BENGKALIS - Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni menyebut Provinsi Riau kini berada di posisi terakhir dalam catatan hotspot dan fire spot dibandingkan enam provinsi yang selama ini dikenal sebagai wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pernyataan itu disampaikan Raja Juli saat mengunjungi Rumah Runding Restorasi di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/9/2026).
Menurut Raja Juli, kondisi tersebut menjadi perkembangan penting bagi Riau yang memiliki sejarah panjang dalam persoalan karhutla dan kabut asap.
Secara historis, Riau kerap berada di posisi tinggi dalam catatan kebakaran.
"Alhamdulillah dari enam provinsi yang langganan Karhutla, biasanya Riau langganan nomor satu. Kalau kita lihat sejarahnya track record, historical record Riau ini nomor satu," kata Raja Juli.
Ia mengaku pernah merasakan langsung dampak karhutla di Riau, termasuk kondisi asap yang cukup pekat.
Raja Juli mengatakan kondisi karhutla tahun ini menjadi perhatian karena terjadi pada periode yang disebut sebagai puncak El Nino. Namun, situasi di Riau justru tidak menunjukkan pola seperti sejumlah tahun sebelumnya.
"Bahkan tahun lalu saja rasanya lebih pekat asapnya ketimbang tahun ini padahal ini puncak El Nino. Nah sekarang saya kira semua pakar nasional maupun internasional yang sempat berinteraksi dengan saya, melihat bahwa Alhamdulillah Riau urutan hotspot dan fire spot-nya nomor terakhir," ujarnya.
Berdasarkan data pemantauan pada Rabu pagi, Riau masih memiliki enam hotspot yang tersebar di Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, Siak, dan Indragiri Hulu.
Jumlah tersebut berada jauh di bawah beberapa provinsi lain di Sumatera pada periode pemantauan yang sama.
Raja Juli menegaskan rendahnya catatan hotspot di Riau tidak dapat dijelaskan hanya melalui keberhasilan satu pihak.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya yang melibatkan pemerintah, aparat, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya.
"Tentu ini adalah rasa syukur kita, jawabannya tidak bisa singkat bahwa ini tanda Pak Plt Gubernurnya keren, Pak Pangdamnya keren, Pak Kapolda keren, Bu Bupati keren dan masyarakatnya juga keren," ungkapnya.
Ia menilai diperlukan kajian lebih mendalam dari para saintis dan ilmuwan untuk mengetahui berbagai faktor yang menyebabkan perubahan kondisi karhutla di Riau.
Kajian tersebut dinilai penting karena ancaman karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan belum sepenuhnya berakhir.
Raja Juli mengingatkan agar rendahnya jumlah hotspot saat ini tidak membuat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran menurun.
Salah satu hal yang menurutnya perlu mendapat perhatian adalah perubahan kondisi kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi kebakaran berulang.
Ia mencontohkan kawasan Tanjung Leban yang sebelumnya mengalami degradasi gambut dan berulang kali terbakar.
Kawasan tersebut kemudian menjalani proses pemulihan melalui restorasi.
"Nah salah satu potongan jawaban terhadap kondisi hari ini saya kira adalah apa yang sedang kita saksikan pada saat sekarang ini. Di mana tadi disampaikan ini dulu (Tanjung Leban) adalah tempat kebakaran hutan berulang terjadi, terjadi degradasi gambut," terangnya.
Menurut Raja Juli, pemulihan kawasan tidak hanya dilakukan melalui rehabilitasi lahan, tetapi juga melalui revegetasi dengan tanaman endemik yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem serta kehidupan masyarakat setempat.
"Namun dengan kerja sama gotong royong, daerah yang terdegradasi ini, wilayah yang dulu menjadi tempat kebakaran hutan berulang sekarang berhasil direstorasi. Ada proses pemulihan yang luar biasa terjadi, ada revegetasi, menanam tanaman-tanaman endemik yang memang dikenal secara historis kultural oleh masyarakat di sini," tuturnya.
Selain revegetasi, pengelolaan tata air menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan gambut yang telah dipulihkan.
Raja Juli menyebut telah terdapat kesepakatan penerapan sistem water sharing untuk menjaga tata air di kawasan seluas sekitar 2.400 hektare.
"Terjadi kesepakatan untuk menjaga tata air yang baik, tadi dikatakan water sharing system yang sangat baik di 2.400 hektare kawasan di sini. Dan nampaknya inilah mungkin jawaban, paling tidak sepotong jawaban, yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tadi muncul di banyak kalangan kenapa Riau memiliki kemampuan yang luar biasa," pungkasnya.
