
AMINA ELZAANIN menyimpan rindu yang teramat dalam. Nyaris setiap hari selama hampir sebulan berpuasa, perempuan Palestina ini menghabiskan sahur dan berbuka puasa seorang diri di kamar kosnya di Jakarta.
Di atas meja makan mungil kamar kosnya, sudah terhidang seporsi Fattah Ghazawi—makanan khas Gaza berupa nasi dari beras basmati dengan rempah ditumpuk daging dan kacang-kacangan, serta taburan daun parsley—yang dia masak sendiri.
Saat masih di Gaza, menu ini adalah favorit keluarganya, terutama saat berbuka. Sambil bercanda dan bertukar cerita, semua berkumpul dan menikmati Fattah bersama.
Amina sudah lima tahun ini berada di Indonesia untuk menyelesaikan pendidikan. Artinya, sudah beberapa kali dia merasakan Ramadan sendirian dan jauh dari rumah.
Tapi tahun ini, dengan perang yang terus berkecamuk di Gaza, sepinya bulan puasa terasa menggigit.
Pikirannya tak bisa lepas dari Beit Hanoun—kampung halamannya—sebuah kota di timur laut Jalur Gaza. Di sana, orang tua dan sejumlah kerabatnya tinggal.
"Kadang ketika berbuka, saya menangis sambil berdoa supaya kelak keluarga kami bisa berkumpul kembali," kata Amina kepada BBC News Indonesia, awal Maret lalu.
Serangan Israel pada Oktober 2023 lalu menghancurkan Beit Hanoun.
Beberapa pekan setelah kejadian itu, Amina mengaku tak tenang. Terlebih, kata dia, saat itu dia tak bisa menghubungi satu pun keluarganya.
"Saya tidak tahu apakah keluarga saya masih hidup atau tidak," ujarnya. "Setiap kali tidur, saya selalu terbangun, bermimpi kehilangan keluarga saya."
Belakangan, ia mengetahui beberapa sepupunya tewas akibat serangan Israel. Namun ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya selamat.
"Kalau saya bisa bertemu mereka, saya tidak akan pernah lepaskan mereka lagi," mata perempuan 31 tahun ini berkaca-kaca.
Kini, sambil menunggu waktu berbuka puasa, Amina hanya bisa menatap hidangan Fattah Ghazawi di hadapannya.
Makanan ini menjadi satu-satunya pengingat masa bahagia bersama keluarganya—kenangan yang dia tak tahu kapan bisa terulang kembali.
'Jangan pulang, tak ada lagi kehidupan'
Amina pertama kali tiba di Indonesia pada 2019, setelah menerima beasiswa S2 Ilmu Manajemen dari Universitas Lampung.
Lulus pada 2021, dia kembali menerima beasiswa di bidang studi sama pada 2023, kali ini dari Universitas Airlangga untuk program S3.
Jeda perkuliahan mengizinkan Amina pulang sejenak ke Palestina pada September 2023, hanya beberapa pekan sebelum perang terbaru pecah.
Dia masih ingat memandang hamparan pohon buah dan sayur di ladang milik keluarganya dari loteng rumahnya yang teduh, sembari memetik anggur hijau ranum langsung dari pohonnya yang merambat di atap kanopi.
"Beit Hanoun itu cantik sekali. Kota yang subur akan buah-buahan, jeruk dan lemon," kata Amina.
Dia tak menyangka, momen itu bisa jadi terakhir kali dia menginjakkan kaki di kampung halamannya.
Tepat dua pekan setelah itu, saat Amina sudah kembali ke Indonesia, banyak wilayah Gaza hancur karena serangan udara Israel.
Amina hanya bisa mengikuti perkembangan dari pemberitaan. Ia mencoba menghubungi keluarganya, tapi selalu gagal.
Empat bulan kemudian, dengan bantuan kerabat yang selamat, Amina berhasil berbicara dengan ayahnya melalui sambungan telepon meski terputus-putus.
"Baba bercerita dia menjadi relawan untuk mengemudikan ambulans," kata dia. 'Baba' adalah panggilan Amina untuk ayahnya.
Saat itu, ibu dan kakaknya terpisah dari sang ayah. Tak ada yang tahu di mana mereka, masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Sementara itu, tujuh sepupunya tewas dalam serangan Israel.
Jika sinyal sedang bagus, ayah dan kerabatnya yang lain bisa mengirim foto dan video kondisi mereka di Gaza.
Dalam salah satu video yang dikirimkan, tampak rumahnya yang berjarak sekitar dua kilometer dari perbatasan Palestina dan Israel, luluh lantak.
