Sosial   2026/01/15 15:25 WIB

Perdebatan Penentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri Selalu Kerap Berulang

Perdebatan Penentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri Selalu Kerap Berulang

SOSIAL - Perdebatan penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri yang kerap berulang di berbagai komunitas Muslim, termasuk di negara-negara Barat, mendorong lahirnya sebuah inisiatif pendidikan yang memadukan sains modern dan tradisi Islam.

Di Inggris Raya, Akademi Moonsighters hadir sebagai kursus perintis yang mengajarkan ilmu astronomi sekaligus praktik rukyatul hilal kepada para pemimpin komunitas Muslim.

Program yang didukung Universitas Leeds, Universitas Cambridge, serta organisasi pengamatan bulan New Crescent Society ini melibatkan 38 peserta dari berbagai latar belakang dan daerah di Inggris, sebagaimana dilaporkan BBC. 

Para peserta terdiri atas imam, guru, seniman, hingga pelaku usaha, yang selama sembilan bulan dibekali pengetahuan tentang fase bulan dan keterampilan praktis mengamati hilal secara langsung.

Penentuan kalender Islam memang bertumpu pada siklus bulan, dengan awal bulan ditandai oleh terlihatnya bulan sabit pertama.

Selama berabad-abad, praktik rukyat menjadi fondasi penentuan Ramadhan dan Idul Fitri. 

Namun, di Inggris, keterbatasan cuaca dan kondisi geografis membuat banyak masjid selama ini bergantung pada laporan penampakan hilal dari negara lain, seperti Arab Saudi atau Maroko.

Koordinator proyek sekaligus Direktur New Crescent Society, Imad Ahmed mengatakan, ketergantungan tersebut berakar dari tantangan yang dihadapi generasi awal Muslim di Inggris.

"Ketika umat Islam pertama kali datang ke Inggris, mereka menghadapi masalah yang dihadapi banyak orang dalam astronomi Inggris-cuaca berawan,” ujarnya dikutip dari laman aboutislam, Kamis (15/1/2026).  

“Mereka memutuskan untuk mengikuti pergerakan bulan di negara lain," ucapnya. 

Seiring waktu, kondisi ini justru melahirkan perbedaan sikap antarmasjid. Masing-masing komunitas memilih rujukan negara yang berbeda, sehingga memunculkan apa yang kerap disebut sebagai “perang bulan”.

Dampaknya bukan sekadar perbedaan tanggal, tetapi juga luka sosial di tengah umat.

“Saat tumbuh dewasa, sesuatu yang saya dan semua Muslim di Inggris hadapi adalah setiap Ramadan atau Idul Fitri, kami sepertinya tidak tahu kapan seharusnya kami merayakannya, dan ini telah menyebabkan banyak luka di dalam komunitas,” kata Ahmed.

Melalui Akademi Moonsighters, peserta dilatih menggunakan fasilitas observatorium di atap Universitas Leeds, termasuk teleskop berdiameter 35 sentimeter.

Kursus ini menggabungkan kajian fiqih rukyat dengan astronomi modern, sekaligus menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang kuat dalam bidang sains.

"Yang kami coba lakukan di sini adalah melatih orang-orang dalam bidang astronomi, bukan hanya karena ini adalah masalah kontemporer, tetapi karena umat Muslim memiliki sejarah yang sangat kuat dalam bidang astronomi,” jelasnya.

Ia berharap pendekatan ilmiah ini dapat menggeser konflik menuju kolaborasi dan persatuan umat dalam menyambut bulan-bulan penting Islam.

"Mencari penampakan hilal adalah olahraga nasional dan kita semua perlu bekerja sama. Saya ingin beralih dari perebutan penampakan hilal menjadi pencarian penampakan hilal dan persatuan dalam menghadapi bulan," katanya. 

Salah satu peserta, Aliyah Khan, seorang guru sains, mengaku mengikuti program ini karena pengalaman personal di komunitasnya. 

“Di tempat saya dibesarkan, kami memiliki dua masjid besar dan keduanya tidak sepakat mengenai tanggal yang sama untuk Ramadan atau Idul Fitri,” ujarnya. 

“Hal itu cukup mengisolasi dan memecah belah komunitas," ucapnya. 

Aliyah menilai penguasaan sains justru dapat memperkuat praktik keagamaan. “Kita bisa melihat bulan dari Inggris, kita tidak perlu seseorang di negara lain untuk melihatnya bagi kita. Ini adalah cara untuk menjembatani pengetahuan ilmiah dan praktik Islam,” jelasnya. (*) 

Tags : ramadhan, ramadhan 2026, awal ramadhan, idul fitri, islam,