Pemprov Riau menekankan bahwa keberhasilan restorasi gambut perlu dijaga secara berkelanjutan, termasuk melalui pemeliharaan kawasan dan keterlibatan masyarakat.
Pendekatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dinilai harus bertransformasi secara mendasar.
Ketergantungan pada tindakan pemadaman reaktif saat krisis terjadi kini dinilai tak lagi cukup tanpa adanya pemulihan ekosistem yang terukur dan berbasis pengetahuan saintifik.
Perubahan paradigma tersebut mengemuka saat Menhut, Raja Juli Antoni meninjau langsung kawasan Tanjung Leban, Kabupaten Bengkalis, Rabu (30/9/2026).
Kawasan yang berdekatan dengan pesisir Riau ini dulunya dikenal sebagai salah satu titik langganan karhutla dan mengalami degradasi gambut parah.
Namun kini, Tanjung Leban didorong untuk menjadi living laboratory (laboratorium hidup) serta pusat pembelajaran restorasi gambut berskala internasional.
Langkah ini menandai pergeseran sudut pandang penting, memperlakukan rekam jejak bencana bukan semata sebagai catatan kelam, melainkan sebagai objek kajian lapangan untuk menguji ketangguhan teknik pemulihan kawasan gambut secara berkelanjutan.
Selama bertahun-tahun, penanganan karhutla di wilayah gambut sering kali terjebak dalam siklus musiman yang menghabiskan anggaran besar untuk pemadaman api di permukaan.
Padahal, akar masalah utamanya terletak pada terganggunya keseimbangan tata air gambut akibat kanalisasi dan hilangnya tutupan vegetasi asli.
Raja Juli Antoni menegaskan, keberhasilan pemulihan di Tanjung Leban membuktikan pentingnya pengintegrasian antara aspek rekayasa tata air dan pemulihan vegetasi berbasis nilai lokal.
"Terhadap kondisi hari ini saya kira adalah apa yang sedang kita saksikan pada saat sekarang ini. Yang dulunya adalah tempat kebakaran hutan berulang terjadi, terjadi degradasi gambut tetapi bisa menjadi baik seperti ini," kata Menhut.
Menurut Menhut, pemulihan kawasan gambut Tanjung Leban memberikan pelajaran berharga bahwa mitigasi karhutla jangka panjang tidak boleh berhenti saat kobaran api padam.
"Wilayah yang dulu menjadi tempat kebakaran hutan berulang sekarang berhasil direstorasi. Ada proses pemulihan yang luar biasa terjadi, ada revegetasi menanam tanaman-tanaman endemik yang memang dikenal secara historis kultural oleh masyarakat di sini," jelasnya.
Penggunaan pendekatan sosial-kultural dan tanaman endemik menjadi salah satu kunci penting yang membedakan proyek pemulihan di Tanjung Leban dengan intervensi seremonial pada umumnya.
Dengan melibatkan kearifan lokal dalam memilih jenis vegetasi yang secara historis adaptif terhadap lahan basah, kawasan ini mampu mengembalikan fungsi hidrologis gambut secara bertahap.
Hal inilah yang menurut Menhut, perlu didokumentasikan dan diuji secara akademis agar dapat direplikasi ke daerah lain di Indonesia yang memiliki karakteristik lahan serupa, seperti di Kalimantan atau Papua.
"Saya kira tidak kurang dan tidak lebih saya ingin mengatakan bahwa ini betul-betul menjadi laboratorium kehidupan dimana tidak hanya orang Riau yang bisa datang ke sini dan belajar bagaimana sebuah proses restorasi yang terintegrasi terjadi," tegas Raja Juli.
Ia bahkan optimistis, keberhasilan Tanjung Leban dapat memikat perhatian komunitas peneliti lingkungan tingkat global yang membutuhkan model studi kasus pemulihan lahan gambut tropis secara real-time.
"Namun ini juga akan menjadi tempat atau *living laboratory* bagi seluruh provinsi-provinsi di Indonesia bahkan akan menjadi percontohan, menjadi pusat belajar, menjadi sekolah lapangan bagi peneliti-peneliti kelas dunia lainnya," pungkasnya. (*)
Tags : Menhut RI, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, Restorasi Gambut Dunia, Bengkalis Jadi Restorasi Gambut Dunia, Bengkalis Jadi Contoh Laboratorium Hidup,