Lailatul qadar adalah juga malam penetapan takdir dan turunnya para malaikat.
AGAMA - Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling agung dalam Islam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Malam ini tidak hanya dikenal sebagai malam turunnya Alquran, tetapi juga diyakini sebagai malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Keistimewaannya bahkan disebut sebagai karunia khusus yang Allah SWT berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk meraih pahala berlipat ganda dalam waktu yang singkat.
Berdasarkan bahasa, lailatul qadar terdiri atas dua kata, yaitu lail yang artinya malam dan qadar yang memiliki banyak arti. Namun banyak orang keliru dan menyebutnya “malam lailatul qadar”, padahal tidak perlu menyebut kata “malam”. Cukup dengan menyebut malam qadar atau lailatul qadar.
Malam dimulai sejak matahari terbenam di ufuk barat hingga terbit di ufuk timur. Sementara itu, qadar memiliki banyak arti dan muncul berkali-kali dalam Alquran dengan makna yang berbeda-beda.
Dalam buku Jaminan Mendapat Lailatul Qadar yang ditulis Ustadz Ahmad Sarwat dan diterbitkan Rumah Fiqih, dijelaskan bahwa dalam Alquran penggunaan kata al-qadaru merujuk pada makna kemuliaan. Malam qadar dipahami oleh sebagian ulama sebagai malam mulia yang tiada bandingnya. Malam itu mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran.
Di dalam Alquran juga muncul kata qadar dengan makna kadar atau ukuran. Al-qadaru juga ditemukan dalam Alquran dengan makna kesempitan.
Para ulama yang memahami qadar bermakna kesempitan beralasan bahwa pada malam tersebut banyak malaikat yang turun ke bumi sehingga bumi menjadi sempit. Ada juga yang memahami makna kesempitan karena sulit mengetahui kapan tepatnya lailatul qadar, sebab Allah SWT dan Rasul-Nya terkesan merahasiakannya.
Masih di dalam Alquran, qadar juga memiliki makna waktu yang ditentukan, kemampuan, menguasai, dan penetapan.
Ibnu Qudamah di dalam kitab Al-Mughni menyebutkan malam itu disebut malam qadar dengan makna malam penetapan. Sebab pada malam itu Allah SWT menetapkan segala sesuatu untuk satu tahun ke depan, baik hal-hal yang terkait dengan kebaikan maupun keburukan, termasuk urusan rezeki dan keberkahan.
Khusus untuk Umat Nabi Muhammad SAW
Jumhur ulama sepakat bahwa keistimewaan malam qadar ini hanya berlaku untuk umat Nabi Muhammad SAW saja. Sedangkan umat-umat terdahulu tidak mendapatkan keistimewaan ini.
Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya yang relatif panjang sesuai dengan kehendak Allah hingga akhirnya usia umatnya semakin pendek sehingga mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan (HR Imam Malik).
Hadits ini menjelaskan bahwa ditetapkannya malam qadar setara dengan seribu bulan merupakan karunia bagi umat Nabi Muhammad SAW yang ingin mendapatkan pahala berlimpah. Sebab jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu, usia umat Nabi Muhammad SAW jauh lebih singkat.
Malam Turunnya Alquran
Ada banyak keutamaan yang bisa disematkan kepada malam qadar atau lailatul qadar. Di antaranya adalah malam diturunkannya Alquran.
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam qadar.” (QS Al-Qadar: 1)
Namun para ulama berbeda pendapat tentang maksud bahwa malam qadar adalah malam diturunkannya Alquran. Apakah seluruh ayat Alquran turun pada satu malam tersebut, atau yang dimaksud adalah malam pertama kali turunnya Alquran.
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah peristiwa turunnya seluruh ayat Alquran dalam satu kali penurunan, yaitu dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia yang disebut Baitul Izzah.
Sedangkan Asy-Sya’bi menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah malam ketika permulaan ayat Alquran diturunkan ke muka bumi.
Ada kemungkinan kedua pendapat ini tidak keliru. Para ulama meyakini bahwa Alquran memang mengalami dua tahap penurunan. Penurunan pertama adalah turunnya Alquran dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia sebagaimana pendapat Ibnu Abbas.
Sedangkan penurunan kedua dari langit dunia ke muka bumi. Pada tahap ini, yang pertama kali turun adalah lima ayat awal dari Surat Al-Alaq. Kedua peristiwa ini bisa saja terjadi pada malam qadar meskipun pada masa yang berbeda.
Lebih Baik dari Seribu Bulan
Keutamaan lain dari lailatul qadar adalah malam yang terjadi pada bulan Ramadhan yang dalam Alquran digambarkan lebih baik dari seribu bulan.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS Al-Qadar: 3)
Para ulama menetapkan bahwa bila seseorang beramal shalih pada malam qadar, maka dia akan mendapatkan pahala seperti melakukannya selama 1.000 bulan.
Turunnya para Malaikat
Al-Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa dari setiap lapis langit dan juga dari Sidratul Muntaha, para malaikat turun ke bumi untuk mengamini doa umat Islam yang dipanjatkan sepanjang malam hingga terbitnya fajar atau masuknya waktu Subuh. Selain itu disebutkan pula para malaikat turun membawa ketetapan takdir untuk setahun ke depan.
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.” (QS Al-Qadar: 4)
Keselamatan
Malam qadar juga disebut sebagai malam yang dipenuhi keselamatan hingga terbitnya fajar.
Adh-Dhahhak berkata maksudnya pada malam itu Allah SWT tidak menetapkan sesuatu kecuali keselamatan hingga datangnya fajar. Sedangkan pada malam lain, selain keselamatan juga Allah SWT menetapkan bala. Mujahid berkata maksudnya malam itu adalah malam ketika setan tidak dapat melakukan perbuatan jahat dan keburukan.
سَلٰمٌ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadar: 5)
Tags : ramadhan 2026, lailatul qadar, malam agung, alquran, pahala berlipat, keistimewaan bulan ramadhan, turunnya malaikat, keselamatan umat, nabi muhammad, doa dan ibadah,