Pekanbaru   2026/10/19 16:41 WIB

Kualitas Udara Pekanbaru Masih Tidak Sehat Akibat Kiriman Asap Karhutla dari Tetangga pada Senin 19 Oktober

Kualitas Udara Pekanbaru Masih Tidak Sehat Akibat Kiriman Asap Karhutla dari Tetangga pada Senin 19 Oktober
Ilustrasi

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM – Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau, Senin 19 Oktober 2026, meskipun jumlah titik panas (hotspot) di wilayah tersebut terpantau minim berdasarkan pemantauan yang disampaikan BMKG Pekanbaru.

"Kualitas udara masih tidak sehat."

"Kondisi ini membuat kualitas udara di Kota Pekanbaru masih berada dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan pantauan Halloriau.com pada pukul 14.00 WIB, konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 101,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³)," kata Prakirawan BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris, Senin.

Partikulat PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Alfa Nataris, menyampaikan bahwa potensi kekaburan udara akibat asap masih terjadi di sejumlah wilayah Riau sepanjang hari.

Kondisi cuaca diprakirakan didominasi awan, dengan peluang hujan ringan hingga sedang di beberapa kabupaten dan kota.

Pada siang hari, potensi kekaburan udara akibat asap masih berlanjut. Hujan ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti.

Pada sore hingga malam serta dini hari, kondisi udara berkabut asap masih berpotensi terjadi. Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan turun di sebagian besar wilayah Riau.

Di tengah kondisi kabut asap, BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Pada sore hingga malam hari, cuaca ekstrem tersebut berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kota Dumai, Siak, Bengkalis, dan Kampar.

Sementara itu, pada dini hari, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Pelalawan, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hulu.

Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun ketika berkendara.

BMKG juga memperkirakan suhu udara di Riau berkisar antara 23 hingga 33 derajat Celsius, dengan kelembapan udara 55–100 persen.

Angin bertiup dari arah barat laut hingga selatan dengan kecepatan 10–40 kilometer per jam.

Adapun tinggi gelombang laut di wilayah perairan Provinsi Riau diprakirakan berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah.

Meski hujan berpotensi turun di sejumlah wilayah, masyarakat tetap perlu mewaspadai kabut asap yang masih mengganggu kualitas udara, terutama di Kota Pekanbaru.

Warga disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus saat berada di luar, serta memantau informasi kualitas udara dan perkembangan cuaca secara berkala.

Kondisi ini menunjukkan bahwa minimnya titik panas yang terpantau tidak serta-merta membuat kualitas udara langsung membaik.

Pergerakan asap, kondisi atmosfer, dan sumber polusi lainnya juga dapat memengaruhi konsentrasi partikulat di suatu wilayah.

Sebelumnya, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau pada Minggu sore, meskipun tidak ditemukan titik panas (hotspot) di wilayah tersebut berdasarkan pemantauan yang disampaikan BMKG Pekanbaru.

Kondisi ini membuat kualitas udara di Kota Pekanbaru masih berada dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan pantauan dilapangan, konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 138,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00 WIB.

Selain Pekanbaru, asap juga mengganggu jarak pandang di sejumlah daerah, terutama di Kabupaten Indragiri Hulu.

Jarak pandang di Rengat tercatat hanya 800 meter pada Minggu sore.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyampaikan bahwa berdasarkan data pemantauan titik panas di wilayah Sumatera, Riau tidak mencatat adanya hotspot, sementara sejumlah provinsi lain masih terdeteksi memiliki titik panas dalam jumlah besar.

Secara keseluruhan, terdapat 762 titik panas di wilayah Sumatera.

Sebagian besar berada di Sumatera Selatan dengan 593 titik, disusul Jambi sebanyak 101 titik, Lampung 44 titik, Bangka Belitung 23 titik, dan Aceh satu titik. Sementara itu, Riau tercatat nihil hotspot.

Meski demikian, tidak adanya titik panas di Riau bukan berarti wilayah tersebut terbebas dari dampak asap.

Kondisi atmosfer dan asap yang terbawa dari wilayah lain dapat turut memengaruhi jarak pandang serta kualitas udara.

Berdasarkan pembaruan jarak pandang atau visibility update BMKG pada pukul 16.00 WIB, asap masih terpantau di beberapa wilayah Riau.

Di Kota Pekanbaru, jarak pandang tercatat sekitar 3 kilometer. Kondisi serupa terjadi di Tambang, Kabupaten Kampar, dengan jarak pandang 3 kilometer, serta Kabupaten Pelalawan yang mencapai 2 kilometer.

Sementara itu, jarak pandang di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, menjadi yang terendah, yakni hanya 800 meter akibat asap.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintasi wilayah dengan jarak pandang terbatas.

Pengendara diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kecepatan, dan menjaga jarak aman selama berkendara.

Konsentrasi PM2.5 yang mencapai 138,7 µg/m³ di Pekanbaru menunjukkan masih adanya risiko paparan polusi udara bagi masyarakat.

Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Penggunaan masker yang sesuai juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan saat harus beraktivitas di luar rumah.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemantauan kualitas udara tetap diperlukan meskipun tidak ditemukan titik panas di wilayah Riau.

Selain memantau perkembangan asap, masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi BMKG dan instansi terkait untuk mengetahui perubahan kondisi cuaca serta kualitas udara terkini. (rp.ind/*)

Tags : kualitas udara, karhutla, kabut asap, pekanbaru, kualitas udara masih tidak sehat,