NUSANTARA - Program 'gentengisasi' yang dicetuskan Presiden Prabowo Subianto mendapat tantangan dari aspek teknis kebencanaan hingga keberlanjutan.
Sejumlah pengamat juga menilai bentuk rumah-rumah di Indonesia punya karakter beragam dan tidak bisa diseragamkan. Jadi siapa diuntungkan dalam program ini?
Pada Januari lalu, ketika menilik hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang, Presiden Prabowo Subianto sempat menyoroti atap bangunan itu yang terbuat dari seng dan membuat hawa di dalam hunian menjadi panas.
"Ini kan seng panas, coba dipikirkan kalau bisa kita kasih solusi," kata Presiden Prabowo dalam rapat bersama sejumlah menteri, masih di Aceh Tamiang.
Berselang sebulan, wacana tentang penggantian atap rumah yang terbuat dari seng itu muncul lagi. Namun, kali ini dalam sebuah gagasan membuat program nasional 'gentengisasi'.
"Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genting [atap] dari seng," kata Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dalam acara Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (02/02).
Genting tanah liat, cocok digunakan di wilayah Indonesia yang beriklim tropis, kata Ir Marganda Simamora SH MS.i, Ketua Yayasan Sahabat Alam Rimba (SALAMBA).
"Sifatnya [genting] meredam panas," kata Ketua DPN Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST) ini lagi.
"Mungkin saja bisa pakai genteng baja ringan yang ketersediaannya lebih terjamin dan mudah diperoleh. Perpaduannya dengan memakai kuda-kuda yang bukan lagi kayu. Sehingga kedepannya penggunaan bahan kayu akan semakin sedikit."
"Dari sisi lingkungan akan lebih baik penggunaan berbahan baja ringan, mengingat penggunaan bahan kayu dari hutan semakin menipis," ujarnya.
Namun, dalam aspek teknis khususnya bencana seperti gempa bumi, lain cerita.
Genting yang berupa lembaran, mudah terpisah jika terjadi gempa bumi.
"Mudah terpisah-pisah dan massanya berat, maka beban yang ditanggung oleh struktur atap maupun bangunannya juga semakin besar," kata Ganda Mora nama sapaan sehari-harinya ini.
Gempa bumi dengan magnitudo 6.4 di Bantul dan Pacitan pada Jumat (06/02) pukul 01.06 WIB dalam catatan BNPB menyebabkan empat rumah terdampak. Salah satu dampaknya, kerusakan atap genting tanah liat.
"Bukannya tidak boleh memasang genting tanah liat, tetap memungkinkan, tetapi harus dipertimbangkan kesesuaian struktur atap dan bangunan," jelas Ganda.
Dia menambahkan, atap berupa lembaran seperti seng tidak terlalu sensitif terhadap gempa karena massanya ringan.
"Sehingga, dalam aspek gempa, atap yang ringan tidak berupa potongan-potongan seperti genting, akan mengurangi risiko dampak gempa," tambahnya.
Jika 'gentengisasi' diimplementasikan secara nasional, Ganda menilai, ada risiko lain yang perlu diwaspadai, memasang genting yang berat, tetapi strukturnya tidak disiapkan untuk menerima beban berat itu. Jadi bisa dipakai genteng yang berbahan baja ringan.
Terlihat baja ringan dalam struktur atap, yang menurut Ganda juga memiliki resiko, tapi tidak seberat penggunaan genteng tanah liat untuk atap bangunan.
Baja ringan atau baja canai dingin merupakan bahan bangunan yang sedang populer karena harganya yang relatif terjangkau.
"Pengerjaannya cukup cepat, tetapi jadi rawan jika konstruksinya tidak baik, kemudian menerima beban genting yang berat," jelas Ganda.
Dalam sejumlah kasus atap roboh, menurut Ganda, penyebabnya adalah penggunaan baja ringan sebagai konstruksi atap.
Jadi, 'gentengisasi' tidak hanya tentang gentingnya saja. Bukan pula estetika semata.
"Kalau mengatasi masalah estetika akibat seng karatan, seolah daerah itu menjadi kumuh, kemudian langsung melompat serta-merta menggantinya dengan genting, itu kan sepenuhnya tidak nyambung," ujarnya.
Ganda merekomendasikan untuk menggunakan material lain yang tersedia. Dia mencontohkan atap uPVC (un-Plasticized Polyvinyl Chloride) dan bitumen atau atap ringan yang terbuat dari campuran selulosa dan aspal.
Kedua material itu bisa meredam panas matahari, seperti yang dikeluhkan oleh Presiden Prabowo, terutama tetap terlihat 'estetik'.
Sebagai catatan, setiap bahan atap memiliki risiko masing-masing, jika dikaitkan dengan beragam jenis bencana di Indonesia.
Selain aspek teknis, aspek budaya pun harus dipertimbangkan dalam 'gentengisasi', katanya.
Sebenarnya unsur budaya sudah disadari oleh presiden pada 1 Januari 2026 lalu.
Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan solusi mengatasi atap seng yang panas di huntara, Aceh Tamiang. "Mungkin kita bisa pakai bahan-bahan lokal," ujarnya.
Bahan lokal seperti memang digunakan untuk bahan atap sejumlah bangunan yang bentuknya beragam di Indonesia.
Beberapa rumah tradisional, seperti Rumah Gadang di Sumatera Barat, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat di Nias dan Papua, memiliki karakteristik tersendiri dalam bentuk atapnya.
