News Daerah   2026/03/22 19:53 WIB

Kemenhut Selidiki Misteri Kematian Rusa Secara Sadis di Siak

Kemenhut Selidiki Misteri Kematian Rusa Secara Sadis di Siak

LINGKUNGAN - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyoroti keras aksi penjagalan rusa yang terjadi di Taman Tengku Agung, Kecamatan Siak pada Senin (16/3/2026) kemarin. Kemenhut segera menyelidiki kasus yang menghebohkan ini. 

Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko menyatakan pihaknya akan menyelidiki kejadian tersebut. 

"Kami selidiki," terang Satyawan saat dikonfirmasi SabangMerauke News pada Senin malam. 

Satyawan menerangkan, Kemenhut akan menerjunkan tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk menelusuri kejadian tragis tersebut. 

"Ya (kita turunkan tim BBKSDA) untuk mendalami kejadian," ungkap Satyawan Pudyatmoko. 

Penangkaran rusa di Taman Tengku Agung, Kecamatan Siak, pada Senin pagi, 16 Maret 2026, mendadak mencekam.

Penangkaran itu berubah manjadi ajang penjagalan. Seekor rusa disembelih, bangkainya hilang dan yang tertinggal cuma bagian perutnya.

Petugas pertama kali curiga saat mengecek kondisi kawanan rusa pada pagi hari. Mereka menemukan satu rusa dalam kondisi mengenaskan.

Satwa itu tidak mampu berdiri normal. Kakinya diduga patah. Di sisi lain area, petugas melihat potongan perut rusa di bagian selatan penangkaran.

Ini bukan kejadian biasa. Ada tanda penyembelihan di tempat. Ada satwa yang hilang. Ada satwa lain yang tumbang. Penangkaran rusa di jantung kawasan wisata Siak mendadak jadi sorotan.

Kepala Bidang pada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Siak, Paula Chandra, membenarkan laporan tersebut.

Ia menyebut laporan masuk dari petugas penangkaran pada pagi hari. “Pagi tadi kami mendapat laporan dari petugas penangkaran,” kata Paula, Senin, 16 Maret 2026.

Setelah laporan diterima, tim langsung bergerak ke lokasi bersama polisi. Pemeriksaan awal tidak memberi ruang untuk banyak tafsir.

Ada bekas pemotongan rusa. Ada sisa tubuh yang tertinggal. Ada satu ekor yang tidak ditemukan.

“Rusa itu dipotong, perutnya dikeluarkan, tetapi bangkai rusanya tidak ada,” jelas Paula..

Temuan potongan perut rusa di lokasi membuat dugaan pencurian mengarah pada satu ekor satwa yang hilang.

Untuk sementara, petugas baru bisa memastikan satu rusa lenyap dari penangkaran.

Jumlah itu bisa saja berubah jika pemeriksaan lanjutan menemukan data lain. Saat ini fokus utama tertuju pada jejak yang masih tersisa.

Yang bikin kasus ini makin ganjil, satu rusa lain ditemukan masih hidup saat pengecekan awal. Kondisinya lemah. Kakinya diduga patah. Rusa itu hanya bisa pincang dan tak mampu berdiri tegak. “Dia tidak bisa berdiri,” kata Paula.

Sekitar satu jam kemudian, rusa tersebut ditemukan mati. Hal ini menambah gelap dalam perkara yang sudah bikin geger sejak pagi.

Kini total ada satu rusa yang diduga dicuri setelah disembelih, dan satu rusa lain yang mati setelah ditemukan dalam kondisi terluka parah.

Dari pola temuan di lapangan, ada dugaan pelaku beraksi saat situasi masih sepi. Malam hingga menjelang subuh jadi waktu yang paling masuk akal.

Lokasi penangkaran yang dekat jalan lintas juga memberi peluang gerak cepat. Masuk, sembelih, angkut, lalu kabur sebelum matahari naik.

Celah keamanan di area wisata pun ikut jadi sorotan. Penangkaran satwa semestinya punya pengamanan yang tidak longgar.

Kasus ini malah menunjukkan ruang rawan yang bisa dimanfaatkan orang nekat. Pelaku tampak tidak bergerak asal-asalan. Ada kesan aksi dilakukan dengan perhitungan.

Bukan cuma soal pencurian satwa, kasus ini menyentuh isu yang lebih lebar. Penangkaran bukan ruang liar yang bebas dijarah.

Ini area yang menyimpan nilai wisata, edukasi, dan konservasi. Saat satwa di dalamnya diperlakukan seperti barang buruan, yang rusak bukan cuma pagar keamanan, tapi juga rasa aman publik.

Laporan kasus ini sudah masuk ke kepolisian. Polres Siak kini melakukan penyelidikan untuk memburu pelaku dan mengurai kronologi lengkap kejadian.

Polisi punya pekerjaan berat. Mereka harus menelusuri waktu pasti kejadian, jalur masuk pelaku, alat yang digunakan, serta kemungkinan ada lebih dari satu orang yang terlibat.

Waktu kejadian sampai saat ini memang belum bisa dipastikan. Dugaan paling kuat mengarah pada rentang malam menuju subuh, saat area sekitar lebih lengang.

Dalam kasus seperti ini, detail kecil bisa sangat penting. Jejak kaki, sisa darah, arah seret bangkai, sampai akses keluar masuk kendaraan bisa jadi pintu pembuka.

Paula menyebut temuan sementara baru mengarah pada satu rusa yang hilang.

“Sementara satu ekor rusa hilang,” ujarnya.

Namun di balik pernyataan itu, ada satu kegelisahan besar yang belum reda. Jika satu aksi bisa lolos, lalu seberapa aman satwa lain yang masih tersisa di penangkaran itu? (*)

Tags : rusa, rusa di siak, kematian rusa di diak, kemenhut, kemenhut selidiki misteri kematian rusa, News Daerah,