BATAM - Ratusan benih lobster merangkak kesana-kemari di dalam bak berukuran 2 x 3 meter. Sebagian ada yang mengerumuni daging kerang kupang yang sudah dikupas.
"Kerang dimasukan sebagai pakan hewan bernama lobster (nephropidae)."
“Ini kami sedang penjarangan benih lobster, karena kalau terlalu padat akan terjadi kanibal antara mereka,” kata salah seorang petugas BPBL Batam.
Sebagian lobster, ada juga yang bersembunyi dibalik potong-potongan jaring yang sengaja diletakan di dalam bak sebagai pelindung.
Setidaknya terdapat hampir 100 bak dengan total benih lobster dibudidayakan mencapai 30.000 ekor.
Bak berisikan puluhan ribu benih lobster ini adalah kawasan modeling budi daya lobster yang baru diresmikan Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Wahyu Sakti Trenggono.
Tepat berada di depan kantor Balai Perikanan Budi Daya Laut (BPBL) Batam, atau di pesisir Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Modeling ini akan menjadi percontohan untuk pengembangan budi daya lobster di seluruh Indonesia.
Proses budidaya lobster di BPBL Batam ini berawal dari persemaian benih atau disebut nursery.
Benih yang baru datang dari berbagai wilayah, termasuk yang disisihkan hasil penindakan penyelundupan dipisahkan di bak-bak nursery.
Setelah penjarangan, lobster dipisahkan diantara bak yang sudah ada. Saat ini BPBL Batam memanfaatkan bak pembibitan ikan. Pasalnya bak khusus pembibitan lobster masih dalam tahap pembangunan.
Pengawas Perikanan Ahli Madya Pembudidaya Ikan BPBL Batam Adi Suseno mengatakan, di tahap nursery, pembudidaya harus memperhatikan dua hal penting, yaitu kondisi air dan pakan.
Tidak seperti budi daya ikan, air yang terdapat di bak persemaian hanya setinggi 40 centimeter.
“Karena kalau airnya tingginya 40 centimeter proses pergantian semakin cepat, seperti yang terjadi di laut yang selalu terjadi pasang surut, jadi kondisi air selalu terjaga,” katanya.
Selain memperhatikan air, tersedianya pakan benih lobster juga menjadi hal pokok.
Proses persemaian benih di bak-bak nursery berlangsung 45 hari dari ukuran benih yang awalnya 0.2 gram menjadi 1 gram.
Kemudian, benih lobster dipindahkan ke keramba yang terdapat di laut, pemindahan tidak langsung di keramba ukuran besar.
Tetapi, ukuran medium dalam bentuk kerangkeng bulat yang dimasukan ke laut istilahnya keramba M (medium).
Dalam kerangkeng tersebut, benih lobster hidup selama 4 bulan lamanya. Setelah ukurannya menjadi 10 gram, baru lobster dipindahkan ke ukuran keramba besar atau disebut L (large) berbentuk persegi empat.
“Keramba-keramba ini proses pembesaran, dari keramba large ini untuk sampai 1 kilogram butuh waktu sekitar 8 bulan, artinya budidaya lobster ini rata-rata untuk 1 kilogram lobster butuh waktu budidaya 16 bulan,” katanya.
Proses budidaya ini berlangsung sudah sejak Juli 2024 lalu. Awalnya dilakukan percobaan dalam jumlah kecil.
Proses ini menghasilkan lobster yang sudah tumbuh 1 kilogram, sehingga kemudian BPBL dipercaya melakukan budi daya massal.
“Modeling budi daya lobster ini, bagaimana kita mencari metode yang pas untuk budidaya sesuai dengan lokasi yang ada,” katanya.
Misalnya laut di Pulau Jawa berbeda dengan yang ada di Kepri. Di beberapa daerah kerangkeng lobster diletakan di dasar laut, sedangkan kalau di Batam hal itu tidak bisa dilakukan karena arusnya sangat kuat.
