
PEKANBARU - Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Riau dijadwalkan akan digelar pada pertengahan April 2025, setelah perayaan Idul Fitri.
Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Riau, Ikhsan, menegaskan persiapan Musda telah memasuki tahap akhir.
"Pertengahan April rencananya (Musda) kami juga sounding kan dengan provinsi lain, agar tidak berbenturan pelaksanaan Musda-nya karena ketua umum akan hadir," ujar Ikhsan, Rabu (26/3/2025).
"Kami sudah persiapan tinggal kepastian ketua umum. SC dan OC sudah diplenokan, Yasmin ketua OC dan SC Parisman Ihwan dan saya," jelasnya.
Tetapi Lembaga Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST) menilai SF Hariyanto Wakil Gubernur Riau terpilih yang masuk dalam bursa calon Ketua Golkar Riau lebih pantas memimpin partai berlambang pohon beringin itu kedepan.
"Setelah sukses di Pilgub 2024, SF Hariyanto juga mendapat persetujuan DPP jadi pimpinan Golkar Riau."
"Informasi dari DPP sudah oke ke SF Hariyanto jadi ketua Golkar Riau," ujar seorang kader Golkar yang meminta namanya dirahasiakan.
Menurut informasi dari internal kader partai Golkar, SF Hariyanto hadir dalam acara rapat harian DPP Golkar yang dihadiri juga langsung ketua Umum Bahlil Lahadalia juga didampingi Ahmad Doli Kurnia.
"SF Hariyanto mampu memimpin Partai Golkar. Saya kira elite politik jangan menganggap enteng SF Hariyanto. Elite politik jangan mengulangi kesalahan, di mana banyak yang meragukan kemampuan beliau," kata Ketua Umum (Ketum) Lembaga Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST) Ir Ganda Mora SH MS.i menilai, Sabtu (29/1).
Dia mengatakan hal itu untuk menanggapi keraguan para pengamat dan elite politik terhadap kemampuan SF Hariyanto dalam bursa calon ketua DPD Golkar Riau partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Dalam berdebat misalnya, jadi saya kira harus belajar dari pengalaman itu, agar jangan terlalu prasangka terhadap kemampuan SF Hariyanto,” kata Ganda.
Bahkan diusungnya SF Hariyanto sudah ada pembicaraan membahas Musyawarah Daerah (Musda) partai Golkar yang kabarnya mulai disetujui DPP untuk memimpin Golkar Riau menggantikan Syamsuar.
Tetapi Ikhsan menjelaskan, kepanitiaan Musda telah dibentuk, termasuk Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC).
Hingga saat ini, dua nama yang mencuat sebagai kandidat adalah Parisman Ihwan dan SF Hariyanto. Namun, Ikhsan menegaskan bahwa Golkar Riau membuka peluang bagi kader lain yang ingin maju.
"Dua nama (Parisman dan SF Hariyanto) dan silahkan saja bagi kita siapapun yang maju, yang tujuannya adalah ingin membesarkan partai," kata Ikhsan.
Menjelang Musda, dukungan di kalangan pengurus dan kader Golkar Riau terbelah. Sebagian mendukung SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau, sementara sebagian lainnya mendukung Parisman Ihwan.
Keputusan akhir akan ditentukan oleh suara dari DPD II Golkar Kabupaten/Kota, organisasi massa (ormas) pendiri dan didirikan, dewan pertimbangan, DPD I, dan DPP.
Sementara Ketua Generasi Muda Golkar Riau, Novri Andri Yulan menyooroti soal netralitas DPD I, SC, dan OC didalam Musda Golkar yang akan diselenggarakan ini.
Ia menekankan pentingnya netralitas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I, Steering Committee (SC), dan Organizing Committee (OC) dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Riau 2025.
Ia menegaskan bahwa Musda mendatang harus menjadi momentum perubahan bagi partai.
Menurut Novri, Golkar sebagai partai yang inklusif, mandiri, demokratis, dan responsif, perlu kembali merangkul masyarakat setelah mengalami keterpurukan pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
Ia menilai kepemimpinan Golkar Riau saat ini terlalu konservatif dan tertutup, yang berakibat pada hasil terburuk sepanjang sejarah partai di Riau.
Yulan mengungkapkan bahwa pengelolaan partai selama ini tidak memiliki kejelasan deskripsi pekerjaan antar pengurus. Ketua partai dinilai tidak pernah turun menyapa kader atau melakukan konsolidasi, yang justru memicu perpecahan.
"Akibatnya, tidak ada internalisasi nilai perjuangan Golkar dan doktrin karya kekaryaan di tubuh partai. Lemahnya kaderisasi dan program partai membuat Golkar Riau kehilangan arah dan dukungan dari masyarakat," ujar Yulan.
