Linkungan   2026/03/03 15:27 WIB

Pemprov Riau Libatkan Kemenko Polkam untuk Atasi Karhutla yang Sudah Terdeteksi 102 Hotspot di Sumatera

Pemprov Riau Libatkan Kemenko Polkam untuk Atasi Karhutla yang Sudah Terdeteksi 102 Hotspot di Sumatera

PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau menyiapkan Apel Kesiapsiagaan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berskala besar pada Maret 2026.

Kegiatan ini akan dilaksanakan bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sebagai langkah penguatan mitigasi bencana asap di tingkat nasional.

Rencana tersebut dimatangkan dalam rapat koordinasi persiapan Safari Ramadan Menko Polkam dan Apel Kesiapsiagaan Karhutla Riau yang digelar secara virtual, Kamis (26/2/2026), dari Kantor Gubernur Riau.

Rapat membahas sejumlah aspek teknis, mulai dari lokasi kegiatan hingga sinkronisasi personel gabungan di lapangan.

Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago menyampaikan bahwa pemilihan Riau sebagai pusat kegiatan didasarkan pada pertimbangan geografis dan strategis.

Provinsi ini dinilai sebagai wilayah prioritas karena memiliki bentang lahan gambut luas yang rentan terbakar saat musim kemarau.

Ia menegaskan, penguatan kesiapsiagaan di Riau penting untuk menjaga stabilitas wilayah, mengingat potensi asap lintas batas negara serta dampaknya terhadap sektor ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat Karhutla yang berlaku sejak 13 Februari hingga 30 November 2026.

Penetapan ini dimaksudkan sebagai langkah antisipatif menghadapi kondisi cuaca ekstrem sekaligus mempermudah mobilisasi anggaran dan peralatan guna menekan kemunculan titik panas di wilayah rawan.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyatakan pemerintah daerah siap mendukung pelaksanaan apel kesiapsiagaan tersebut.

Ia memastikan seluruh perangkat daerah, termasuk BPBD dan instansi teknis, akan bersinergi menyukseskan kegiatan yang direncanakan dipusatkan di Lanud Roesmin Nurjadin.

Menurutnya, pengalaman penyelenggaraan kegiatan serupa pada tahun sebelumnya menjadi modal penting bagi Riau dalam memastikan kesiapan teknis dan koordinasi lapangan guna mencegah bencana asap.

Sementara pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pekanbaru melaporkan adanya puluhan titik panas yang terpantau di wilayah Sumatera hingga sore hari.

Data ini menjadi perhatian serius mengingat potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat meningkat jika tidak segera dikendalikan.

 

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya Gautami, menyampaikan total terdapat 42 titik panas yang tersebar di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera.

Provinsi Sumatera Barat tercatat sebagai wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 12 titik, disusul Riau dengan 9 titik dan Jambi 8 titik.

Rincian sebaran titik panas di Sumatera antara lain Aceh 1 titik, Jambi 8 titik, Sumatera Barat 12 titik, Sumatera Utara 5 titik, Kepulauan Riau 2 titik, Bangka Belitung 5 titik, serta Riau 9 titik.

Khusus di Riau, sebaran hotspot terpantau di beberapa kabupaten. Kabupaten Rokan Hilir mencatat jumlah terbanyak dengan 4 titik, disusul Kuantan Singingi 3 titik, serta masing-masing 1 titik di Pelalawan dan Indragiri Hulu.

Sementara itu, berdasarkan pembaruan jarak pandang pukul 16.00 WIB, kondisi visibilitas di sejumlah wilayah Riau masih relatif aman.

Di Pekanbaru, Rengat, dan Pelalawan, jarak pandang tercatat 8 kilometer, sedangkan di Tambang mencapai 9 kilometer.

BMKG mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang terdeteksi memiliki titik panas, guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui BMKG juga mencatat lonjakan titik panas di Pulau Sumatera.

Hingga Selasa (3/3/2026), total terpantau 102 hotspot yang tersebar di sembilan provinsi.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyampaikan bahwa data tersebut dihimpun berdasarkan pemantauan satelit terkini.

“Total titik panas wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 102 titik,” ujarnya.

Dari keseluruhan data, Sumatera Barat menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 36 titik. Disusul Sumatera Selatan sebanyak 16 titik dan Jambi 14 titik.

Selain itu, di Aceh 1 titik, Sumatera Utara 10 titik, Kepulauan Riau 3 titik, Bengkulu 3 titik, Sumatera Selatan 16 titik, Bangka Belitung 7 titik dan Riau 12 titik.

Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat awal Maret merupakan periode rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera.

Khusus Provinsi Riau, terdeteksi 12 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten. Kabupaten Rokan Hilir menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak.

Rincian 12 hotspot di Riau tersebar di Kabupaten Bengkalis 1 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 3 titik, Kabupaten Pelalawan 1 titik, Kabupaten Rokan Hilir 5 titik, Kabupaten Rokan Hulu 1 titik dan Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik.

“Sebaran terbanyak di Rokan Hilir,” jelas Ranti.

Kemunculan titik panas tidak selalu mengindikasikan kebakaran, namun menjadi indikator awal potensi karhutla.

BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan riwayat kebakaran berulang.

Pemantauan intensif dan respons cepat di lapangan dinilai krusial guna mencegah meluasnya kebakaran yang dapat berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat. (*)

Tags : kebakaran hutan dan lahan, karhutla, pemprov riau atasi karhutla, karhutla di sumatera, 102 hotspot terdeteksi di sumatera ,