“Jadi kita letakan kerangkengnya itu di bagian permukaan, sampai sekarang cukup berhasil, selain kita juga memperhatikan suhu, kadar air hingga nutrient-nya,” katanya.
Banyak tantangan yang ditemukan ketika budidaya dilakukan, namun ia tidak mau frustasi dengan kondisi alam tersebut.
“Kita tidak boleh frustasi dengan kondisi alamnya, kita terus lakukan modifikasi, kita harus ciptakan budidaya yang minusnya sedikit, tetapi plus nya banyak,” katanya.
Keberadaan pakan lobster menjadi sangat penting untuk budi daya. Kepulauan Riau disebut-sebut cocok lokasi pengembangan budi daya lobster, pasalnya memiliki pakan yang melimpah, yaitu kerang-kerangan.
Adi mengatakan, pakan sangat menentukan pertumbuhan lobster, terutama nutrisi yang terdapat di pakan akan menjadi pengganti kulit ketika lobster melakukan proses moulting.
Moulting sendiri menandakan lobster tumbuh dengan baik. Moulting dilakukan lobster bahkan sampai dua kali dalam seminggu.
“Kalau makannya tidak diperhatikan, begitu juga air budi daya, lobster-lobster ini tidak akan melakukan moulting,” katanya.
Dampaknya, ketika lobster tidak melakukan ganti kulit akan terjadi kanibalisme oleh sesama mereka, pasalnya dalam kondisi moulting lobster dalam keadaan lunak dan lemah.
“Tingkat, kanibal lobster ini lebih tinggi dari ikan,” katanya.
Sehingga, salah satu menghindari kanibalisme selain memberikan makanan berkualitas, ia juga membuat tempat-tempat lobster bersembunyi di bak-bak nursery.
“Kita bisa menyebutkan satu kilogram biomassa lobster tersebut membutuhkan pakan 20 kilogram daging kerang,” katanya.
Saat ini, pakan lobster ini merupakan kerang kupang. Selain itu bisa juga menggunakan kerang lokan hingga kerang coklat.
“Sekarang kita sedang mulai jajaki kerang-kerang kupang yang terdapat di Batam. Saat ini sudah ada di Tanjung Uma, Bengkong hingga kawasan daerah laut Marina,” katanya.
Tantangannya, keberadaan kerang di laut Batam ini juga musiman. Pada bulan Maret dan April kerang kupang ini melimpah. Bulan Juli ke atas, kerang kupang itu sama sekali tidak ada di laut.
“Kita juga sedang kembangkan budi daya kerang kupang di Tanjung Uma. Selain itu untuk mengatasi kelangkaan nanti akan kita lakukan panen kerang kupang untuk stok yang akan disimpan dalam lemari es,” katanya.
Kerang kupang ini, tidak dikonsumsi oleh masyarakat Batam, sehingga sangat bagus dijadikan pakan agar tidak menjadi hama.
“Jadi etika budi daya kita juga tidak langgar, kerang kupang bukanlah untuk konsumsi manusia, jadi kita bisa manfaatkan,” katanya.
Saat ini BPBL membeli kerang kupang kepada warga pesisir di Batam seharga Rp10.000/kilogram.
Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono mengatakan Saat ini budi daya lobster di Vietnam menjadi rujukan KKP.
Setelah melihat budi daya lobster selama dua tahun di Vietnam, tantangan Indonesia adalah konsistensi membangun ekosistem budi daya lobster.
“Vietnam ekosistem budi daya mereka sudah terbangun dengan baik, hanya satu kelemahan mereka yaitu bibit,” katanya usai meresmikan modeling budi daya lobster tersebut.
KKP merencanakan di kawasan BPBL Batam akan dibangun 2.000 keramba.
Jika produksi benih lobster butuh waktu 14 bulan, pendapatan negara bisa mencapai Rp48 miliar per tahun.
“Tidak pernah terbayangkan, ini akan menarik pertumbuhan lain, ekonomi akan jalan. Saya hitung 2.000 keramba akan menyerap tenaga kerja sebanyak 600 orang pekerja,” katanya.
