MOMENTUM refleksi bagi umat Islam untuk mulai bersiap menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah atau Ramadan 2026.
Selain sebagai bulan ibadah, Ramadan juga menjadi waktu penting untuk pembenahan spiritual dan sosial.
Berdasarkan kalender resmi terbitan Kementerian Agama (Kemenag) RI, awal Ramadan 2026 diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 mendatang.
Jika dihitung sejak hari ini, Rabu, 24 Desember 2025, maka Ramadan akan tiba dalam waktu sekitar 57 hari lagi.
Meski demikian, penetapan resmi awal puasa Ramadan 2026 oleh pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat yang digelar Kemenag RI pada akhir bulan Syaban.
Sidang tersebut menggunakan metode hisab dan rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan di Indonesia.
Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal Ramadan 2026.
Melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Dengan demikian, jika dihitung mundur dari 24 Desember 2025, Ramadan versi Muhammadiyah tinggal 56 hari lagi.
Penetapan tersebut dilakukan menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal serta mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pedoman Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan hijriah.
Adapun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga kini belum menetapkan tanggal awal Ramadan 2026, karena tetap berpegang pada metode Hisab Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), sehingga keputusan awal puasa baru akan ditetapkan setelah dilakukan rukyatul hilal pada akhir bulan Syaban.
Menjelang datangnya bulan suci, umat Islam dianjurkan mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual.
Dalam buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadan karya Abu Maryam Kautsar Amru, dijelaskan sejumlah amalan penting sebagai bekal menyambut Ramadan.
Pertama, membayar utang puasa. Ini merupakan kewajiban utama, terutama bagi perempuan yang meninggalkan puasa karena haid. Bulan Syaban disebut sebagai batas akhir pelunasan utang puasa sebelum Ramadan tiba.
Kedua, memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah banyak berpuasa di bulan Syaban, bahkan hampir sebulan penuh.
Ketiga, memperbanyak membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, sehingga latihan membaca sejak sebelum Ramadan sangat dianjurkan.
Keempat, mempelajari ilmu tentang puasa Ramadan, mulai dari hukum, tata cara, hingga hal-hal yang membatalkan dan mengurangi pahala puasa. Pemahaman ini penting agar ibadah berjalan sesuai tuntunan syariat.
Kelima, berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan. Para ulama salaf mencontohkan kebiasaan berdoa selama enam bulan agar dipertemukan kembali dengan Ramadan, lalu berdoa selama lima bulan berikutnya agar amal ibadah diterima Allah.
Dengan waktu yang tersisa sekitar dua bulan, umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan masa persiapan ini sebaik mungkin agar dapat menyambut Ramadan 2026 dengan kesiapan iman, ilmu, dan amal.
Tags : ramadan, 2026, bulan ramadhan, momentum refleksi, umat islam,