebagai pasien yang dirawat berdasarkan ketentuan Undang-Undang Kesehatan Mental.
Implikasinya, mereka tidak dapat meninggalkan fasilitas tersebut sampai ada penilaian medis yang menyatakan mereka layak untuk dipulangkan.
Penyelidikan bermula dari laporan seorang pasien muda tentang apa yang ia alami di unit tersebut.
Tak lama kemudian, berbagai kasus lain pun muncul ke permukaan.
Sejak usia 16 tahun, Cara dirawat di unit tersebut selama lebih dari dua tahun karena anoreksia.
Berdasar catatan medis yang diakses ia mengalami pengekangan lebih dari 400 kali dalam periode 18 bulan.
Ia sering mengalami memar dan pernah sebagian rambutnya tercabut.
"Itu membuat Anda trauma. Anda tak akan bisa melupakannya," tuturnya.
Sekitar lima orang perawat biasanya terlibat dalam pengekangan fisik terhadap pasien jika mereka berpotensi membahayakan orang lain atau diri mereka sendiri.
Pedoman yang ada menyatakan bahwa pengekangan hanya boleh dilakukan sebagai upaya terakhir, setelah semua taktik de-eskalasi lainnya tidak berhasil.
Cara, yang kini berusia 21 tahun, terkadang membutuhkan pengekangan fisik sebagai upaya untuk mencegahnya melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri.
Namun dia berpendapat bahwa banyak dari tindakan pengikatan yang ia alami tidak perlu terjadi seandainya staf lebih mengutamakan komunikasi dan pendekatan persuasif sebelum mengambil tindakan pengikatan.
Ia menceritakan bahwa salah satu pengalaman pengekangan yang ia alami di tahun 2021 menyebabkan luka dan trauma yang mendalam baginya.
"Dia mencekik leher saya hingga ke lantai," kata Cara.
"Menakutkan sekali, ada pria ini yang terus-terusan berada di dekat Anda, menahan Anda. Jejak tangannya tertinggal di leher saya."
Dalam catatan medis Cara, terdapat keterangan bahwa dia merasa menjadi korban penyerangan setelah didorong ke lantai oleh perawat yang sama.
Cara sempat ingin menghubungi polisi, namun kemudian ia mengurungkan niatnya.
Ia mengungkapkan bahwa ia takut akan dampak yang mungkin terjadi setelah melaporkan kejadian tersebut.
"Saya hanya berpikir mereka mungkin memperlakukan saya lebih buruk dari sebelumnya," katanya.
Pada usia yang masih muda, 16 tahun, Jenna menghadapi tantangan berat dengan depresi, gangguan makan, dan kebiasaan menyakiti dirinya sendiri.
Karena unit psikiatri remaja terdekat di Dundee penuh, Jenna akhirnya dikirim ke Skye House sebagai alternatif.
"Suasananya seperti neraka, seperti penjara," kata Jenna.
Selama sekitar sembilan bulan, Jenna menjalani perawatan di unit tersebut.
Ia menerima makanan melalui selang nasogastrik (NG) sebagai bagian dari penanganan anoreksianya.
Prosedur ini umum dilakukan tetapi bersifat invasif bagi pasien yang kekurangan gizi.
Prosedur pemberian makan melalui selang NG terkadang memerlukan pengekangan, namun Jenna mengatakan cara staf melakukannya telah membuatnya trauma.
"Kadang-kadang mereka datang menghampiri saya, mencengkeram tangan saya, dan membawa saya pergi," katanya.
"Saya akan diseret oleh perawat sebanyak yang dibutuhkan."
Ia menceritakan bahwa perlakuan kasar dari staf terkadang membuatnya berdarah dan memar.
"Itu semacam hukuman halus untuk memberi saya pelajaran."
'Saya terus menerus dihukum karena berbagai hal'
Hampir semua pasien menunjukkan adanya perilaku melukai diri sendiri.
Para pasien mengungkapkan bahwa staf perawat seringkali tidak melakukan pemeriksaan rutin selama 15 menit, yang seharusnya menjadi prosedur standar.
Akibatnya, para pasien memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melakukan tindakan yang membahayakan diri mereka sendiri.
Jenna dan Cara mengungkapkan bahwa setelah mereka menyakiti diri sendiri, mereka justru diminta untuk membersihkan darah mereka sendiri di dinding dan lantai.
Jenna berkata: "Saya ingat staf itu berkata, 'Kamu menjijikkan, itu menjijikkan, kamu harus membersihkannya'. Itu membuat saya merasa sangat buruk."
Menurut Cara, staf terkadang melakukan kesalahan dalam pemberian makanan NG dan memberikan cairan terlalu cepat, yang mengakibatkan ia muntah.
Ia mengungkapkan bahwa setelah muntah, ia akan diminta untuk membersihkan sendiri sisa-sisa muntahannya.
Cara berkata: "Mereka akan memberi saya tisu basah, dan saya akan diminta untuk mengepel lantai. Rasanya seperti hukuman, seolah-olah saya melakukannya dengan sengaja.
"Saya merasa seperti saya terus-menerus dihukum atas berbagai hal."