Tidak hanya di Kepri, kawasan teluk seperti di Batam ini juga banyak di Riau. Trenggono akan membangun modeling sama di seluruh Indonesia.
“Kita ingin buat di seluruh Indonesia, itu bisa jalan kalau pemerintah turun tangan, itu yang saya sebut dengan model intervensi,” katanya.
Sebelumnya, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (FPIK Unpad) Yudi Nurul Ihsan mengakui kalau kebijakan yang diterbitkan dan dikelola kepemimpinan KKP saat ini menjadi lebih baik dibandingkan kepemimpinan sebelumnya.
Utamanya, adalah kebijakan dalam budi daya perikanan yang dinilai sudah menjadi terobosan yang sangat baik.
Subsektor perikanan budi daya dinilai memerlukan berbagai terobosan karena akan menjadi masa depan perikanan Indonesia.
“Untuk memenuhi kebutuhan pangan, pertumbuhan ekonomi, maupun sebagai solusi menjaga keberlanjutan ekosistem laut,” terangnya.
Menurutnya, mengembangkan budi daya perikanan, khususnya lobster memiliki tantangan yang rumit.
Namun, dengan belajar kepada Vietnam yang sukses mengembangkan budi daya lobster, diharapkan itu bisa menjadi solusi untuk jangka panjang.
Merujuk dari Satu Data KKP, volume produksi budi daya lobster Indonesia pada tahun 2023 mencapai 433 ton dengan nilai sebesar Rp 179 miliar (angka sementara).
Potensi pasar seafood dunia, termasuk krustasea seperti lobster, diproyeksikan akan mencapai USD 53,86 miliar pada tahun 2030.
Namun, share ekspor lobster Indonesia di pasar global saat ini masih relatif kecil, yakni hanya 0,49%, dengan Indonesia berada di peringkat 23 eksportir dunia. Negara tujuan ekspor utama lobster Indonesia saat ini adalah China (47%), Taiwan (24%), dan Australia (13%).
Sebelumnya, Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna mengakui, ada puluhan lobster berukuran 50 gram bergelantungan di keramba jaring apung Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL), di Pesisir Pulau Setokok, Batam, Kepulauan Riau.
Petugas selalu berkeliling menyebar pakan yang terbuat dari daging ikan dan kerang hitam yang sudah halus.
“Kalau umur lobster segini sudah bisa makannya dicampur, 30%kerang, selebihnya ikan. Tetapi kalau ukuran dibawah lima gram hanya daging kerang,” kata Ipong Adi Guna.
Luas keramba BPBL ini hampir satu hektar yang terbagi beberapa petak.
Di lokasi itu pula Gibran Rakabuming, Wakil Presiden memanen lobster perdana 1,7 ton pada September 2025 lalu, kata Ipong.
Sayangnya, keberadaan proyek pembangkit listrik yang berjarak sekitar 400 meter dari lokasi BPBL menimbulkan kebisingan.
Ipong mengatakan, salah satu tantangan dalam modeling budidaya lobster di BPBL Batam adalah tata ruang kota yang tidak mengakomodir pembudidayaan ikan.
Meski modeling lobster BPBL ini sudah memiliki izin pembudidayaan, daerah sekitar justru pemerintah proyeksikan untuk kegiatan non perikanan.
Sejatinya, budidaya lobster sangat bergantung pada aktivitas di sekitar lokasi tempat keramba.
Dalam konteks Batam, masalah utama budidaya lobster ada pada ketiadaan ruang untuk mendukung budidaya ini. Sebab, pemerintah memproyeksikan daerah ini untuk industri.
“Jadi Batam ini kan memang tidak menyediakan zona secara khusus terkait dengan budidaya laut. Bahkan mungkin budidaya darat juga ya, karena Batam ini kan memang diprioritaskan untuk industri,” kata Ipong.
Karena itu, budidaya lobster BPBL sebatas modeling, bukan untuk produksi reguler.
Harapannya, hasil modeling budidaya ini bisa masyarakat terapkan di tempat atau daerah lain.
