Kampar   01-04-2025 9:43 WIB

Petani Kampar dan Perbankan Kuatkan Ketahanan Pangan dengan Optimalkan Lahan

Petani Kampar dan Perbankan Kuatkan Ketahanan Pangan dengan Optimalkan Lahan
Ilustrasi. Petani membajak sawah

KAMPAR – Berawal dari kegelisahan melihat banyak lahan tidur di Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar, membuat Indra Noval menginisiasi terbentuknya Kelompok Tani Jaring Mas Sejahtera (JMS).

Kelompok tani ini kemudian bergerak dalam menfaatkan lahan tidur untuk ditanami padi dan cabai.

“Dulunya petani di desa saya hanya menggarap lahan untuk ditanami padi sekali setahun. Jadi pada pertengahan hingga akhir tahun, lahan seluas puluhan hektare tersebut terbengkalai. Tidak dimanfaatkan sama sekali. Maka itu saya tergerak membentuk kelompok untuk menyewa lahan tersebut. Selain padi, juga ditanami hortikultura seperti cabai, pare, gambas, hingga kacang panjang. Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang,” kata Setiawandari kelompok tani JMS, Rabu (26/3).

Pihaknya menggarap 15 hektare lahan untuk hortikultura seperti cabai, sedangkan sawah yang dipakai untuk menanam padi ada sekitar 35 hektare. Selain kedua komoditi unggulan, kelompok tani ini juga menanam hortikultura seperti kacang panjang dan pare.

Baginya, selama ini masih banyak petani yang berpikiran hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal dari menjadi seorang petani cabai atau padi juga bisa sejahtera, tidak melulu harus punya lahan sawit berhektare-hektare.

"Kalau saya berpikirnya petani itu bisa sejahtera, dengan syarat hasil panen jangan cuma untuk diri sendiri. Tapi berpikirnya hasil panen harus bisa untuk dijual ke luar. Jadi itu mendorong untuk kita berupaya bagaimana produksi meningkat,” katanya.

Apalagi pada akhir 2021, kelompoknya mendapat perhatian dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Riau.

Lahan cabai yang dikelola JMS dikembangkan sebagai klaster ketahanan pangan dan pengendalian inflasi dalam program kerja Bank Sentral.

BI memberikan bantuan berupa alat bantu produksi pertanian seperti traktor roda empat, kultivator ukuran sedang dan kecil, mesin rumput, hingga mesin diesel penghisap air untuk membantu irigasi.

Selain itu JMS juga menerapkan sistem digital farming sebagai terobosan penting bagi petani di Kampar.

Manfaatnya digital farming, membuat bisa melakukan penyiraman dan irigasi pupuk tanaman cabai secara otomatis dari ponsel pintar. Juga bisa melihat dan mengukur kondisi tanah mulai dari unsur hara, kalium, parameter suhu, sampai kepada kelembaban tanah dan ukuran PH tanah hanya dari gadget.

Hasilnya langsung terlihat jelas.

Dari produksi cabai maksimal 800 gram per batang, sejak menerapkan digital farming hasil panen bisa mencapai 2 kilogram per batang atau sekitar 150 persen peningkatannya.

Kini Desa Pulau Birandang selain dikenal sebagai penghasil padi, juga menjadi sentra cabai. Mereka menanam bibi varietas unggul persilangan Kopai dan Indrapura dengan masa tanam hingga panen selama 75 hari.

Tak heran, setiap masa panen tiba biasanya warga sekitar hingga pedagang luar daerah akan langsung datang membeli ke kebun petani yang dikelola Poktan JMS.

Bukan cuma mengurus produksinya saja, Noval bersama anggota Poktan juga membentuk Koperasi Jaring Mas Sejahtera untuk distribusi dan pemasaran. Dari koperasi ini kemudian bekerja sama dengan pemerintah daerah dan swasta seperti BRI.

"Koperasi Jaring Mas Sejahtera sempat selama tiga tahun memasok beras untuk menyalurkan bantuan pangan ke warga penerima manfaat melalui e-warong (warung gotong royong) yang didukung BRI. Selain itu juga banyak anggota kita dibantu akses permodalan KUR (Kredit Usaha Rakyat) KUR mulai Rp25 juta, Rp30 juta, hingga Rp50 juta,” katanya.

Sementara itu hasil panen cabai telah dijual ke pasar-pasar yang ada di Kampar dan Kota Pekanbaru. Ada juga pedagang yang langsung datang ke lokasi kebunnya. Rata-rata produksi cabai sebanyak 14 ton per hektare dalam sekali periode tanam.

Dalam setahun umumnya petani Desa Pulau Birandang bisa dua kali periode tanam.

Noval berterima kasih atas perhatian semua pihak termasuk dari BRI terhadap kelompok tani dan anggota koperasi.

Saat ini ada 75 anggota aktif Koperasi Jaring Mas, sebagian besar sudah merasakan kemudahan dalam pembiayaan dari BRI.

Ia berharap BRI bisa terus membantu petani-petani yang ada di Riau, apalagi saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mengurangi ketergantungan terhadap pasokan beras dan cabai dari provinsi lain.

Guna mendukung terciptanya stabilitas harga pangan di Riau, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Regional CEO BRI RO Pekanbaru, Reza Syahrizal Setiaputra, mengatakan tahun 2025 pihaknya tetap melanjutkan program-program yang sudah berjalan sukses seperti penyaluran KUR dan pinjaman umum lainnya.

"BRI selalu berkomitmen bukan saja sektor UMKM, tetapi juga mendukung petani hortikultura yang ada di Riau. Dengan berbagai program yang disediakan BRI seperti KUR, diharapkan petani bisa sejahtera,” katanya.

Itu sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yakni membangun dari desa dan dari bawah, guna mendorong pemerataan ekonomi, perkuat ketahanan pangan nasional, dan pemberantasan kemiskinan. (rp.ind/*)

Editor: Indra Kurniawan

Tags : Petani Kampar dan Perbankan Kuatkan Ketahanan Pangan dengan Optimalkan Lahan,