Bisnis   2026/02/24 13:16 WIB

Program Biodiesel Telah Memasuki Dua Dekade yang Hasilkan 15 Juta Kiloliter Sepanjang 2025

Program Biodiesel Telah Memasuki Dua Dekade yang Hasilkan 15 Juta Kiloliter Sepanjang 2025

JAKARTA - Program biodiesel berbasis sawit di Indonesia telah memasuki dua dekade lebih. Pemanfaatan energi baru terbarukan ini telah memberikan banyak kontribusi dari aspek ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan.

Penggunaan biodiesel yang awalnya 1 juta kiloliter pada 2009 lalu meningkat signifikan menjadi 15 juta kiloliter sepanjang 2025.

Sepanjang 2015–2025 program biodiesel telah menghemat devisa negara hingga Rp720 triliun dan menurunkan emisi sekitar 228 juta ton CO₂. Artinya, capaian tersebut menegaskan bahwa sawit tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga memberi manfaat lingkungan.

Untuk membahas kinerja dan kemajuan biodiesel, Majalah Sawit Indonesia didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan mengadakan Workshop Program Jurnalis Biodiesel 2026 terdiri dari dua sesi yang menghadirkan pembicara  yaitu Dr. Fadhil Hasan (Anggota Dewan Energi Nasional), Ernest Gunawan (Sekjen APROBI), Herbert Wibert Victor (Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi, Direktorat Bioenergi Kementerian ESDM RI), Mochamad Husni (Pengurus Bidang Komunikasi Media GAPKI), Ahmad Zuhdi (BPDP), Dr. Gusti Gultom (Dosen IPOSS), dan Dimas Pamungkas (Kepala Divisi Riset IPOSS).

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Fadhil Hasan, menegaskan biodiesel kini menjadi bagian penting kebijakan energi lintas sektor.

Saat ini, pemerintah telah menerbitkan Kebijakan Energi Nasional terbaru melalui PP No. 40 Tahun 2025 sebagai pengganti aturan lama.

Sepanjang tahun lalu, realisasi biodiesel tercatat 14,2 juta kiloliter dan berhasil mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter.

Capaian tersebut dinilai memberi kontribusi langsung terhadap indeks ketahanan energi nasional.

Dari sisi teknis, Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi, Direktorat Bioenergi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM Herbert Wibert Victor menjelaskan bahwa biodiesel didistribusikan melalui skema pencampuran wajib (blending) di terminal sebelum disalurkan ke SPBU dan industri.

Untuk 2026, kapasitas terpasang industri biodiesel mencapai 22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sekitar 16,5 juta kiloliter.

Realisasi 2025 sendiri telah mencapai hampir 15 juta kiloliter atau sekitar 96 persen dari target.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal APROBI, Ernest Gunawan, menyebut Indonesia kini menjadi salah satu pelaksana program biodiesel terbesar di dunia.

Menurutnya, banyak negara menjadikan Indonesia sebagai rujukan karena sukses menjalankan mandat campuran hingga B40 secara nasional.

Dari data APROBI, program B40 saja telah melibatkan sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp140 triliun pada 2025.

Dari BPDP, Ahmad Zuhdi mengatakan lembaganya tak hanya mendukung insentif biodiesel, tetapi juga pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat.

Untuk program biodiesel sendiri, BPDP menanggung selisih harga antara solar dan biodiesel sebagai insentif.

Hingga akhir 2025, dukungan untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun. (*)

Tags : program biodiesel, dua dekade program biodiesel, program biodiesel hasilkan 15 juta kiloliter sepanjang 2025,