Stephanie telah beberapa kali dirawat di Skye House sejak 2020, dengan diagnosis depresi yang pertama kali muncul pada usia 16 tahun.
Pengalaman di sana meninggalkan trauma mendalam baginya, katanya.
"Para perawat tidak pernah benar-benar memperlakukan Anda dengan perhatian atau kasih sayang," katanya.
"Ketimbang bertanya apa yang salah, mereka hanya membaringkan Anda di lantai dan menyuntik Anda dengan obat."
Stephanie mengatakan bahwa ia pernah mengalami serangan dari seorang anggota staf yang marah karena ia tidak mau mandi.
Stephanie berkata: "Perawat itu marah pada saya."
"Dia kemudian menyeret saya dari tempat tidur dengan memegang kedua kaki saya, lalu menyalakan pancuran, dan menyuruh saya mandi dengan pakaian yang masih saya kenakan. Lalu dia pergi begitu saja."
"Saat itu saya pikir itu hal yang biasa saja. Semua orang juga mendapatkan perlakuan yang sama."
Jane Heslop, seorang profesional kesehatan mental anak dan remaja yang telah pensiun dari jabatannya sebagai kepala perawat di NHS, melakukan peninjauan kembali.
"Itu kasar, itu sepenuhnya salah," katanya.
"Jika hal itu terjadi seperti yang dijelaskan oleh anak muda itu, maka hal itu sama sekali tidak dapat diterima."
Heslop mengatakan bahwa tampaknya "sebagian staf telah bertindak di luar batas".
Abby, seorang remaja dengan autisme, dirawat di Skye House pada usia 14 tahun.
Keputusan ini diambil karena ia menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri dan mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri.
Abby menghabiskan waktu selama dua setengah tahun di Skye House.
Selama masa tersebut, ia mengaku mengalami trauma akibat perlakuan yang ia terima.
Ia merasa diintimidasi oleh staf, beberapa di antaranya bahkan bersikap kasar secara verbal.
Abby mengungkapkan bahwa ia pernah diejek oleh staf di Skye House karena perilaku menyakiti dirinya sendiri.
Ejekan, alih-alih memberikan dukungan, justru memperburuk kondisi Abby dan menambah beban traumatis yang harus ia tanggung.
"Perawat itu datang ke saya dan tertawa kecil, seperti menyeringai, lalu berkata, 'Kamu menyedihkan, lihatlah dirimu sendiri'," kata Abby.
"Kadang-kadang terasa seperti perundungan. Sampai-sampai saya ingin menyakiti diri sendiri.
"Bagi saya, rasanya benar bahwa jika orang lain melihat saya menyedihkan, maka saya memang menyedihkan."
Abby dan keluarganya meyakini bahwa ia diberikan obat-obatan secara berlebihan selama ia dirawat di Skye House.
Klaim ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang praktik pemberian obat di fasilitas tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan Abby.
Dia berkata: "Banyak pasien yang seperti zombie berjalan, termasuk saya."
"Sering kali kami hanya dibius sampai pada titik di mana saya kira kepribadian kami pun menjadi redup."
Jenna menuturkan bahwa staf di Skye House sering menggunakan suntikan obat penenang intramuskular secara berlebihan ketika pasien mengalami tekanan emosional atau agitasi.
Obat itu hanya boleh diberikan sebagai pilihan terakhir.
Jenna berkata: "Tanpa mencoba berbicara kepada saya terlebih dahulu, atau menenangkan saya, mereka langsung memberikan [suntikan].
"Menurut saya, sejujurnya, tujuan mereka adalah agar mereka dapat bekerja lebih mudah sementara semua pasiennya dalam keadaan terbius."
'Sangat menyesal'
NHS Greater Glasgow dan Clyde, badan layanan kesehatan masyarakat di Skotlandia yang bertanggung jawab atas Skye House, menanggapi tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa peninjauan terhadap praktik pemberian obat telah dilakukan pada 2023.
Peninjauan ini menghasilkan perubahan signifikan dalam cara pemberian obat di fasilitas tersebut.
Direktur medis NHS Greater Glasgow dan Clyde, dr. Scott Davidson, menyampaikan bahwa ia merasa sangat prihatin dengan tuduhan-tuduhan tersebut dan mengakui adanya kejadian standar perawatan yang diberikan tidak sesuai dengan harapan yang seharusnya diberikan kepada pasien remaja.
"Berdasarkan pengalaman ini dan laporan pasien lain, tinjauan menyeluruh terhadap kualitas perawatan telah diluncurkan," katanya.
"Kami juga telah meminta peninjauan independen terhadap unit tersebut."
Dewan kesehatan menyatakan telah melakukan berbagai upaya perbaikan dalam perawatan pasien, termasuk menambah jumlah staf medis dan memberikan pelatihan khusus kepada petugas keamanan.
Komisi Kesejahteraan Mental untuk Skotlandia telah mengunjungi Skye House enam kali sejak 2017.
Isu utama yang diangkat dalam investigasi BBC tidak dimuat dalam laporan terbitannya. (*)
Tags : Kekerasan terhadap anak, Kesehatan mental, Anak-anak, Kesehatan,