Terhitung sejak Oktober 2024, BPBL menebar 30.000 benih lobster dan sudah panen 1,7 ton pada September 2025 lalu.
“Jadi kalau ngomong setiap tahun panen berapa, saya tidak bisa pastikan, karena tergantung input. Paling tidak kita sudah tau teknologinya, harapannya metode ini bisa direplikasi oleh masyarakat.”
Ipong menyatakan, beberapa lokasi seperti Lingga, Karimun, Bintan, Anambas dan Natuna cukup layak untuk budidaya ini.
Dia pun menyarankan kepada pemerintah setempat untuk mengalokasikan tata ruang yang secara khusus terhadap kegiatan budidaya dalam bentuk peraturan daerah (perda).
“Seluruhnya kawasan itu masih luas untuk zonasi budidaya, Batam sudah kecil kemungkinannya,” katanya.
Selain tata ruang, kata Ipung, budidaya lobster ini juga perlu memperhatikan oseanografi yaitu data kondisi kualitas air. Begitu juga infrastruktur pembesaran seperti kolam dan jaring apung.
“Kalau mau pendederan seperti kita, ya harus punya infrastruktur di darat. Kalau infrastruktur sudah, tantangan selanjutnya adalah pakan,” katanya.
Dalam proses pengembangan modeling ini, mereka sudah mencoba tiga pakan, yakni, daging ikan, cumi dan kerang.
Dari hasil pengamatan, pakan kerang memiliki tingkat kelulusan hidup lebih tinggi. Itulah alasan kenapa budidaya lobster konvensional memiliki tingkat kelulusan hidup yang rendah.
“Kan kasih makannya sembarangan.”
Batam memiliki dua jenis kerang, yakni hijau dan hitam. Karena banyak masyarakat yang mengonsumsi kerang hijau, BPBL pilih kerang hitam untuk bahan pakan.
“(Kerang hijau) sebenarnya bagus, tetapi kan dimakan orang, tentu harganya akan lebih mahal, jadi kita ambil kerang hitam.”
Kerang hitam dengan nama latin Mytilus Galloprovincialis ini mirip dengan kerang hijau tetapi dia agak lebih kecil.
Tantangannya, kerang ini hanya ada di kawasan Tanjung Uma Batam. Itu pun di musim-musim tertentu, sekitar 2-3 bulan dalam setahun.
“Yang di Tanjung Uma itu kerangnya tumbuh alami, tetapi kita membuatkan sarana tumbuhnya seperti membuat keramba jaring apung (KJA) yang menggunakan tali, nanti secara alami kerang akan tumbuh di tali itu. Dan itu kami kerjasamakan dengan,” kata Ipong.
Masyarakat yang menjadi mitra akan menyerahkan kerang hitam untuk pakan. Sedangkan kerang hijau, mereka ambil untuk dijual.
Bagaimana jika tidak ada panen kerang hitam? Ipong terpaksa mencarinya ke berbagai tempat.
Agar tidak tergantung pada musim panen, Ipong merencanakan untuk melakukan pembenihan kerang menggunakan teknologi modern.
“Kami rencanakan tahun pembenihannya, agar tidak bergantung lagi kepada kerang yang ada di alam.”
Budidaya kerang dan lobster sejatinya bisa berdampingan. Meskipun keduanya hidup di air yang berbeda.
Kerang tumbuh di perairan yang punya bahan organik tinggi seperti perairan berlumpur. Dengan begitu, pembenihan tidak bisa di area lobster yang mengharuskan kondisi air dalam keadaan bersih.
“Jadi harus cari tempat lain nanti, mungkin bisa saja dalam bentuk tambak di darat pembenihan kerangnya. Tetapi paling tidak, budidaya lobster dan kerang itu bisa terintegrasi,” katanya.
Modeling lobster di Batam sudah berlangsung sejak Oktober 2024. Saat itu, BPBL mendapat mandat untuk mencari solusi tentang budidaya lobster.
Setelah melalui proses uji coba selama setahun, usaha itu membuahkan hasil dan bisa diadopsi masyarakat maupun pengusaha.
