Krisis ekologi tidak semata disebabkan oleh motif pemenuhan kebutuhan manusia.
LINGKUNGAN - Krisis ekologi tidak semata disebabkan oleh motif pemenuhan kebutuhan manusia.
Di dalamnya ada motif internal yang jauh melampaui kebutuhan. Keinginan ekonomi berlebih menciptakan kerakusan, menjadi aspek kepudaran spiritualitas paling kentara dari penyebab kerusakan lingkungan.
Novel *Momo* yang ditulis oleh Michael Ende pada tahun 1973, menghadirkan alegori kuat tentang manusia modern yang diperdaya oleh “tentara abu abu”, makhluk yang mencuri waktu, kesadaran, dan makna hidup, manusia lalu menukarnya dengan uang, ketenaran, dan apapun yang diminta.
Demikian dikutip dari buku *Ekoteologi: Mengamalkan Iman, Melestarikan Lingkungan* yang diterbitkan Kementerian Agama RI.
Kisah di atas mencerminkan disorientasi eksistensial manusia di era modern: kehilangan kedalaman spiritual, terjebak dalam logika efisiensi, dan menjadi budak waktu.
Fenomena ini sejajar dengan kritik teologi Minjung yang dikembangkan oleh Byung-Mu Ahn dan Suh Nam-Dong di Korea Selatan pada dekade 1970-an.
Teologi ini menolak modernitas yang menuhankan percepatan produksi, industrialisasi, dan urbanisasi, karena semua itu melahirkan keterasingan spiritual dan sosial.
Dalam pandangan mereka, manusia modern kehilangan ruang untuk refleksi iman dan kesadaran kosmik yang menyatukan diri dengan sesama serta alam.
Indonesia yang dikenal dengan nasionalisme ketuhanan (*Godly nationalism*) memiliki populasi umat beragama 279 juta jiwa (cut off BPS, 2024–2025). Namun Indeks Kesalehan Sosial (IKS) 2024 sebesar 83,83, dan skor “Melestarikan Lingkungan” masih rendah di angka 72,16. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan relasi individu dengan negara (90,38) dan Etika (87,18).
Rendahnya nilai pelestarian lingkungan terlihat juga pada peringkat Indonesia yang menjadi negara paling berpolusi di Asia Tenggara pada 2024.
Tingkat polusinya berdasarkan IQAir menunjukkan angka konsentrasi pada PM2,5 35,5 μg/m³, dan berdasarkan data SIPSN KLHK terjadi timbunan sampah nasional 2023 yang mencapai 31,9 juta ton. Sejumlah 11,3 juta ton (35,67 persen) tidak atau belum terkelola dengan baik.
Krisis spiritualitas umat beragama, sebagaimana dihipotesiskan dalam buku ekoteologi dan sejalan dengan pandangan akademisi, menjadi penyebab kesenjangan antara idealisme agama dan realitas krisis lingkungan.
Realitas ini mencerminkan tantangan besar dalam harmonisasi nilai agama dengan pelestarian lingkungan.
Dengan demikian, akar dari krisis ekologis bukan hanya pada rusaknya ekosistem, melainkan pada hilangnya kesadaran spiritual yang menempatkan manusia dalam jaring kosmos kehidupan yang saling bergantung.
Ia berakar pada kehilangan rasa hormat terhadap kehidupan.
Ketika manusia melihat dirinya sebagai pusat dan penguasa tunggal, maka alam direduksi menjadi objek, mesin produksi, dan komoditas.
Dalam cara pandang ini, air hanyalah sumber energi, hutan hanyalah kayu dan lahan, hewan hanyalah daging, dan tanah hanyalah bahan bangunan.
Pandangan yang antroposentris ini meniadakan rasa hormat terhadap kesucian kehidupan.
Alam kehilangan statusnya sebagai bagian dari tubuh kosmik yang hidup dan bermakna.
Hilanglah kesadaran bahwa semua itu adalah bagian dari tubuh kosmik yang hidup, penuh makna, dan suci.
Fenomena inilah yang mengarah pada krisis spiritual: hilangnya kesadaran bahwa dunia adalah rumah bersama yang harus dijaga.
Pemulihan ekologis karenanya tidak dapat dilepaskan dari pemulihan spiritual, mengembalikan iman sebagai ruang refleksi, menumbuhkan kembali rasa takzim pada ciptaan, serta memandang dunia bukan sebagai mesin produksi, melainkan sebagai rumah suci kehidupan bersama. (*)
Tags : kerusakan alam, krisis lingkungan, perubahan iklim, hikmah, musibah, hikmah bencana, islam, fikih, lingkungan,