Secara historis, bentuk tersebut memungkinkan penggunaan material seperti ijuk atau sirap yang lentur dan mudah dibentuk.
Ganda mencontohkan Rumah Gadang. Dahulu rumah-rumah gadang beratap bahan lokal, hingga pada akhirnya kini banyak menggunakan seng.
"Bahan itu mudah meliuk mengikuti lekukan atap bangunan rumah gadang, terlebih atap seng lebih mudah perawatannya" kata dia.
Nilai kearifan lokal penggunaan bahan atap juga tak bisa dilupakan.
Jika menggunakan genteng yang berat dan kaku, menurutnya, akan menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi menghilangkan karakter asli bangunan.
Selain aspek teknis dan budaya, satu aspek lagi yang harus dipertimbangkan adalah aspek keberlanjutan.
Gandamengatakan, dalam ilmu material bangunan, pemilihan material seharusnya mempertimbangkan energi yang dibutuhkan sejak proses produksi hingga penggunaannya.
Tetapi lain lagi disebutkan Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah, menilai, 'gentengisasi' jelas menguntungkan produsen-produsen genting di Pulau Jawa.
"Ketika produksinya meningkat, tentu akan menyerap tenaga kerja yang banyak," tambahnya.
Jika program ini berlaku secara nasional, akan tumbuh produsen-produsen baru yang bisa menciptakan industri, dan pada akhirnya korporasi yang diuntungkan.
"Yang punya kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan 'gentengisasi' itu korporasi, setidaknya yang memiliki modal."
Termasuk untuk mendatangkan genting tanah liat dari sentra produksi seperti di Pulau Jawa menuju wilayah lain di Indonesia yang tidak memiliki tempat produksi genting.
Trubus memandang, 'gentengisasi' yang mengedepankan konteks estetika dan kerapihan yang diucapkan Presiden Prawowo itu erat kaitannya dengan pariwisata.
Dalam pidato presiden pada 2 Februari lalu, 'gentengisasi' merupakan bagian dari agenda penataan lingkungan yang lebih luas, termasuk pengelolaan sampah, penertiban papan reklame dan baliho, serta penataan kabel-kabel di kawasan perkotaan.
Genting tanah lempung yang seragam dapat menciptakan lanskap yang esteteik di suatu tempat, berpotensi mendatangkan turis.
"Jika begitu, pihak yang diuntungkan adalah pelaku industri pariwisata," imbuh Trubus.
Lebih jauh, jika program ini berlaku secara nasional, akan tumbuh produsen-produsen baru yang bisa menciptakan industri, dan pada akhirnya korporasi yang diuntungkan.
"Yang punya kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan 'gentengisasi' itu korporasi, setidaknya yang memiliki modal."
Termasuk untuk mendatangkan genting tanah liat dari sentra produksi seperti di Pulau Jawa menuju wilayah lain di Indonesia yang tidak memiliki tempat produksi genting.
Trubus memandang, 'gentengisasi' yang mengedepankan konteks estetika dan kerapihan yang diucapkan Presiden Prawowo itu erat kaitannya dengan pariwisata.
Dalam pidato presiden pada 2 Februari lalu, 'gentengisasi' merupakan bagian dari agenda penataan lingkungan yang lebih luas, termasuk pengelolaan sampah, penertiban papa reklame dan baliho, serta penataan kabel-kabel di kawasan perkotaan.
Genting tanah lempung yang seragam dapat menciptakan lanskap yang estetik di suatu tempat, berpotensi mendatangkan turis.
"Jika begitu, pihak yang diuntungkan adalah pelaku industri pariwisata," imbuh Trubus.
Sejauh ini, pemerintah masih merumuskan skema pendanaan program 'gentengisasi bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait, menurut Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, 'gentengisasi' tidak membutuhkan anggaran besar dan menyasar rumah yang menggunakan atap seng.
Artinya, tidak semua rumah termasuk dalam sasaran program.
Menurut data Badan Pusat Statistik, sekitar 31,48% atau sekitar 22.232.058 rumah di Indonesia masih beratap seng.
Anggarannya, menurut Purbaya tidak lebih dari Rp1 triliun yang bersumber dari ruang cadangan fiskal dari tempat lain.
"Ada kemungkinan dari situ [MBG], ada kemungkinan dari tempat lain," kata Purbaya.
Namun, tidak menutup kemungkinan skema pendanaan selain dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), bisa melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Termasuk membuka opsi mendanaan pihak swasta.
"Mungkin perorangan-perorangan atau pihak-pihak swasta, jadi tidak sepenuhnya bergantung pada APBN maupun APBD," ujar Prasetyo.
Pemerintah juga sedang menyiapkan aspek teknis pelaksanaan program, termasuk pengembangan teknologi produksi genting dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan di lapangan.
Meski bentuk program 'gentengisasi' masih samar, Ganda Mora kembali menilai agar 'gentengisasi' tidak besifat massal terlebih dahulu.
Jika tujuannya pariwisata, maka fokus akan ada di destinasi pariwisata.
"Jadi bisa dipetakan dahulu kawasan pariwisata yang menjadi prioritas, dengan target tertentu," tambah Ganda.
Terpenting menurutnya program itu harus melahirkan kriteria teknis dan non-teknis yang terukur, "sehingga tidak berpotensi menjadi bancakan untuk korupsi baru," tutupnya. (*)
Tags : program gentengisasi, indonesia, karakter beragam, rumah warga akan dirubah atap genteng, program seragam atap rumah,