IBRAHIM BIN ADHAM si penguasah Balkh sebut istana hanya tempat singgah orang mati. Ia pernah memiliki segalanya: tahta yang kokoh, kekuasaan yang absolut, dan kemegahan seorang raja yang dikagumi dunia.
Namun, dalam sejarah agung tasawuf, hidayah tidak selalu datang melalui riuh rendah mimbar atau tumpukan kitab; ia sering kali hadir lewat kegelisahan yang lirih, suara-suara gaib di keheningan malam, dan pertanyaan tajam yang mengoyak dinding hati.
Begitulah awal mula "kematian" ego seorang raja dari Balkh, yang kelak lahir kembali sebagai sufi besar yang cahayanya abadi hingga hari ini.
Ibrahim bin Adham pada mulanya adalah penguasa Balkh yang hidup dalam balutan kemewahan tiada tara.
Setiap jengkal langkahnya dikawal oleh 40 pedang emas dan 40 tongkat kebesaran emas yang berkilau di depan dan di belakangnya. Namun, di balik tirai sutra itu, Allah telah menyiapkan skenario kerinduan untuk memanggil hamba-Nya pulang ke pelukan hakiki melalui sebuah teguran yang tak terduga.
Pada suatu malam yang sunyi, ketika ia terlelap di kedalaman istananya, langit-langit kamar berderik-derik seolah ada sosok yang sedang melintas di atas atap.
Ibrahim tersentak, rasa amarahnya sebagai penguasa bangkit. Ia berseru dengan nada tinggi, “Siapakah itu yang berani mengganggu tidurku?!”
“Aku seorang sahabat,” sahut suara misterius dari atas atap. “Untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap istanamu ini.”
“Bodoh! Mana mungkin engkau mencari unta di atas atap yang keras dan tinggi ini?” ejek Ibrahim kepada sosok yang dianggapnya tak waras tersebut.
Namun, jawaban dari atas atap itu justru menjadi pedang yang membelah hatinya: "Wahai manusia yang lalai, lantas apakah engkau berharap hendak mencari Allah di atas ranjang emas dengan mengenakan pakaian sutra yang megah?" Kata-kata itu bergetar hebat di sukma Ibrahim, menciptakan kegelisahan purba yang membuat matanya terjaga dan hatinya tak lagi bisa tenang hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya, Ibrahim duduk di singgasana dalam pertemuan agung, namun jiwanya sudah tertinggal di kegelapan malam. Para menteri dan hamba istana berbaris sesuai kasta, menjalankan ritual kekuasaan yang biasa.
Di tengah suasana formal itu, tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk tanpa permisi. Wajahnya sedemikian berwibawa sekaligus menggetarkan, hingga tak satu pun pengawal berani menghalangi langkahnya.
Tanpa ragu, lelaki itu melangkah hingga tepat di depan singgasana raja. Ibrahim, yang berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya, bertanya, “Apa yang engkau inginkan di sini?”
Lelaki yang penuh misteri itu menjawab dengan tenang, “Aku baru saja sampai dan ingin beristirahat di persinggahan ini.”
Ibrahim menyahut geram, “Ini bukan persinggahan para kafilah! Ini adalah istanaku, tempat kediaman raja. Engkau pasti sudah gila jika menganggapnya sebagai tempat singgah.”
Lelaki itu justru bertanya balik, menembus lapisan waktu dalam ingatan Ibrahim, “Siapakah pemilik istana ini sebelum engkau bertakhta?” “Ayahku,” jawab Ibrahim singkat.
“Dan sebelum ayahmu?” tanya lelaki itu lagi. “Ayah dari kakekku,” balas Ibrahim.
“Dan sebelum dia?” cecar lelaki itu tanpa henti. “Kakek dari kakekku,” jawab Ibrahim, mulai merasakan getaran yang akrab.
Lelaki itu kemudian memberikan pukulan terakhir pada kesadaran sang raja, “Ke manakah mereka semua sekarang ini?” “Mereka telah tiada. Mereka semua telah mati,” jawab Ibrahim dengan suara yang mulai mengecil.
Lelaki itu pun berkata sembari beranjak pergi, “Jika demikian, bukankah tempat ini hanyalah sebuah persinggahan belaka, di mana seseorang masuk untuk sejenak, lalu pergi meninggalkan tempatnya bagi orang lain?” Setelah kalimat itu selesai, sosok itu menghilang secara ajaib dari pandangan.