Menyoroti Musda Golkar Riau 2025, Novri melihat adanya indikasi ketidaknetralan dari DPD I, SC, dan OC. "Tahapan dan jadwal Musda belum ditetapkan, tetapi sudah ada kecenderungan mendukung calon tertentu," katanya.
Menurutnya, sebagai bagian dari struktur partai, DPD I, SC, dan OC seharusnya bersikap netral serta menjunjung tinggi nilai, etika, dan moral dalam proses pemilihan ketua.
Sebagai partai yang demokratis dan terbuka, Golkar seharusnya memberikan ruang bagi siapa pun yang ingin maju sebagai Ketua DPD I Golkar Riau. Novri menyebut nama Wakil Gubernur Riau, SF Harianto, sebagai salah satu kandidat kuat yang mendapat sambutan positif dari kader partai.
Ia memastikan bahwa SF Harianto telah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) Golkar yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
Menurut Yulan, status SF Hariyanto yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Daerah dan Penjabat Gubernur Riau tidak menjadi penghalang. Ia mengingatkan bahwa dalam tradisi Golkar, terdapat konsep "tiga jalur ABG" (ABRI, Birokrasi, dan Golkar) yang memungkinkan birokrat seperti SF Harianto untuk memimpin partai. "Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menghambat pencalonannya di Musda mendatang," tegas Yulan.
Lebih lanjut, Yulan menekankan bahwa paradigma baru Golkar harus mandiri dan tidak hanya menjadi pengikut. Golkar Riau ke depan membutuhkan ketua yang kuat, bukan sekadar figur yang dapat dikendalikan oleh pihak lain. "Ketua yang terpilih harus memiliki visi yang jelas untuk membangkitkan kembali Golkar Riau dan mengembalikan kejayaan partai di daerah ini," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa partai lain tentu menginginkan Golkar Riau dipimpin oleh sosok yang lemah agar mudah diatur. Oleh karena itu, Golkar Riau harus memilih ketua yang berintegritas, memiliki strategi yang jelas, dan mampu membawa semangat baru bagi kader. Kepemimpinan yang lemah hanya akan semakin menenggelamkan partai dalam keterpurukan.
Musda Golkar Riau 2025 seharusnya menjadi ajang demokrasi yang sehat, bukan sekadar forum untuk mempertahankan kepentingan segelintir orang. Yulan berharap seluruh kader dapat bersatu dan memastikan bahwa Musda ini benar-benar menghasilkan pemimpin yang mampu membawa Golkar Riau keluar dari krisis dan kembali berjaya di kancah politik daerah.
Kembali disebutkan Ganda Mora yang menilai SF Hariyanto mampu memimpin Partai Golkar.
“Saya kira elite politik jangan menganggap enteng SF Hariyanto. Elite politik jangan mengulangi kesalahan, di mana banyak yang meragukan kemampuan beliau," kata Ganda Mora dalam pembicaraannya.
Dia mengatakan hal itu untuk menanggapi keraguan para pengamat dan elite politik terhadap kemampuan SF Hariyanto dalam bursa calon ketua DPD Golkar Riau partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Dalam berdebat misalnya, jadi saya kira harus belajar dari pengalaman itu, agar jangan terlalu prasangka terhadap kemampuan SF Hariyanto,” kata Ganda.
Bahkan diusungnya SF Hariyanto sudah ada pembicaraan membahas Musyawarah Daerah (Musda) partai Golkar yang kabarnya mulai disetujui DPP untuk memimpin Golkar Riau menggantikan Syamsuar.
Rapat pengurus harian DPP Golkar yang dipimpin Bahlil Lahadalia itu digelar Rabu (8/1/2024).
Tidak hanya itu, selain nama SF Hariyanto, saat ini nama lain yang masih berjuang merebutkan partai Golkar adalah Parisman Ihwan dan Suparman.
Dinamika politik di Golkar jelang pelaksanaan Musda semakin panas, apalagi sudah bergerak para senior Golkar untuk melakukan lobi dan konsolidasi ke DPP untuk Musda.
Isu SF Hariyanto ikut dalam bursa calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Riau sudah mencuat sejak menang Pilkada beberapa waktu lalu.
Ditambah lagi sejumlah suara di Partai Golkar ada yang menginginkan agar SF Hariyanto bisa didorong menjadi Ketua Golkar, karena tradisi Golkar sendiri selalu menjadi bagian dari pemerintahan yang berkuasa.
Namun isu kemunculan nama SF Hariyanto tersebut mendapatkan penolakan dari sejumlah pengurus di DPD Golkar Riau.
