Linkungan   2026/03/23 22:11 WIB

Limbah PLTU Keluarkan Pencemaran Udara Ditengah Pemukiman, Warga: Dapur Tertimbun Abu, Air Sumur Pun Jadi Kehitaman

Limbah PLTU Keluarkan Pencemaran Udara Ditengah Pemukiman, Warga: Dapur Tertimbun Abu, Air Sumur Pun Jadi Kehitaman
FABA PLTU Tenayan Raya mencemari tanah dan merusak usaha pembuatan batu bata milik warga.

PEKANBARU - Limbah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kini keluarkan pencemaran udara tidak sehat ditengah pemukiman warga Tenayan Raya, Pekanbaru.

"Limbah PLTU kotori dapur penuh abu dan air sumur jadi kehitaman."

"Debu penuh debu. Biasanya dapur menjadi tempat meramu gizi untuk keluarga kini terganggu," kata seorang ibu yang enggan disebutkan namanya.

Ia harus beradu dengan debu pekat di dapur rumahnya. 

Menurutnya, sudah lebih dari setahun, pencemaran udara ini dialaminya di kediaman Jalan Badak Ujung, Kecamatan Tenayan Raya, runtuh.

Warga menilai pencemaran udara akibat gundukan material keabu-abuan yang diduga kuat adalah sisa pembakaran batu bara.

Warga lainnya terpaksa memasak di ruang tengah rumahnya lantaran dapur sudah tidak bisa dipakai akibat tertimbun material.

Warga di Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, juga mengaku terdampak limbah diduga dari pembangkit listrik itu.

Tak hanya itu, warga mengaku air sumur yang menjadi tumpuan hidup keluarganya kini berubah warna menjadi kehitaman.

"Mungkin tercemar material yang diduga fly ash dan bottom ash (FABA)," kata warga menimpali.

Bukan tidak mungkin, jika lambat 'ditangani' akan berdampak bagi kesehatan keluarga.

Alam di sekitarnya juga seakan ikut terimbas.

"Pohon-pohon kelapa sawit yang dahulu subur dan bisa dipanen, kini hanya tersisa batang-batang tak berbuah, seolah tercekik oleh timbunan abu." 

Motor ekonomi warga (tungku pembakaran dan mesin pencetak batu bata) banyak yang tertimbun longsoran abu.

Menurut laporan media pada Mei 2025, material abu telah menimbun sebagian rumah warga, termasuk dapur dan sumur bor yang rusak total.

Namun hingga kini, PLTU Tenayan Raya seakan enggan menanggapi masalah ini. 

Kepala Riset dan Pengembangan YLBHI-LBH Pekanbaru, Wilton Amos, memandang situasi ini sebagai luka yang nyata.

Ia menyebut masyarakat di sekitar PLTU hingga kini masih terganggu oleh timbunan abu.

Menurutnya, belum terlihat langkah pemulihan lingkungan secara menyeluruh.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan YLBHI-LBH Pekanbaru bersama Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) terhadap sejumlah pembangkit listrik batu bara di Sumatera, termasuk PLTU Tenayan Raya ditemukan puluhan dugaan pelanggaran pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaporkan ke Kementerian Lingkungan Hidup, namun hingga kini hanya berujung pada keheningan.

Kementerian Lingkungan Hidup melalui Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Yulia Suryanti, menyatakan, perusahaan telah melalui evaluasi terhadap aspek pengendalian pencemaran air, udara, serta pengelolaan limbah.

Ia menegaskan bahwa status "Hijau" tersebut bisa dianulir jika terbukti ada konflik dengan warga

"Apabila terbukti terdapat konflik dengan warga, status calon kandidat Proper Hijau PLTU Tenayan Raya dapat dianulir," tegas Yulia Suryanti.

Di tengah diamnya pihak perusahaan, warga Tenayan Raya terus bertahan, hidup berdampingan dengan abu yang perlahan terus merugikan mereka. (*)

Tags : perusahaan listrik tenaga uap, pltu, pekanbaru, limbah pltu, pltu keluarkanlimbah, pencemaran udara,