Linkungan   2026/04/04 15:56 WIB

Polusi Udara Berkontribusi Terhadap Penyakit Pernapasan dan Kardiovaskular

Polusi Udara Berkontribusi Terhadap Penyakit Pernapasan dan Kardiovaskular

LINGKUNGA - Di Eropa, dalam laporan Badan Lingkungan Eropa atau European Environment Agency (EEA) yang dirilis Jumat pekan lalu, polusi udara saat ini merupakan faktor risiko kesehatan lingkungan yang paling penting di Eropa.

Penyakit ini tetap menjadi penyebab penting buruknya kualitas kesehatan dan berkontribusi khususnya terhadap penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Laporan ini menyajikan informasi pada 2021 mengenai perkiraan dampak buruk terhadap kesehatan manusia yang disebabkan oleh tiga polutan udara utama, yakni partikel halus, nitrogen dioksida, dan ozon.

Penilaian tahun ini juga menyajikan perkiraan dampak kesehatan yang terkait dengan penyakit tertentu yang berkontribusi terhadap polusi udara.

Dampak tersebut dinyatakan dengan menggunakan metrik beban penyakit, yaitu 'morbiditas' (keadaan mengidap suatu penyakit atau kecacatan) dan 'mortalitas' (kematian yang terjadi karena suatu penyakit atau sekelompok penyakit tertentu).

Ada beberapa pesan kunci yang disampaikan EEA dalam laporannya ini. Yang pertama, konsentrasi polutan udara pada 2021 masih jauh di atas tingkat yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pedoman kualitas udaranya.

Mengurangi polusi udara hingga ke tingkat pedoman ini akan mencegah sejumlah besar kematian yang disebabkan oleh hal tersebut di negara-negara anggota UE (EU-27).

Selain itu, mengurangi paparan ozon (O3) dalam jangka pendek akan menghindari 22.000 kematian yang disebabkan oleh hal tersebut.

Kemudian, antara 2005 dan 2021, jumlah kematian di UE yang disebabkan oleh PM 2.5 turun sebesar 41%.

Lalu, untuk penyakit tertentu, kerugian (beban penyakit) terbesar partikulat halus PM2.5 bagi kesehatan manusia adalah penyakit jantung iskemik dan akibat NO2 adalah diabetes melitus.

Selanjutnya, untuk setiap penyakit tertentu yang terkait dengan polusi udara, kontribusi relatif terhadap kesehatan yang buruk (beban penyakit) akibat mortalitas dan morbiditas dapat sangat bervariasi.

Misalnya saja, sejauh ini angka kematian merupakan kontributor utama penyakit jantung iskemik dan kanker paru-paru, sedangkan angka kesakitan adalah penyebab utama asma.

"Hal ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan morbiditas untuk menghindari meremehkan dampak buruk terhadap kesehatan manusia," kata organisasi tersebut, Jumat (24/11).

EEA mengungkapkan, pada 2021 di UE-27, 253.000 kematian disebabkan oleh paparan konsentrasi PM 2.5 di atas tingkat pedoman WHO yaitu 5 µg/m3 (mikrogram per meter kubik udara), 52.000 kematian disebabkan oleh paparan konsentrasi NO2 di atas tingkat pedoman WHO yaitu 10 µg/m3, dan 22.000 kematian disebabkan oleh paparan jangka pendek terhadap konsentrasi O3 di atas 70 µg/m3.

Selain negara-negara anggota UE-27, sejumlah besar negara EEA juga dinilai 40 untuk PM 2.5 dan 41 untuk NO2 dan O3.

Secara ringkas disimpulkan, 293.000 kematian disebabkan oleh paparan konsentrasi PM 2.5 di atas tingkat pedoman WHO yaitu 5 µg/m3, 69.000 kematian disebabkan oleh paparan konsentrasi NO2 di atas tingkat pedoman WHO yaitu 10 µg/m3, dan 27.000 kematian disebabkan oleh paparan jangka pendek terhadap konsentrasi O3 di atas 70 µg/ m3.

"Kedua kelompok negara tersebut mengalami sedikit peningkatan angka kematian akibat PM 2.5 dan NO2 serta penurunan angka kematian akibat O3 pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020," ujar EEA.

Sementara itu di Jakarta, mobil dan motor listrik mulai banyak terlihat di Jakarta. Menurut catatan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya, pemilik kendaraan listrik ini terus bertambah.

Berdasarkan catatan dari dashboard Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di seluruh Jakarta, hingga Oktober 2023 sebanyak 1.401 pemilik kendaraan listrik sudah memiliki home charging.

Sebagian warga Jakarta itu membeli kendaraan listrik karena ingin mengurangi produksi emisi pribadinya, tapi mungkin pula sekadar untuk prestise.

Berbagai laporan internasional menunjukkan, emisi mobil listrik dapat lebih besar dari mobil berbahan bakar minyak jika listriknya diperoleh dari PLTU batu bara.

Emisinya, yang ternyata mematikan, tentu tidak dibuang di Jakarta, tapi di kampung-kampung di sekitar PLTU. Seperti di kampung Sarjani di Indramayu.

Kematian pun datang dengan penuh rima di kampung-kampung ini. Dari debu, kembali ke debu, oleh debu PLTU. (*)

Tags : polusi udara, faktor risiko kesehatan lingkungan, kesehatan lingkungan penting, lingkungan berkontribusi terhadap penyakit pernapasan dan kardiovaskular,