Tetapi Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu Bappilu Golkar Riau Ikhsan dengan tegas mengatakan yang bisa maju sebagai calon Ketua Golkar Riau di Musda nanti adalah kader dan pengurus yang memenuhi persyaratan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan Peraturan Organisasi (PO) Partai Golkar.
"Silahkan kader dan pengurus yang memiliki keinginan untuk memajukan Golkar ikut di Musda yang niatnya memajukan Partai Golkar," ujar Ikhsan beberapa waktu lalu.
Adanya nama sejumlah orang dari luar partai disebut akan maju dan bertarung di Musda Golkar Riau, menurut Ikhsan akan berbenturan dengan AD/ART dan PO Partai Golkar.
"KTA (kartu tanda anggota) nya mana, syarat untuk maju jadi Ketua Golkar harus pernah menjadi pengurus di DPD II Golkar dan pernah pengurus di DPD I," ujar Ikhsan.
Seperti ketua umum Golkar saat ini Bahlil Lahadalia, menurut Ikhsan pernah menjabat sebagai ketua DPD I Golkar sebelum menjadi ketua umum Golkar.
Maka menurutnya pertarungan Ketua Golkar Riau di Musda Golkar Riau adalah hanya untuk kader dan pengurus.
Sedangkan di luar pengurus dan kader tidak bisa, karena sudah jelas aturannya akan terganjal.
Berbeda dengan Syamsuar yang sebelumnya menurut Ikhsan sempat maju di Pilkada Gubernur (Pilgub Riau) menggunakan perahu partai lain, namun kembali merebut posisi Ketua Golkar, karena Syamsuar masih memiliki KTA Golkar dan pernah menjadi ketua DPD II Golkar Siak sebelumnya.
Kabar yang mencuat juga terdengar, SF Hariyanto bertemu bahlil di DPP.
Isu Wakil Gubernur Riau terpilih SF Hariyanto yang disebut-sebut mengincar jabatan Ketua DPD I Golkar Riau tampaknya bukan isapan jempol belaka.
Informasinya, SF Hariyanto menyambangi kantor DPP Golkar dan sempat bersalaman langsung dengan ketua umum Golkar, Bahlil Lahadalia, Rabu 8 Januari 2025 malam.
Hal ini terlihat di akun instagram resmi ketua umum Golkar @bahlillahadalia ketika memimpin rapat pengurus harian DPP Golkar.
Dalam cuplikan video tersebut, SF Hariyanto tampak menunggu kedatangan Bahlil di lobi kantor DPP dengan mengenakan baju kemeja polos bewarna putih.
SF juga sempat menyalami Bahli? yang hendak masuk ke ruang rapat. Terlihat beberapa pengurus DPP seperti Sekjend Sarmuji hingga Ahmad Dolly Kurnia Tanjung, dan Bambang Soesastio.
Meski tak terdengar percakapan singkat tersebut, namun seperti memperkenalkan SF sebagai Wakil Gubernur Riau terpilih.
Sampai saat ini belum ada penjelasan langsung dari SF Hariyanto terkait dirinya yang menjumpai Bahlil tersebut.
Namun belakangan kembali beredar informasi bahwa SF terus melakukan manuver untuk mendapatkan restu DPP untuk bisa mengambil alih Golkar.
Diketahui nama SF memang disebut-sebut sebagai calon potensial selain kader internal lainnya.
Kembali disebutkan Ganda Mora menilai, SF Hariyanto mampu pimpin Partai Golkar Riau.
Menurut dia, sosok SF Hariyanto memiliki kemampuan di atas yang orang bayangkan, misalnya dalam Pilgub 2024 kemarin. Sehingga dia mengaku yakin jika diberi kesempatan, SF Hariyanto juga akan mampu menjalankan organisasi Partai Golkar.
"Tentu dalam perjalanannya, SF Hariyanto bisa memaksimalkan tim yang solid dan kuat untuk menjalankan roda organisasi."
“Menurut saya, SF Hariyanto tetap bisa dibantu oleh tim dalam mengelola Partai Golkar nanti. Jadi, saya melihat SF Hariyanto ini sangat bisa menjalankan Partai Golkar, apalagi kalau dibantu oleh tim yang kuat, katakanlah misalnya ketua harian. Tapi itu semua sifatnya teknis,” jelasnya.
Ganda juga melihat dari sisi usia. SF Hariyanto, dinilainya sudah kategori usia matang.
Jika berkaca dari pengalaman jabatan yang diemban sangat cukup banyak, pada usia tersebut seseorang sudah mampu mengemban jabatan di Staf Menteri, kata Ganda. (*)
Tags : partai golongan karya, perebutan kursi partai golkar, riau, sf hariyanto layak pimpin partai golkar,