JAMAAH dinilai akan merasa nyaman karena kompleks haji di Makkah bakal serap tenaga Kkerja asal RI.
Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai hadirnya Kompleks Haji di Makkah, Arab Saudi, akan menciptakan multiplier effect (efek berganda) bagi perekonomian di Tanah Air. Salah satunya, kata dia, akan membuka peluang penyerapan tenaga kerja.
Ia mencontohkan, ekosistem penyediaan makanan atau konsumsi untuk jamaah haji apabila dikerjakan secara baik maka berpotensi melibatkan pemasok dari Indonesia, terutama untuk kebutuhan dapur.
“Misalnya, dari lauk-pauk seperti ikan dan tempe sampai bumbu dapur. Ini peluang yang besar, sehingga berdampak juga pada penyerapan tenaga kerja di tanah air,” ujar Herry, Kamis (8/1/2026).
Sementara itu, bagi jamaah haji, dia mengatakan, akan lebih merasakan kenyamanan karena seolah-olah berada di kampung halaman sendiri, dengan makanan yang tersedia sesuai dengan selera masyarakat Indonesia.
“Efek pengganda ini jangan dilupakan. Ini punya nilai ekonomi dan sosial yang lebih besar ketimbang dari sekadar pengembalian investasi yang diterima dari proyek akomodasi kampung haji di Arab Saudi,”ujar Herry.
Menurut dia, proyek ini sangat strategis bagi Danantara maupun perekonomian nasional karena jemaah haji Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan negara lain, dengan triliunan rupiah belanja jamaah yang mencakup akomodasi dan lainnya selama ini menjadi devisa Arab Saudi.
“Dengan kehadiran proyek Kampung Haji yang dikelola oleh entitas usaha atau badan milik Indonesia, maka belanja yang dikeluarkan oleh jamaah haji akan kembali ke Indonesia sebagai hasil investasi yang dilakukan oleh Danantara,” ujar Herry.
Secara ekonomi, Herry menilai jamaah haji merupakan captive market (pasar khusus), yang mana ada kepastian daya serap dalam jangka panjang.
“Jamaah haji merupakan captive market. Tinggal jamaah umrah yang jadi pekerjaan rumah, bagaimana bisa digarap sekalian. Selain itu, bisnis tersebut sustain dalam jangka panjang. Dengan demikian, ada kepastian daya serap pasar. Risiko bisnisnya jadi lebih rendah,” ujar Herry.
Di sisi lain, dia mengingatkan terkait dengan stabilisasi harga, yang perlu menjadi perhatian Danantara dan pemerintah Indonesia.
“Jangan sampai gara-gara Danantara investasi di Arab Saudi, ongkos haji malah naik. Karena itu, menurut saya, Danantara harus melibatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Kalau BPKH dapat untung dari investasi di sektor riil bersama Danantara, dampak positifnya ke subsidi biaya haji yang bisa lebih besar,” ujar Herry.
Melalui stabilisasi harga, Ia mengatakan nantinya berdampak terhadap biaya menunaikan haji yang cenderung stabil bahkan menurun.
“Keterlibatan BPKH bisa saja masuk di ekosistem dapur, seperti yang selama ini sudah dilakukan oleh entitas anak usahanya di Arab Saudi. Pentingnya keterlibatan BPKH adalah dalam rangka stabilisasi ongkos haji, bukan soal bisnis,”kata Herry.
Kementerian Haji dan Umrah RI berharap pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi bisa berjalan sesuai rencana dan sebagian tower dapat digunakan pada penyelenggaraan haji 2028.
“Yang jelas tahun ini belum bisa, belum bisa. Tahun depan, karena membangun itu kan nggak cukup setahun. Kita harapkan paling lambat tahun 2028 itu ada sebagian tower yang bisa dipakai,” ujar Menteri Haji dan Umrah Mohammad Irfan Yusuf di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan pembangunan Kampung Haji sepenuhnya dikelola oleh Daya Anagata Nusantara (Danantara). Kemenhaj nantinya berlaku sebagai pengguna.
Ia optimistis pembangunan Kampung Haji berjalan lancar mengingat anggaran bukan menjadi suatu masalah yang memberatkan karena domain Danantara. Di sisi lain, Pemerintah Arab Saudi juga terbuka dengan pembangunan tersebut.
“Saya kira (anggaran) nggak ada kendala. Danantara punya uang. Kemudian birokrasi Arab Saudi sangat welcome. Kita fokus persiapan jamaah haji kita. Kan, terkait dengan Kampung Haji tentu lebih banyak domainnya Danantara,” ujarnya.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) melaporkan progres pengembangan Kompleks Haji (Hajj Complex) di Mekkah, Arab Saudi, dengan Kawasan Thakher merupakan fondasi awal yang telah berjalan.
Kawasan Thakher mencakup Novotel Thakher Makkah dan telah beroperasi dengan sekitar 4,4 hektare lahan kawasan pengembangan yang berlokasi sekitar 2-3 kilometer dari Masjidil Haram, dengan sekitar 1.461 kamar di tiga menara, serta kurang lebih 14 plot lahan kawasan yang direncanakan untuk pengembangan lanjutan, termasuk area komersial dan pusat ritel.
"Secara bertahap, kawasan ini dirancang untuk berkembang hingga sekitar 6.000 kamar dengan estimasi kapasitas mencapai kurang lebih 22.000 jemaah, atau sekitar 10 persen dari total jemaah haji Indonesia setiap tahunnya," ujar Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir.
Ia menjelaskan pengembangan Kawasan Thakher akan difokuskan pada penyediaan akomodasi dan diarahkan untuk membangun ekosistem layanan jamaah yang lebih terintegrasi, mencakup fasilitas ritel, dukungan logistik, serta berbagai layanan penunjang lainnya.
Tags : kampung haji, kampung haji indonesia, kompleks haji indonesia, jamaah haji 2026, haji 2026,