“Jadi permasalahan di Indonesia itu, BBL-nya banyak, tapi kok budidayanya gak berkembang, seperti di Vietnam,” katanya.
Dalam proses modeling, ada tiga segmen penting kata Ipong. Pertama segmen pendederan, pembesaran lobster dari benih bening lobster (BBL) ke benih lobster lima gram.
Fase ini cenderung memiliki tingkat kelulusannya sangat rendah. Sehingga perlu perhatian khusus, termasuk pakan yang cocok.
“Kami sudah mencoba tiga pakan pada fase ini, cumi, ikan dan kerang, yang cocok memang kerang, tingkat hidup lobsternya tinggi,” kata Ipong.
Selama ini, menjaga tingkat kelulusan hidup menjadi problem utama budidaya lobster secara tradisional di masyarakat.
Bahkan, katanya, tingkat kehidupan hanya 5%. Misalnya, dari 100 ekor BBL yang dibudidayakan, hanya 5% yang berhasil tumbuh besar.
Segmen kedua, yaitu, dari ukuran benih lobster lima gram menjadi 30 gram atau 50 gram. Pada fase ini, budidaya lobster sudah bisa di laut.
“Di segmen ini lobster sudah stabil. Stabil untuk berlanjut ke pembesaran, karena tingkat kelulusan hidupnya semakin meningkat sekitar 60-70%.”
Segmen ketiga atau terakhir, adalah pemeliharaan pembesaran dari 100 gram sampai panen.
Saat ini, kata Ipong, budidaya lobster paling banyak adalah spesies lobster pasir.
Karena di Indonesia dari 10 lobster yang jenis mutiara hanya 10%saja. Benih lobster yang ada di modeling BPBL Batam ini kata Ipong berasal dari berbagai daerah, seperti Lombok, dari Bengkulu, dari Sukabumi.
Menurut Ipong, kualitas benih lobster tidak tergantung daerah. Tetapi, bergantung pada penanganannya saat dalam perjalanan ke Batam (handling). “Namanya lobster ini masih bayi, memberlakukannya harus seperti bayi juga.”
Di Kepri, kata Ipong, sebenarnya juga ada lobster. Tetapi, tidak ada nelayan yang menangkapnya.
Pemerintah tengah melakukan revisi terhadap Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7 Tahun 2024, terutama bagian yang mengatur tentang umur lobster yang bisa didistribusikan.
Sebelumnya, distribusi lobster bisa untuk dibawah 5 gram dan di atas 100 gram. “Nah nanti di Permen 7 yang akan direvisi itu, masukannya adalah ukuran 5 gram, 30 gram, 50 gram juga boleh didistribusikan antar daerah.”
BPBL akan membantu masyarakat mempersiapkan lobster 50 gram. Pelaku budidaya setelah itu tinggal melakukan pembesaran.
“Jadi kalau permen itu sudah ada, kami fokus memproduksi benih, masyarakat diberi bantuan benih untuk dibesarkan.”
Karena ukuran tersebut sudah cukup kuat untuk budidaya, sekaligus memotong siklus budidaya.
“Misalnya dari Lombok itu lobster yang dikirim 50 gram, jadi masyarakat disini tinggal membesarkan menjadi 100 gram atau lebih, tetapi pengiriman ukuran itu tidak boleh di Permen 7 tersebut,” jelas Ipong.
Indonesia berpeluang menjadi produsen spesies bernilai ekonomi tinggi, salah satunya lobster.
Dalam praktik, pembesaran budidaya lobster jauh tertinggal dari Vietnam. Perkiraan produktivitas usaha pembesaran lobster di KJA yang rata-rata berukuran tiga meter kubik di Pulau Lombok adalah sebesar 50 kilogram per KJA, lebih rendah dibandingkan produktivitas usaha pembesaran lobster di Vietnam yang mencapai 57,7 kilogram per KJA. (*)
Tags : lobster, budidaya lobster, batam, kepri, lobster di ekspor ke china, taiwan, australia ,