Tidak hanya rumahnya, nyaris seluruh kota rata dengan tanah. Tidak ada lagi Beit Hanoun yang hijau seperti dalam memori Amina.
"Tidak ada satu bangunan pun yang utuh berdiri," ungkap Amina.
Beberapa bulan setelahnya, Amina menerima kabar Baba terkena stroke. Jika Rafah dibuka kembali di masa gencatan senjata, Amina bertekad pulang.
"Saya ingin ke Gaza, ingin merawat Baba," dia menyampaikan niatnya kepada sang ayah. Tapi, lanjutnya, Baba melarang.
"Katanya, di Gaza sudah tidak ada lagi kehidupan. Semuanya sudah hancur."
Terbaru, Israel melakukan "serangan besar-besaran" ke Jalur Gaza pada 18 Maret 2025. Laporan Reuters menyebut Gaza tengah, Kota Gaza, Khan Younis dan Rafah menjadi target.
Per Rabu (19/03), lebih dari 400 orang dilaporkan meninggal dunia dalam serangan itu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Ini merupakan gelombang serangan udara terbesar ke Gaza setelah gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari lalu. Hingga sekarang, pembicaraan untuk memperpanjang masa gencatan senjata gagal mencapai kesepakatan.
Satu kilo ayam Rp207 ribu
Gencatan senjata pada pertengahan Januari lalu memungkinkan warga Gaza mencari keluarga mereka yang terpisah-pisah.
Kakak Amina, yang dia kira sudah meninggal dunia, akhirnya bisa berkumpul dengan ibunya di sebuah kamp pengungsian di Gaza Utara.
Sementara, ayahnya kini berada di kamp pengungsian lain di Kota Gaza.
Sinyal yang tak stabil membuat Amina tak bisa setiap saat berbicara dengan keluarganya melalui telepon.
Jika sedang beruntung, dalam sebulan dia bisa terkoneksi hingga tiga atau empat kali, selebihnya tak ada nada sambung.
Seperti di siang hari pada 6 Maret lalu. Dua kali dia menekan nomor Baba dan ibunya di ponsel, tapi tak tersambung. Setelah beberapa kali mencoba, Amina berhasil menelepon kakaknya.
"Apa ada bahan makanan yang bisa masuk ke Gaza dan kalian bisa beli?" dia bertanya.
"Semua harga mahal. Satu kilogram ayam harganya 45 shekel [senilai Rp207.000]," suara sang kakak terdengar datar dan tenang.
Sepekan ini pintu masuk bantuan sudah ditutup, kata sang kakak. Belum ada lima menit berbincang, sambungan hilang dan telepon terputus.
Gencatan senjata tahap pertama yang dimulai pada 19 Januari 2025 telah berakhir pada 1 Maret lalu.
Sehari setelahnya, Israel menutup bantuan masuk ke wilayah Gaza, menyebabkan stok bahan makanan sedikit dan harganya melambung.
Amina berkata, harga barang-barang di Gaza naik hingga tiga kali lipat selama setahun terakhir.
Dari Indonesia, Amina mengaku sebisa mungkin membantu mengirim uang untuk biaya hidup keluarganya di Gaza.
Bersama jejaring warga Palestina yang mengungsi di Turki dan Mesir, dia memasarkan pakaian berrmotif sulam khas Palestina yang disebut tatreez ke Indonesia.
"Para ibu Palestina di Turki dan Mesir yang membuatnya, lalu dikirim ke Indonesia. Hanya beberapa helai, karena pengerjaannya membutuhkan waktu berbulan-bulan," tutur Amina.
Tak jauh dari kampung halaman Amina, tepatnya di Beit Lahiya, Marissa Noriti, 42 tahun, melepas lelah di Wisma Dokter Joserizal Jurnalis.
Bangunan yang terletak dekat dengan Rumah Sakit Indonesia di Gaza ini menjadi tempat istirahat para relawan, termasuk Marissa yang menjadi bagian dari tim MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) asal Indonesia.
Dinding bangunan itu ditambal semen sana-sini, menutup bekas lubang peluru tentara Israel. Plafon wisma itu jebol, tapi bangunannya relatif masih utuh dan layak ditempati.
Ini merupakan Ramadan kedua Marissa di Gaza.
Tahun lalu, Marissa bertugas di Rafah—perbatasan Jalur Gaza dengan Mesir—dalam situasi yang disebutnya "sangat panas".
"Pada malam hari, sering terjadi serangan Israel. Warga Gaza bahkan tidak bisa sekadar berkumpul untuk salat berjamaah," dia mengenang.
Di awal Ramadan ini, sebelum serangan terbaru Israel pada 18 Maret, Marissa mengatakan situasi membaik dibandingkan tahun lalu.
