KEPULAUAN RIAU - Setiap pergantian tahun selalu menjadi momen refleksi dan harapan. Tahun baru tidak hanya menandai pergantian kalender, tetapi simbol dari perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
"Konteks sosial dan ekonomi, tahun 2026 memiliki makna yang lebih dari sekadar perayaan. Dunia masih dihadapkan pada ketidakpastian global, seperti perlambatan ekonomi pasca-pandemi, ketegangan geopolitik, serta perkembangan teknologi yang pesat," kata Wawan Sudarwanto, Ketua
Lembaga Penelitian Pengembangan Pendidikan (LP3) Anak Negeri, Rabu (17.12).
Menurutnya, Indonesia sendiri berada pada titik penting, di mana langkah-langkah strategis pemerintah dan kesadaran masyarakat menentukan arah masa depan bangsa.
Perubahan sosial yang positif hanya terjadi bila individu dan kelompok mampu melakukan refleksi diri, beradaptasi terhadap perubahan, serta berkolaborasi dalam membangun sistem sosial yang lebih baik.
Tahun 2026 dapat menjadi momentum langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik jika masyarakat dan institusi mampu menjadikannya sebagai ruang refleksi, adaptasi, dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Konsep “langkah baru” dan “menjadi lebih baik”, “langkah baru” di sini bukan hanya aktivitas simbolik seperti membuat resolusi, tetapi merupakan proses perubahan nyata dalam kebiasaan, kebijakan, dan arah pembangunan, katanya.
Ia mengandung unsur kesadaran, aksi, dan keberlanjutan. Sementara itu, “menjadi lebih baik” tidak hanya bermakna peningkatan pendapatan atau pencapaian individu, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh, baik dari sisi pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun moral.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 75,90, meningkat dari 75,02 pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menandakan adanya perbaikan kualitas hidup yang diukur dari tiga komponen utama: umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran riil per kapita.
Meski peningkatan tersebut masih tergolong moderat, sebut Wawan, tren ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih baik secara kuantitatif.
Namun, pertanyaannya: apakah peningkatan angka itu telah merepresentasikan “langkah baru” yang sejati, atau hanya kenaikan statistik yang belum berdampak dalam kehidupan sehari-hari?
"Pemerintah Indonesia melalui Outlook APBN 2025 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026 (Kementerian Keuangan RI, 2025)."
"Angka ini menunjukkan optimisme pemerintah terhadap pemulihan ekonomi nasional setelah melewati ketidakpastian global."
"Sementara itu, peningkatan investasi hijau dan transformasi digital mulai menunjukkan dampak positif terhadap produktivitas nasional."
"Tetapi sekitar 68% generasi muda Indonesia menyatakan komitmen untuk menjalani gaya hidup produktif dan berorientasi lingkungan," sebutnya.
"Angka ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir generasi muda yang lebih sadar terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial," tambahnya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tantangan masih besar.
"Kesenjangan sosial-ekonomi masih menjadi masalah serius," sebutnya.
Ia melihat, data BPS tahun 2025 menunjukkan rasio gini Indonesia berada di angka 0,379, yang berarti ketimpangan masih cukup tinggi. Selain itu, indeks literasi digital nasional masih berada di bawah 60 poin (Kominfo, 2024), menandakan bahwa sebagian masyarakat belum siap menghadapi transformasi teknologi yang menjadi tulang punggung ekonomi modern.
Jika kondisi ini dibiarkan, sebutnya, maka langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik hanya akan dinikmati oleh segelintir kelompok yang sudah memiliki akses pendidikan dan teknologi.
Jadi menurut Wawan Sudarwanto, makna “lebih baik” harus dikaji secara kualitatif, bukan hanya melalui angka pertumbuhan atau statistik IPM, melainkan juga melalui perubahan pola pikir, perilaku, dan tata kelola sosial. (*)
Tags : Resolusi, 2026, Tahun Baru, Harapan Baru, Semangat Hidup, Lembaga Penelitian Pengembangan Pendidikan, LP3 Anak Negeri,