MENJELANG akhir Ramadan 1447 Hijriah, berbagai lembaga astronomi dan falak di Indonesia mulai merilis data terbaru terkait posisi hilal sebagai penentu awal bulan Syawal.
Berdasarkan hasil perhitungan astronomis Observatorium Bosscha, posisi bulan pada saat matahari terbenam di wilayah Indonesia berada sangat dekat dengan matahari di langit barat. Kondisi ini membuat visibilitas hilal menjadi cukup menantang.
Untuk mendokumentasikan kondisi visibilitas hilal secara lebih akurat, astronom Observatorium Bosscha akan melakukan pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan di dua lokasi berbeda.
Lokasi pertama adalah Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, dan lokasi kedua berada di Observatorium Lhok Nga, Aceh.
Pemilihan Aceh sebagai lokasi pengamatan bukan tanpa alasan. Parameter posisi bulan di wilayah tersebut berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan.
Karena itu, pengamatan langsung di wilayah tersebut dianggap penting untuk memverifikasi batas kriteria tersebut.
Ketinggian hilal terbesar tercatat di Kota Sabang, Aceh, dengan tinggi mencapai 2 derajat 53 menit dan elongasi sekitar 6 derajat 9 menit. Lama hilal berada di atas ufuk di wilayah ini mencapai sekitar 14 menit 44 detik. (*)
Tags : hilal, Posisi hilal, Lebaran 2026, idulfitri,