Sebagaimana dikisahkan oleh penyair sufi Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, lelaki misterius yang mengguncang logika Ibrahim itu sesungguhnya adalah Nabi Khidir Alaihissalam. Pertemuan itu meninggalkan luka kerinduan yang mendalam; istana tak lagi terasa hangat, dan mahkota terasa semakin berat menindih kepalanya.
Kegelisahan Ibrahim kian memuncak, ia seolah dihantui oleh bayang-bayang kebenaran di siang hari dan suara-suara keruhanian di malam hari. Karena tak tahan dengan gejolak batinnya, ia berseru kepada pengawalnya, “Persiapkan kudaku! Aku hendak pergi berburu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada jiwaku belakangan ini. Ya Allah, kapankah semua kegundahan ini akan berakhir?”
Kuda dipacu kencang menembus padang pasir, seolah Ibrahim ingin lari dari dirinya sendiri. Dalam pelarian itu, ia terpisah dari rombongannya dan tiba-tiba sebuah seruan langit terdengar di telinganya, “Bangunlah!” Ibrahim memacu kudanya lebih kencang, mencoba mengabaikan suara yang menggedor nuraninya untuk kedua dan ketiga kalinya.
Hingga pada seruan keempat, suara itu mengguntur lebih keras, “Bangunlah, sebelum engkau kucambuk!” Ibrahim gemetar sehebat-hebatnya. Di depannya, terlihat seekor rusa yang hendak ia buru, namun secara mukjizat rusa itu berbicara, “Sesungguhnya, aku disuruh untuk memburumu. Engkau tak akan bisa menangkapku. Wahai Ibrahim, untuk inikah engkau diciptakan atau inikah yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu?”
Ibrahim memalingkan wajah dengan panik, namun pelana kudanya, jubahnya, hingga angin yang berhembus seolah menyuarakan kata-kata yang serupa.
Itulah saat di mana Allah SWT menyempurnakan janji-Nya untuk menarik kembali kekasih-Nya.
Keyakinan yang murni akhirnya menghujam jantung Ibrahim; ia turun dari kuda, bersujud di atas pasir, dan membiarkan air mata taubat membasahi seluruh jubah kencana dan debu gurun tersebut.
Saat menyimpang dari jalan raya, ia bertemu dengan seorang penggembala yang merupakan budaknya sendiri.
Tanpa ragu, sang raja mencopot jubah bersulam emas dan topi bertakhtakan permata miliknya, lalu menyerahkannya kepada sang budak beserta seluruh domba yang digembalakan.
Sebagai gantinya, Ibrahim meminta pakaian dan topi dari bulu domba yang kasar dan kusam milik si gembala.
Malaikat-malaikat di langit menyaksikan peristiwa itu dengan penuh kekaguman.
Putra Adam ini baru saja mencampakkan pakaian keduniawian yang dianggapnya kotor oleh nafsu, lalu menggantinya dengan "jubah kefakiran" yang jauh lebih megah karena dihiasi dengan permata keikhlasan.
Inilah puncak pertobatan, saat seseorang berani menukar kepemilikan dunia yang semu dengan kehadiran Sang Pemilik yang hakiki.
Dengan langkah kaki yang ringan namun penuh wibawa spiritual, Ibrahim berkelana melewati gunung-gunung dan padang pasir luas menuju Merv.
Setiap langkahnya bukan lagi tentang perluasan wilayah, melainkan perjalanan masuk ke dalam diri, meratapi dosa masa lalu sembari menikmati kemanisan zikir yang belum pernah ia rasakan di atas singgasana emas.
Demikianlah kisah agung kembalinya Ibrahim bin Adham ke jalan cahaya setelah melalui nasihat unik Nabi Khidir Alaihissalam.
Tobatnya bukan hanya soal berhentinya perbuatan dosa, melainkan berpindahnya hati dari mencintai makhluk menuju cinta yang fana pada Sang Khaliq.
Hingga hari ini, jejak langkah sang sufi raja tetap menjadi oase bagi jiwa-jiwa yang haus akan ketenangan batin dan kenikmatan sejati dalam dekapan Ilahi.
Tags : balkh, ibrahim bin adham, kisah sufi, tadzkiratul auliya, tasawuf,