"Setidaknya, kami bisa berbuka puasa dan salat tarawih bersama di masjid," ujarnya kepada BBC News Indonesia saat berbincang melalui telepon pada 11 Maret lalu.
Warga juga mulai kembali ke reruntuhan bangunan rumah mereka, atau tinggal di tenda-tenda dan berkumpul dengan keluarga mereka yang masih hidup.
Dua kali menjalani Ramadan di Gaza, Marissa mengaku kenangan menjalani ibadah puasa di Indonesia bersama keluarganya selalu berkelebat.
Namun setiap kali pula, wejangan dari ibunya untuk "membantu saudara kita di Gaza" menguatkannya.
"Bagi saya, menjalani Ramadan di Gaza merupakan bentuk pengabdian saya kepada orang tua," tutur Marissa.
Dari Beit Lahiya, dia memandang gemerlap lampu yang begitu terang dari Israel—sangat kontras dengan malam Gaza yang gelap gulita. Marissa terdiam sejenak.
"Kadang kita tidak bisa berdamai dengan situasi, mempertanyakan mengapa semua ini terjadi [di Gaza]. Tapi akhirnya saya bisa memposisikan diri sebagai manusia yang penuh keterbatasan, dan Allah SWT yang punya kuasa."
BBC News Indonesia berbincang lagi dengan Marissa pada Selasa (18/03) petang, beberapa jam setelah serangan Israel.
Marissa menuturkan, sekitar pukul 02.00 waktu Gaza, ketika dia bersama rekan-rekannya menyiapkan sahur, puluhan dentuman menggetarkan dinding bangunan tempatnya berlindung.
"Kami hanya sempat sahur air putih, lalu bergegas ke Rumah Sakit Indonesia," ungkap Marissa.
Rumah sakit yang masih dalam perbaikan itu dipenuhi warga. Ambulans berdatangan, membawa orang-orang yang terluka dan meninggal dunia.
Dalam dua jam, Rumah Sakit Indonesia menerima 18 jenazah dan merawat 59 pasien luka-luka, kata Marissa.
Marissa berharap ada tekanan dunia internasional supaya serangan tidak meningkat dan Israel kembali pada perjanjian gencatan senjata.
"Kami di sini meminta doa dari keluarga dan masyarakat Indonesia agar bisa terus membantu warga Gaza, Palestina," ujarnya.
'Walau hancur, ini rumah saya'
Seperti kisah Marissa, pada Selasa (18/03) dini hari kemarin, sebagian besar warga Gaza tengah menyantap sahur ketika suara ledakan tiba-tiba terdengar.
Lebih dari 20 pesawat perang Israel terbang di langit Gaza, memuntahkan tembakan dalam serangan udara. Mereka menuntut Hamas "melepaskan semua sandera" Israel.
Hamas menuduh Israel berkhianat karena membatalkan kesepakatan gencatan senjata, dan meminta para mediator serta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menengahi.
Dari Indonesia, Amina hanya bisa mengikuti perkembangan terbaru melalui berita, sambil menanti kabar dari ayah, ibu, atau kakaknya.
Hingga Rabu (19/03) siang, Amina masih belum bisa menghubungi satu pun keluarganya.
Dia pun tak bisa membayangkan, kerusakan seperti apa yang harus ditanggung Gaza setelah serangan terbaru ini nantinya.
Per awal Maret ini saja, PBB memperkirakan lebih dari 60% rumah—sekitar 292.000 bangunan—dan 65% jalanan Gaza telah hancur.
Untuk membersihkan lebih dari 50 juta ton reruntuhan bangunan di Gaza, PBB memperkirakan butuh waktu 21 tahun dengan biaya hingga $1,2 miliar atau senilai lebih dari Rp19 triliun.
Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), dampak perang telah menyebabkan kemunduran pembangunan di Gaza, setara dengan 69 tahun ke belakang.
Meski begitu, semangat Amina untuk pulang ke Beit Hanoun tak pernah surut.
"Walau hidup susah di Gaza, saya mau lihat rumah saya yang hancur. Saya mau tempati kembali bersama keluarga," ungkapnya.
Selama lima tahun tinggal di Indonesia, Amina mengaku diperlakukan dengan baik oleh semua orang di sini sehingga dia betah.
Tapi, bagaimana pun juga, Indonesia bukanlah tanah airnya.
"Di sini saya tamu. Saya tidak bisa menanam pohon, karena ini bukan tanah saya," ujarnya.
"Di Gaza, saya bisa kembali menanam pohon. Membantu Baba, memulai kehidupan dari nol". (*)
Tags : Amina Elzaanin, Perempuan Palestina, Ramadan 2025, Amina Elzaanin Rindukan Gaza, Palestina,