
PEKANBARU - PT Musim Mas, perusahaan sawit punya komitmen tinggi dalam upaya mematuhi regulasi pemerintah berkaitan aspek sosial dan lingkungan.
"Komitmen ini merupakan bagi sebuah pembangunan bisnis untuk bisa berkelanjutan."
"Perusahaan sawit Musim Mas sampai saat ini masih taat lingkungan juga selalu perhatikan aspek sosial," kata Ir Ganda Mora SH M.Si, Ketua Yayasan Lingkungan Hidup Sahabat Alam Rimba (SALAMBA) dalam pembicaraannya, Sabtu (29/3).
Ganda mengingatkan ada dua aspek yang menjadi bagian dari tren global dan tuntutan bisnis saat ini. Misalnya, sebutnya lagi, dalam Proper 2018, tercatat ada 18 perusahaan sawit yang meraih PROPER Kategori Hijau.
"Ini menunjukkan komitmen kuat perusahaan sawit dalam upaya mematuhi Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Regulasi ini mengatur bahwa pelaku usaha merupakan salah satu pemangku kepentingan yang dapat berperan dalam melaksanakan Sustainable Development Goals atau SDGs," sebutnya.
Tetapi prestasi Grup Musim Mas yang meraih 11 penghargaan PROPER Kategori Hijau, kata Ganda, perusahaan yang berdiri sejak 1932 itu menjadi kelompok usaha sawit yang terbanyak meraih PROPER Hijau.
Penghargaan PROPER Hijau pada tahun 2018 sangatlah spesial karena untuk pertama kalinya diterima oleh pabrik kelapa sawit Group Musim Mas.
Sejak tahun 2010, penghargaan PROPER di peringkat biru telah berhasil diraih oleh salah satu anak perusahaan dan kemudian diikuti oleh anak perusahaan lainnya pada tahun-tahun berikutnya.
Menurutnya, Musim Mas menjadi perusahaan yang paling terdepan dalam praktik tata kelola sawit berkelanjutan. Sebagai contoh, Musim Mas menjadi perusahaan sawit pertama penerima sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
"Itu sebabnya, Musim Mas selalu menjadi referensi dalam mengelola perkebunan dan bisnis hilir sawit yang bertanggungjawab dan berkelanjutan," terangnya.
Jadi mulai dari persoalan perijinan, pelepasan kawasan sampai kepada pengelolaan dana pungutan sawit. Seluruh persoalan ini memerlukan solusi yang bersifat terobosan dan bertanggungjawab.
Ganda juga menyinggung soal pabrik kelapa sawit milik perusahaan Musim Mas.
"Pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit perusahaan juga memperhatikan aspek keberlanjutan, terutama dalam kegiatan bisnisnya serta sejumlah aspek lainnya," sebutnya.
SALAMBA sangat mendukung berdirinya pabrik sawit perusahaan di Pelalawan, namun demikian memang harus diperhatikan sejumlah aspek pendukung seperti perizinan dan pembiayaannya.
"Pabrik sawit perusahaan perlu memperhatikan aspek lingkungan dan sustainability, sehingga tidak terjadi persoalan limbah. Ini perlu menjadi perhatian,” ujarnya.
Pembangunan pabrik sawit tetap mempertimbangkan sejumlah aspek dan tantangan.
"Harus memperhatikan keberlanjutan dalam kegiatan bisnisnya. Pengalaman menunjukkan tidak mudah bertahan menjaga keberlanjutan pabrik," kata dia.
Menurutnya, ada dua aspek penting keberlanjutan pabrik yaitu produksi dan pasar.
"Di sinilah studi kelayakan sangat dibutuhkan sebelum pabrik dibangun. Jangan sampai sebatas semangat saja," ujarnya
Ganda menilai, berdirinya pabrik sawit perusahaan bertujuan membantu petani menjual hasil panen karena selama ini, mereka kesulitan memasarkan hasil panen ke pabrik kelapa sawit terdekat karena pabrik yang ada mengutamakan hasil dari kebun inti dan plasma sendiri.
Ganda juga menyinggung soal harga sawit petani yang terus berfluktuasi tinggi, maka kebun dan pabrik berada dalam satu entitas yang harus dilihat juga pilihan teknologi pabrik sawit untuk disesuaikan kondisi kebun. (*)
Tags : musim mas, perusahaan sawit musim mas, taat lingkungan, Musim Mas perhatikan aspek sosial,