LINGKUNGAN - Langkah pemerintah melakukan relokasi penduduk dengan alibi untuk pemulihan (reforestasi dan restorasi) hutan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) mendapat sorotan keras.
"Pemerintah juga diminta pangkas areal HTI APRIL Grup & Konsesi Sawit Asian Agri."
"Langkah pemerintah yang 'menjual' isu pemulihan TNTN harus dilakukan transparan, komprehensif dan berbasis pada hak asasi manusia (HAM). Pemulihan TNTN harus merujuk pada alur kronologis penetapan kawasan TNTN. Tidak saja soal keberadaan masyarakat yang dipersoalkan, namun juga keberadaan sejumlah perusahaan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan kelapa sawit yang berada di bentangan lanskap Tesso Nilo," kata Direktur Pusat Hukum dan Resolusi Konflik (Puraka), Ahmad Zazali, SH, MH dalam keterangannya, Minggu (21/12).
Pemulihan TNTN disinyalir memiliki motif lain, yakni dugaan proyek karbon yang dibiayai dari anggaran FOLU Net Sink 2030.
Pemerintah juga diminta melakukan pemulihan TNTN secara komprehensif dan objektif, dengan tidak mengabaikan hak-hak masyarakat yang lebih dulu bercocok tanam (ruang hidup), jauh sebelum penetapan kawasan hutan konservasi TNTN.
Pemulihan TNTN jangan dilakukan hanya dengan opsi tunggal, yakni dengan relokasi (pemindahan) masyarakat, namun membuka opsi lain yang lebih berkeadilan dan humanis.
Sebelumnya, Satgas PKH pada Sabtu (20/12/2025) kemarin memulai relokasi sebanyak 228 kepala keluarga (KK) di Desa Limau Manis yang mendiami TNTN.
Mereka dipindahkan ke lahan perusahaan sawit PT Peputra Supra Jaya (PSJ) yang juga masih berstatus kawasan hutan.
Merujuk pada hasil penelitian organisasi WWF pada tahun 2000-an, kata Ahmad, ditemukan ada 5 kantong gajah Sumatera di Riau. Salah satu kantong gajah berada di lanskap Tesso Nilo yang luasnya mencapai 337 ribu hektare, namun hanya seluas 81 ribu hektare yang dijadikan TNTN.
"Sisanya yang jauh lebih luas justru dikuasai dan dikelola perusahaan pemegang izin konsesi HTI dan perkebunan sawit," kata Ahmad.
Fakta tersebut, menurut Ahmad, menunjukkan bahwa rusaknya habitat (kantong) gajah Sumatera, tidak serta merta disebabkan oleh aksi pembukaan kebun kelapa sawit oleh masyarakat di lanskap Tesso Nilo.
Namun, keberadaan sejumlah perusahaanlah yang justru memberikan kontribusi terbesar rusaknya habitat (home range) gajah Sumatera di sekitaran TNTN.
Ahmad menegaskan, pemerintah juga harus menempuh opsi lain untuk pemulihan TNTN, yakni dengan memangkas luasan konsesi izin perusahaan HTI dan perkebunan sawit di sekitar TNTN, untuk dijadikan areal konservasi gajah Sumatera.
"Karena kantong gajah Sumatera sesungguhnya bukan hanya di TNTN, tapi meliputi lanskap Tesso Nilo seluas 337 ribu hektar yang sebagian besar sudah diberikan perizinan ke perusahaan HTI milik PT RAPP (APRIL Grup) dan perkebunan sawit skala besar, termasuk milik PT Inti Indo Sawit (Asian Agri Grup)," tegas Ahmad Zazali.
Puraka dan koalisi sipil, juga meminta pemerintah untuk menindaklanjuti surat Komnas HAM RI pada Juli 2025 dan hasil rapat gabungan Komisi XIII DPR RI bersama Kementerian HAM, Komnas HAM dan LPSK. Di samping itu, juga mestinya membuat kerangka dan membuka ruang dialog dengan melibatkan mediator independen dan membuka opsi lain selain relokasi.
"Serta melibatkan masyarakat untuk memulihkan kantong gajah Sumatera melalui kegiatan reforestasi di areal yang diambil dari lahan izin perusahaan-perusahaan di lanskap Tesso Nilo," pungkas Ahmad Zazali.
Berikut kronologi singkat dinamika penetapan kawasan hutan konservasi TNTN versi Puraka:
Tags : TNTN, Taman Nasional Tesso Nilo, Relokasi TNTN, Pemerintah Pangkas Areal HTI APRIL Grup & Konsesi Sawit Asian Agri, Konsesi Sawit disekitar TNTN, Konservasi Gajah,