Kesehatan   2026/03/04 16:11 WIB

Ramadhan Momen Tepat Kurangi Gula, Garam, dan Lemak

Ramadhan Momen Tepat Kurangi Gula, Garam, dan Lemak

BULAN SUCIRAMADHAN dinilai menjadi momentum terbaik bagi bagi umat Islam untuk menerapkan pola hidup lebih sehat. Sebagian besar masyarakat dinilai masih sangat bergantung pada gula.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadhan untuk mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak.

"Saya merasa Ramadhan ini waktu yang tepat buat kita untuk mulai mengurangi kadar gula, garam. Karena mengubah kebiasaan itu tidak mudah, dan mungkin kalau di hari biasa akan terasa sulit," kata Nadia dalam diskusi media memperingati Hari Diabetes Sedunia di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Bulan suci Ramadhan dinilai menjadi momentum terbaik bagi bagi umat Islam untuk menerapkan pola hidup lebih sehat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadhan untuk mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak.

"Saya merasa Ramadhan ini waktu yang tepat buat kita untuk mulai mengurangi kadar gula, garam. Karena mengubah kebiasaan itu tidak mudah, dan mungkin kalau di hari biasa akan terasa sulit," kata Nadia dalam diskusi media memperingati Hari Diabetes Sedunia di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

"Kebanyakan mereka itu nggak sadar bahwa gula yang dikonsumsinya sudah sangat tinggi. Ini kalau tidak diubah bisa picu obesitas," kata Nadia.

Hal serupa terjadi pada konsumsi garam dan lemak. Menurut Nadia, banyak orang yang kerap menambahkan garam sendiri saat makan di restoran karena merasa makanan kurang gurih. Padahal, kebiasaan menambahkan garam di meja makan sebenarnya tidak baik untuk kesehatan.

"Kalau kita makan di restoran atau rumah makan, banyak loh yang suka nambahin garem lagi karena kurang gurih. Padahal chef-nya udah menakar agar garamnya tidak terlalu tinggi, ini kan lama-lama tidak baik buat kesehatan," kata Nadia.

Nadia menilai Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mulai mengurangi asupan gula, garam, dan lemak secara bertahap. Misalnya, jika biasanya mengonsumsi satu sendok teh gula dalam teh, selama Ramadhan bisa dikurangí menjadi seperempat sendok.

Setelah sebulan, lidah akan terbiasa dengan rasa yang lebih ringan dan justru merasa terlalu manis jika kembali ke takaran awal. "Puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga melatih diri. Mumpung lagi Ramadan, kita pakai kesempatan ini untuk mengurangi gula, garam, dan lemak yang jahat seperti gorengan gitu ya," kata dia.

Obesitas kian meningkat

Dia juga menyinggung persoalan obesitas yang kian meningkat. Berdasarkan data Cek Kesehatan Gratis pada Februari-Desember 2025, sebanyak 33,7 juta jiwa melakukan skrining Indeks Massa Tubuh (IMT). Dari jumlah tersebut 4 juta di antaranya dinyatakan obesitas dan 3,5 juta lainnya tergolong berat badan berlebih. Sementara itu, dari 34,1 juta yang melakukan skrining lingkar perut; 8,1 juta di antaranya masuk kategori obesitas sentral (buncit).

Menurutnya, tidak ada cara instan untuk menurunkan berat badan selain dengan membatasi pola konsumsi dan disiplin menjaga asupan makanan. Nadia juga mengajak masyarakat untuk tetap aktif secara fisik meskipun sedang berpuasa.

"Selain kurangi gula, garam, lemak, aktivitas fisiknya juga penting. Nggak perlu yang berat-berat, perbanyak jalan kaki aja atau naik turun tangga," kata Nadia. 

Nadia mengatakan data tersebut menunjukkan tingginya angka obesitas atau berat badan berlebih di masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena obesitas merupakan mother of disease atau induk dari berbagai penyakit.

"Ini jumlah yang sangat banyak loh. Bayangkan jika 7 juta itu mereka terkena penyakit jantung, strok, dan sebagainya. Itu akan jadi beban keluarga, beban ekonomi yang luar biasa," kata Nadia. 

Menurut Nadia, obesitas secara signifikan meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. la memaparkan bahwa individu dengan obesitas memiliki risiko lebih besar terkena stroke, penyakit jantung iskemik, depresi berat, hipertensi, diabetes, osteoartritis lutut, perlemakan hati, serta gejala maag atau gerd.

la menegaskan, obesitas tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental serta kualitas hidup. Individu obesitas lebih berisiko alami gangguan tidur. Pada perempuan, obesitas dapat memicu PCOS yang berujung pada gangguan kesuburan atau infertilitas.

"Dan ini kalau perempuan nih, obesitas itu salah satu pemicu PCOS, kondisi dimana seseoran sulit untuk hamil atau terjadi infertilitas. Makanya saat program hamil biasanya yang dikedepankan juga berat badan ideal," kata Nadia. 

Nadia menilai kesadaran masyarakat mengenai gaya hidup sehat mulai meningkat, terutama pada kelompok dengan status sosial ekonomi tertentu. Namun demikian, menurut dia, masih terdapat tantangan besar terutama di lingkungan yang mendukung perilaku obesitas atau disebut lingkungan obesogenik.

"Lingkungan obesogenik apalagi nih anak muda zaman sekarang itu apa-apa dimanjain kan, makan tinggal pesen jadi mager, makannya kurang sehat karena lihat apa yang viral di TikTok. Jadi akhirnya memicu obesitas," kata dia.

la menekankan pentingnya perubahan pola makan dan gaya hidup sehat sebagai langkah utama pencegahan. Salah satu pedoman yang dianjurkan adalah mengikuti prinsip "Isi Piringku" yang telah disosialisasikan Kementerian Kesehatan.

"Melakukan edukasi dan membangun kesadaran gaya hidup sehat, tidak obesitas, itu tugas bersama. Kami di Kemenkes tidak bisa bekerja sendiri, perlu dukungan dari banyak pihak, pihak industri dan masyarakat semua," kata Nadia. 

Tags : ramadhan, pola hidup sehat, gula, garam, lemak, obesitas, kesehatan, kebiasaan makan, diet sehat, pencegahan penyakit, ramadhan 2026,