Sekitar 43 ribu calon jamaah umrah menunggu pemberangkatan hingga April.
AGAMA - Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak mengimbau jamaah Indonesia yang akan berangkat umrah dalam waktu dekat untuk menunda sementara keberangkatan ke Tanah Suci.
Imbauan ini disampaikan menyusul masih tingginya eskalasi konflik di Timur Tengah akibat saling serang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Menurut Dahnil, sejak awal Kementerian Haji dan Umrah bersama Kementerian Luar Negeri telah mengeluarkan imbauan agar jamaah menunda keberangkatan guna mengantisipasi kemungkinan situasi yang tidak diinginkan.
“Kementerian Haji dan Umrah dan juga Kementerian Luar Negeri sudah menghimbau agar jamaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat ini menunda sementara keberangkatannya,” ujar Dahnil saat sambutan dalam acara "Konsolidasi Perhajian dan Umrah" di Gedung Utama Grand El Hajj, Asrama Haji Banten, Tangerang, Selasa (3/3).
Ia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, jumlah jamaah yang dijadwalkan berangkat hingga batas akhir penutupan ibadah umrah pada awal April mencapai lebih dari 43 ribu orang.
“Sekitar April, lebih dari 43 ribu jamaah kita yang akan berangkat, terhitung mulai bulan ini sampai awal April. Itu yang terdata,” ucapnya.
Dahnil menambahkan, angka tersebut belum termasuk jamaah umrah mandiri yang tidak tercatat dalam sistem resmi kementerian. Jika dihitung secara keseluruhan, jumlahnya diperkirakan bisa mencapai 50 hingga 60 ribu orang.
“Kalau ditambah jamaah umrah mandiri dan lainnya, bisa jadi 50 sampai 60 ribu yang sudah bersiap berangkat,” katanya.
Karena itu, pemerintah memandang perlu mengambil langkah antisipatif demi keselamatan jamaah, terutama jika eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat.
“Nah itulah, untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan, apalagi eskalasi meningkat, maka imbauan untuk menunda sementara keberangkatan itu kami anjurkan,” kata Dahnil.
Meski demikian, ia meminta keluarga jamaah yang saat ini masih berada di Tanah Suci untuk tetap tenang. Pemerintah, kata dia, hadir dan terus memantau situasi secara intensif.
“Bagi keluarga yang mungkin keluarganya masih ada di Tanah Suci, jangan khawatir, tetap tenang. Kami berulang kali menyampaikan negara urus hadir,” ucapnya.
Dahnil memastikan tim Kementerian Haji dan Umrah siaga penuh selama 24 jam di seluruh terminal di Tanah Suci.
Koordinasi juga dilakukan secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan perlindungan maksimal bagi warga negara Indonesia.
“Tim kami di Kementerian Haji juga standby 24 jam di semua terminal di Tanah Suci, termasuk teman-teman dari Kementerian Luar Negeri,” jelasnya.
Kemenhaj kini sedang menyiapkan mitigasi dan langkah darurat. Sementara sebanyak 3.000 jamaah umrah asal Jawa Barat masih berada di Arab Saudi.
Para jamaah umrah masih melaksanakan ibadah di tengah perang AS-Israel dengan Iran.
"Ada sekitar tiga ribuan jamaah Jawa Barat yang memang masih melaksanakan ibadah umroh di tanah suci pada saat ini. Itu informasi dari pusat yang kita dapat seperti itu," ucap Kepala Kanwil Kemenhaj dan Umrah Jawa Barat Boy Hary Novian saat dihubungi wartawan, Selasa (3/3).
Ia menuturkan aktivitas jamaah umrah di Arab Saudi berjalan lancar termasuk bandara.
Ia mengungkapkan, jamaah bakal pulang menggunakan maskapai penerbangan Saudi Airlines, Lion Air hingga Garuda Indonesia.
"Ya, Saudi Airlines, kemudian Lion Air, Garuda, itu tidak ada masalah tetap masih bisa melakukan perjalanan atau rute penerbangan seperti biasa," kata dia.
Boy melanjutkan total travel umrah di Jawa Barat saat ini mencapai 649 unit. Ia mengimbau travel umrah yang sudah memiliki jadwal keberangkatan ke depan untuk melakukan penjadwalan ulang.
"Kalau pun yang sudah memiliki jadwal bisa melakukan reschedule, dari maskapai penerbangan pun memberikan opsi penjadwalan ulang," kata dia.
Apalagi, ia mengatakan maskapai penerbangan memberikan opsi untuk melakukan penjadwalan ulang.
Pihaknya belum menerima data terkait travel umrah yang menunda atau menjadwal ulang keberangkatan jamaah umrah ke Arab Saudi.
Seperti diketahui, saat ini perang terjadi antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Akibat perang, ratusan warga meninggal dunia di tengah momen puasa Ramadhan.
Pengamat haji dan umrah Mustolih Siradj mengatakan, berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), saat ini tercatat sebanyak 58.873 jamaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Dalam kondisi perang yang masih serba tidak menentu tersebut, Mustolih mendesak pemerintah untuk mengambil kebijakan dan langkah-langkah terukur terutama dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada jamaah dari akibat dampak perang yang masih terus berkecamuk dan tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir.
Ia mengatakan, Kementerian Haji dan Umrah sebagai leading sector dalam penyelenggaraan ibadah umrah perlu mengambil langkah inisiatif dan aktif bekerjasama serta berkomunikasi secara intens dengan jajaran Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), maskapai, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), organisasi asosiasi haji dan umrah, dan dengan otoritas Arab Saudi.
Ia menegaskan, jika kondisi Timur Tengah kian memburuk perang terus berkecamuk dan jalur penerbangan udara tidak juga dibuka, Kemenhaj perlu menyiapkan mitigasi dan langkah darurat (contingency plan) dengan menyiapkan pusat informasi sebagai crisis center, bahkan jika diperlukan menyediakan tempat penampungan sementara bagi jamaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan jamaah ke Tanah Air.
Hal ini sebagai bentuk dari kehadiran negara dalam menjaga warganya dalam situasi krisis akibat perang yang masih akan terus berlangsung.
"Langkah-langkah tersebut penting karena kemampuan finansial dan persiapan logistik jamaah umrah berbeda-beda, ada yang pas-pasan dan terbatas karena tidak sesuai dengan rencana perjalanan, begitu juga dengan kemampuan PPIU, belum lagi diantara ribuan jamaah umrah tersebut juga ada yang melakukan umrah mandiri tanpa melalui biro jasa travel," ujar Mustolih.
Ia mengatakan, bagi jamaah yang masih di Arab Saudi juga harus mengikuti himbauan, informasi dan panduan yang disampaikan pemerintah.
Bagi mereka yang baru akan berangkat ke Tanah Suci, sebaiknya menunda terlebih dahulu sampai situasinya benar-benar kondusif.
"Oleh sebab itu, situasi perang seperti sekarang ini tentu menimbulkan kerugian bagi semua kalangan bukan saja bagi jamaah, travel, maskapai, penyelenggara transportasi dan akomodasi serta semua ekosistem umrah tetapi juga bagi negara tuan rumah yakni Arab Saudi dan negara pengirim jamaah. Meski demikian belum ada hitungan berapa besar kerugiannya, semoga perang ini segera berakhir," kata Mustolih. (*)
Tags : arab saudi, umrah, jamaah umrah, perang di timur tengah, israel serang iran, jamaah umrah indonesia, nasib jamaah umrah, penerbangan umrah, dampak serangan ke iran, iran diserang, timur tengah, penerbangan,